Selasa, 12 Agustus 2008

IDENTITAS BARU DI DALAM KRISTUS

”Identitas Baru Di Dalam Kristus”

(Efesus 2: 8-9)

Seorang narapidana (terhukum) terkejut saat tahu raja memberikan pembebasan kepadanya. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi. Semua, serasa bagaikan sebuah mimpi. Bagaimana mungkin dia yang seharusnya mengalami siksaan, mendekam di teruji besi (penjara), bahkan mati akibat kesalahannya, diberi kesempatan hidup oleh raja.

Hal yang sama, sebenarnya juga dialami oleh orang percaya. Pelanggaran-pelanggaran kita yang tak terukur seharusnya membawa kita pada kematian (Rom. 6:23), namun raja ”yang mulia” yakni Kristus telah membayar lunas dengan harga yang mahal untuk semua kesalahan kita. Bahkan hal terindah bagi kita ketika Ia mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya yang kekasih, menjadi ahli waris kerajaan-Nya.

Ketika kita diselamatkan dan berubah menjadi anak-anak Allah, sesungguhnya kita menyandang/memiliki identitas baru di dalam Dia. Bahkan Alkitab tegas berkata ”sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman: itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah (ay. 8).” Kita mendapatkan semuanya itu, bukan karena kebaikan atau sikap hidup kita melainkan kasih karunia-Nya.

Berbahagialah kita yang telah dipilih, diselamatkan, diangkat menjadi anak-anak-Nya bahkan diberi identitas baru di dalam Dia. Tidak ada orang yang dapat mengubah bahkan merebut identitas baru kita di dalam Kristus. Jangan pernah sia-siakan identitas baru kita yang kita miliki di dalam Dia, karena inilah yang menghidupkan kita dari kematian kekal.

Pokok Renungan:

  • Semua orang pada dasarnya adalah bersalah dimata TUHAN dan seharusnya menerima hukuman
  • Dalam kasih karunia-Nya kita diberikan identitas baru yakni mereka yang percaya kepada-Nya
  • Identitas baru sebagai anak Allah kita dapat bukan karena perbuatan baik atau usaha kita melainkan pemberian Allah

Pertanyaan Renungan:

· Apakah anda merasa bahwa anda layak menerima identitas baru sebagai ”anak-anak Allah” di dalam Kristus? Apa yang membuat anda merasa layak? Dan apa pula yang membuat anda merasa tidak layak?

· Sudahkah anda merasa memiliki identitas baru sebagai ”anak-anak Allah” di dalam Kristus?

Doa:

Bapa, aku bukanlah orang yang layak untuk Kau jadikan anak-Mu, namun Kau telah melayakkanku karena kasih karunia-MU. Aku malu dengan hidupku, masa laluku dan dosaku dan aku mau berubah. Aku mau hidup dan menerima identitas baru yang Kau berikan. Terimakasih untuk kasih-Mu Bapa. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

MENIKMATI HIDUP SAAT INI

”MENIKMATI HIDUP SAAT INI”

(Maz. 34:13-15)

Banyak orang dimanjakan dengan impian. Apalagi tak jarang impian selalu dikaitkan dengan salah satu jalan menuju keberhasilan hidup. Namun, berapa banyak orang yang tidak menyadari bahwa kesuksesan bukan terletak pada seringnya orang bermimpi. Tetapi keyakinan untuk menangkap, mengimani dan bekerja keras mengejar impian itulah yang penting.

Tuhan tidak pernah mengajarkan kepada kita orang percaya untuk menjadi manja dengan tanpa berusaha dalam meraih kesuksesan hidup. Sama halnya dalam menikmati hidup ini, perlu sebuah usaha. Karena banyak orang yang tidak menyukai hidup, tidak mengingini umur panjang dan menikmati hal yang baik (ay. 13).

Pertama, hidup harus bijaksana dalam menggunakan perkataan

Sebagai orang percaya kita harus berkata benar: ditempat satu berkata benar ditempat lain juga sama. Disamping itu, belajarlah untuk memperkatakan/menyinggung kebenaran karena banyak anak Tuhan takut dalam memperkatakan kebenaran.

Tidak hanya itu, banyak juga hamba Tuhan yang terlalu diam dan segan memperkatakan kebenaran. Gereja menjadi sarang kemunafikan - dipenuhi orang-orang yang diam dengan membiarkan kemerosotan moral terjadi. Kalau bukan dari mimbar jemaat akan dengar kebenaran dari mana?

Kedua, hidup harus menjauhkan diri dari yang jahat dan melakukan yang baik

Hidup harus seimbang: menjauhkan diri dari yang jahat tetapi juga melakukan yang baik. Baik dan jahat seperti dua sisi mata uang. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Dosa adalah ketika kita melakukan yang jahat dan juga ketika tahu yang benar tetapi tidak melakukannya. Kegagalan melakukan hal yang baik berarti ketidakmampuan menerapkan kebenaran-Nya.

Ketiga, hidup harus dalam perdamaian

Berdamai dengan Allah. Berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan sesama. Banyak orang yang gampang cari musuh. Oleh karena itu sebagai orang percaya belajarlah untuk hidup dalam perdamaian. Maka seperti firman Tuhan anda akan menikmati hal yang baik dari hidup ini.

MENJADI KUAT DI DALAM DIA

”Menjadi Kuat Di Dalam Dia”

(Efesus 6: 10-20)

Ada banyak cara dilakukan manusia agar menjadi kuat. Mereka rela berkorban baik waktu, tenaga maupun uang. Semua dilakukan demi mendapatkan tubuh yang kuat. Namun sayang, pengejaran mereka terhadap pribadi yang kuat hanya sebatas kuat secara fisik dan bukan secara rohani.

Hal ini jelas berbeda dengan Alkitab yang menawarkan menjadi kuat secara rohani dengan cara yang tepat dan patut ditiru. Alkitab menjelaskan bahwa menjadi kuat itu pasti apabila di dalam Tuhan dan oleh kekuatan kuasa-Nya (ay. 1). Pertanyaannya adalah bagaimana menjadi kuat di dalam Tuhan?

Pertama, mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (ay. 11-17). Hal ini patut dicermati ”seluruh” dan bukan ”sebagian” dari perlengkapan senjata Allah. Tujuannya adalah supaya dapat bertahan terhadap tipu muslihat iblis (ay 11), karena adanya musuh yang harus kita lawan (ay. 12), dan tetap dapat berdiri saat melawan Iblis (ay. 13). Jangan lalai dalam mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah.

Kedua, tetap tekun di dalam doa (ay. 18). Alkitab meminta dengan tegas agar kita orang percaya berdoa ”setiap waktu” di dalam Roh dan terus berjaga-jaga. Sebagai orang percaya jangan pernah lengah dalam menilai situasi. Tetap waspada dan hati-hati dalam hidup ini karena Iblis berusaha membuat anda lengah, tidak sampai pada kehendak-Nya dan akhirnya membawa anda pada pilihan untuk berbuat dosa. Berapa banyak suami/istri tidak hati-hati/waspada akhirnya terjerumus dalam perselingkuhan/ perzinahan. Tahukah anda, karena tidak waspada banyak anak-anak/pemuda terlibat minuman keras, pergaulan bebas bahkan hidup bersama tanpa ikatan nikah.

GIDI:TIDAK ADA GAJI BERKAT TIAP HARI

”GIDI: TIDAK ADA GAJI BERKAT TIAP HARI”

(suatu refleksi serta kontemplasi diri terhadap panggilan Tuhan)

Oleh: Ev. Chornelius Sutriyono, S.Th*


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah gaji dapat dimaknai sbb; pertama, upah kerja yang dibayar diwaktu yang tetap; kedua, balas jasa yang diterima pekerja dalam bentuk uang berdasarkan waktu tertentu ”bulanan.” Dari definisi ini maka dapat ditarik pengertian bahwa gaji itu bersifat tetap (konstan). Keterlambatan bahkan pengabaian terhadap hal ini berarti pelanggaran terhadap hak pekerja. Disamping itu, jika berbicara gaji selalu berhubungan dengan uang.

Apabila hal ini dikaitkan dalam konteks pelayanan maka banyak organisasi Kristen (gereja) bahkan juga Hamba Tuhan terlalu sulit menerima istilah ini. Lebih halusnya, biasa mereka memakai istilah ”persembahan kasih,” ”persembahan bulanan,” ”kewajiban gereja,” ”berkat,” dll. Pertanyaan penting disini adalah apakah Hamba Tuhan perlu digaji? Sebagai wujud ucapan terima kasih dan penghargaan wajibkah diberlakukan gaji dalam gereja?

”GIDI: tidak ada gaji berkat tiap hari” adalah sebuah pernyataan iman. Meskipun secara universal pernyataan ini kurang tepat, karena bersifat generalisasi (umum) dan kebenarannya ada banyak hamba Tuhan yang di gaji. Namun dalam tulisan ini kita tidak sedang mempersoalkan hal ini tetapi mencari keselarasan pemahaman akan orientasi sebuah pelayanan. Ada dan tidak ada gaji seharusnya bukan menjadi ukuran atau motivasi dalam pelayanan.

Secara sederhana, ketika ada gaji biasanya mempengaruhi kinerja pekerja. Apakah itu akan berdampak juga bagi Hamba Tuhan? Dalam arti, ketika digaji apakah pelayanan semakin termotivasi dan berdedikasi? Meskipun seharusnya, motivasi dan dedikasi bukan tergantung atau bersumber dari hal itu.

Namun realita yang ada cukup memberi bukti bahwa banyak yang digaji justru berdampak negatif-tidak bergantung kepada Tuhan. Tidak sedikit pelayanan gagal, tidak lagi berminat dan bergeser motivasi dengan orientasi ”upah.” Akhirnya, tempat pelayanan tidak ubahnya menjadi tempat kerja mencari uang. Benar memang, semua orang perlu uang termasuk hamba Tuhan tetapi bukan berarti melayani untuk mencari uang. Ingat bahwa kita menjadi hamba Tuhan bukan karena orang lain, keluarga atau teman melainkan karena panggilan Allah. Mempercayai hal ini itu sama artinya kita mempercayakan kebutuhan kita kepada Tuhan.

Ketika berbicara gaji sering dikonotasikan-sekuler. Oleh karena itu, biasa beberapa gereja tidak memakai istilah ini tetapi dengan istilah lain yang nampak lebih halus. Masalah istilah, sesungguhnya tidak menjadi persoalan, yang lebih penting disini adalah motivasi terdalam yang mengiringinya. Apabila gaji diberlakukan dan menjadi pendapatan wajib bagi Hamba Tuhan sebenarnya tidak ada masalah. Yang jauh bermasalah adalah mengapa Gereja tidak memberikan ”gaji”? Pertanyaan mengapa harus dipahami tanpa tendensi apapun, jujur dan terbuka. Kalau tidak digaji karena memang keadaan gereja tidak mampu dan Hamba Tuhan menyadari panggilannya bukan mencari gaji, hal itu tidak jadi persoalan. Namun disayangkan apabila gereja mampu tetapi terlalu sulit memperhatikan kebutuhan Hamba Tuhan, mengapa?

Ada banyak hamba Tuhan digaji, pelayanan tidak teruji. Ada pula yang tanpa gaji tetapi pelayanan terpuji dan diakui. Secara sederhana bersyukurlah dengan apa yang kita miliki sekarang. Hamba Tuhan adalah jabatan/posisi yang Tuhan berikan bagi kita dan bukan dari manusia. Menyadari hal itu berarti kita mempercayakan kehidupan kita seutuhnya pada pemeliharaan Allah yang tidak pernah terlambat dalam waktu dan cara yang luar biasa. Ingat kembali, banyak orang menjadi hamba Tuhan bukan karena ingin melakukan sesuatu dari posisinya tetapi ingin mendapatkan sesuatu dari posisinya. Apakah itu termasuk kita? Jadilah hamba yang setia yang benar-benar menghidupi panggilan kita. Amin.



BELAJAR HIDUP DITENGAH KESULITAN HIDUP

”BELAJAR HIDUP DITENGAH KESULITAN HIDUP”

(Kel. 2:1-10)

Oleh: Ev. Ch. Sutriyono, S.Th

Pendahuluan

Kelahiran berarti kehidupan. Namun kenyataannya, kelahiran tidak hanya membawa kehidupan tetapi justru menjadi hal yang menakutkan bagi banyak orang karena tak jarang kelahiran justru berujung kematian. Dalam menyambut kelahiran, biasanya disertai dengan banyak persiapan. Orang tua biasanya mengharapkan kelahiran anaknya dengan keadaan yang lebih baik, kecukupan dan serba ada. Tetapi tidak demikian halnya dengan kelahiran Musa. Ia diperhadapkan dengan ancaman antara hidup dan mati. Ditengah kelahirannya, Ibunya yang bernama Yokhebet berusaha menyelamatkan dia karena ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh Raja Firaun karena alasan politik. Mari kita belajar dari Yokhebet yang dengan gigih, tidak putus asa dengan kesulitan hidup yang dia hadapi. Tetap berjuang meski keadaan hidup sulit bahkan jauh dari apa yang di pikirkan sebelumnya.

Pertama, Hidup itu lebih berharga dari apapun (ay. 2-3)

Meski keadaan sulit tetapi Yokhebet bertahan bahkan ia berusaha menyelamatkan anaknya. Dalam ayat 3 dan 4, tindakan penyelamatan Yokhebet nampak nyata, terlihat dalam hal ”menyembunyikan,” ”diambilnya sebuah peti,” dipangkalnya,” diletakkannya bayi itu” (ay. 2-3). Dia tahu betul bahwa hidup anaknya lebih penting dari apapun. Yokhebet tidak pernah berpikir sebelumnya kalau ternyata penyelamatan anaknya (Musa) olehnya membawa dampak yang luar biasa. Musa dipakai Tuhan untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di tanah Mesir. Mari para orang tua selamatkan anak-anak anda dari ancaman saat ini (pergaulan bebas, kemabukan, HIV/AIDS, dll).

Kedua, Hidup itu indah jika dikelilingi keindahan(ay. 4-6)

Keadaan Yokhebet sendiri sebenarnya terancam. Tetapi kembali ia tidak mau terfokus untuk mementingkan diri sendiri. Dia menyadari bahwa anaknya ádalah segalanya buat dia. Anaknya itulah yang menjadi keindahan disaat masa-masa yang sulit. Meskipun dia terpisah dengan anaknya, tidak menjadi soal bagi Yokebet yang terpenting ádalah keselamatan nyawa anaknya. Dalam hidup ini, mungkin banyak kesulitan, tantangan yang bahkan berujung pada kehilangan. Namun sadarilah bahwa hidup ini indah jika dikelilingi oleh keindahan. Adakah keindahan di sekelilingmu? yang terus menjadi motivasimu/semangatmu untuk berkarya/ menjalani hidup ini? Untuk terus bekerja meski hati tersiksa. Terus semangat melayani meski ada banyak orang yang mencoba menjatuhkan anda. Jangan kehilangan keindahan dari hidup ini. Keindahan anda dalam keluarga mungkin anak anda. Keindahan anda sebagai hamba Tuhan mungkin pelayanan anda. Tetapi jauh yang lebih pasti adalah Yesus, keindahan diatas keindahan kita.

Ketiga, Hidup itu harus menggunakan kesempatan (ay. 7-10)

Bagi Yokhebet bisa saja ia berfikir ini adalah kesempatan terakhir bagi dia untuk menyelamatkan anaknya. Masa depan anaknya jauh lebih luas dibanding dengan hidupnya sehingga ia membiarkan dirinya ada dalam situasi terancam maut. Hidup harus menggunakan kesempatan. Yang pasti dalam hal ini adalah kesempatan untuk hidup. Banyak yang menyia-nyiakan kesempatan hidup. Kesempatan untuk menjadi produktif bagi orang lain: menyenangkan bahkan menguntungkan bagi orang lain. Membiarkan hidup hanya berjalan apa adanya tanpa ada sesuatu yang dikerjakan. Hidup ini indah jika ada yang di harapkan dan dikerjakan. Apa yang ada kerjakan dalam hidup ini? Dan, apa yang anda harapkan?

DIDENGAR SANG PENDENGAR

”DIDENGAR SANG PENDENGAR”

(Maz. 34:1-6)

Oleh: Ev. Ch. Sutriyono, S.Th

Pendahuluan

Mazmur 34 merupakan ucapan syukur Daud kepada Allah yang telah melepaskannya dari bahaya. Dalam hal ini, Daud mengajak kepada semua orang yang menderita untuk mengandalkan Allah. Maka Ia akan bertindak menyelesaikan segala persoalan dan membuat hati yang ketakutan menjadi tenang.

Daud berkeyakinan bahwa Allah yang dikenal dan terus disembah adalah kebanggaan karena tidak ada satupun persoalan/pergumulan yang Allah tidak mendengar. Dialah Allah, Sang Pendengar, yang diyakini Daud dengan teguh, yang dipuji Daud dengan segenap hati, Dialah Allah yang mendengar.

Dalam bagian ini Daud mengungkapkan tiga rahasia; tentang pengalamannya bersama Allah, taatkala dalam beban pergumulan, Allah melepaskan dia dan memberi kelegaan. Allah selalu mendengar rintihan umat-Nya. Dan, dalam nats ini Daud menjelaskan ada tiga hal yang harus diperhatikan, bagaimana ”didengar sang pendengar” antara lain;

I. Memiliki Komitmen Untuk Memuji TUHAN (ay. 2)

Dalam ayat ke dua dikatakan ”aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu.” Kata ”memuji” dalam ayat ini berasal dari kata kerja Ibrani ’abareka (parsingnya, piel, imperfek). Kata ini sendiri berasal dari akar kata barak yang berarti berlutut atau memberkati. Dalam bentuk hifil, imperfek, kata barak berarti membuat unta berlutut dengan maksud menyuruh istirahat (Kej. 24:11), sedangkan bentuk piel, imperfek kata ini jelas berarti ”memberkati” dengan tiga nuansa yaitu; pertama, subyeknya Allah; maksudnya bahwa Allah yang memberi kemampuan untuk berhasil (Kej. 1:28); kedua, jika subyeknya manusia kepada obyek manusia artinya mengharapkan seseorang mendapat kemampuan untuk berhasil (kiranya, semoga, kej 24:60); ketiga, jika subyeknya manusia kepada obyek Allah berarti mengakui bahwa Allah adalah sumber berkat manusia.

Dengan pemakaian bentuk piel, imperfek pada kata ’abareka berarti kata ini dapat diterjemahkan ”aku hendak memberkati TUHAN pada segala waktu,” meskipun kata barak sendiri sering disejajarkan dengan kata ”memuji.” ”Aku hendak memberkati Allah” dalam hal ini bukan berarti Allah membutuhkan sesuatu yang tidak dipunyai (jasmani/rohani), karena Allah adalah pribadi sempurna adanya dan Dialah yang memiliki segala sesuatu. ”Memberkati” memiliki esensi kata yang sama dengan memuji (lihat terjemahan LAI ”memuji,” The Expositor’s Bible Commentary ”menyanjung-nyanjung (extol),” Wilson ”berlutut untuk memuji.”

Kata yang sepadan dengan barak adalah yada yang memilki arti memuji. Kata ini ditemukan paling banyak di kitab Mazmur (70 kali). Yada lebih menekankan pada ekspresi memuji, sedangkan barak lebih menekankan kesunyian. Sering dipakai untuk ritual penyembahan kepada Allah, baik personal ataupun kolektif (Maz. 30:9, 12).

Kembali kepada kata barak, yang mana dalam hal ini menarik sebab pemazmur memakai kata barak dan bukan yada. Persoalannya, mengapa? Pangkal piel, imperfek pada kata barak menjadikan arti: ”aku akan memberkati,” penggunaan piel menggambarkan intensif yaitu menyatakan suatu keseriusan/kesungguhan, sedangkan bentuk imperfek lebih tepat sebagai ”frequentiv or habbitual” yang menunujuk pada suatu tindakan yang diulang-ulang setiap waktu.

Jadi dengan demikian dapat dipahami, ketika pemazmur memakai kata barak untuk kata ”memuji” ini mengandung suatu pengertian bahwa pemazmur dengan sungguh-sungguh memuji TUHAN di dalam setiap waktunya karena mengakui bahwa Allah adalah sumber berkat manusia dan meyakini bahwa Ia yang memiliki dan memberikan kedamaian serta anugerah.

Kata ”memuji TUHAN pada segala waktu” ini tidak berarti bahwa pemazmur akan menghabiskan seluruh waktunya terus-menerus untuk memuji TUHAN tanpa melakukan tindakan lain, tetapi tindakan memuji TUHAN yang dilakukan oleh pemazmur dilakukan secara teratur dan selalu dilaksanakan tanpa halangan.

Sesungguhnya ini adalah kata hiperbola dan muncul karena pemazmur kagum kepada Allah yang telah melepaskan dia dari bahaya kematian Raja kota Gat, Akhis namanya (1 Sam. 21:10-15), dan ini adalah semacam komitmen keseriusannya untuk memuji TUHAN dalam hal waktu. Kata ini juga dipakai dalam keluaran 29:38, kata ini mengindikasikan; pertama, keteraturan waktu yang telah ditetapkan; kedua, selalu dilakukan secara kontinew.

II. Memiliki Kerinduan Untuk Memuliakan TUHAN (ay.3)

Kerinduan Daud untuk memuliakan TUHAN terlihat dari ide kata kerja ”jiwaku bermegah,” dan ”muliakanlah TUHAN” (ay. 3-4). Kata bermegah berasal dari kata tithalel berasal dari akar kata halal artinya, memegahkan diri. Dalam hal ini memiliki dua nuansa, yaitu: pertama, membanggakan kepercayaan dirinya (1 Raj 20:11); kedua, mengagungkan, membuat seorang megah. Nampaknya kata ini lebih menunjuk kepada nuansa yang kedua.

Dalam hal ini ketika pemazmur berkata ”jiwaku bermegah” bukan berarti menyombongkan dirinya/menganggap lebih dari yang lain melainkan karena semua kekaguman yang luar biasa atas perbuatan Allah dalam dirinya dan pemazmur juga menganggap bahwa dirinya sangat istimewa di dalam TUHAN. Hal ini diperjelas dengan pengunaan subyek yaitu jiwa pemazmur itu sendiri. Dengan berkata ”jiwaku bermegah” (parsing: hiphael, imperfek) itu berarti tindakan bermegah itu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan belum selesai /masih berlangsung (intensif-incomplete action).

Dengan demikian dapat dipahami ketika Pemazmur berkata ”karena TUHAN jiwaku bermegah,” adalah Pemazmur melakukan tindakan bermegah dengan kesungguhan hati dan dasar semuanya adalah ”karena TUHAN.” Disamping itu Pemazmur juga dengan sungguh-sungguh menyatakan kerinduannya kepada Allah untuk senantiasa memuliakan Allah. Bahkan tidak hanya dirinya semata, tetapi bagi semua orang hendaknya memuliakan TUHAN ”bersama-sama dengan aku” (ay. 4). Hal ini jelas pernyataan luar biasa dari pemazmur, meskipun dalam kondisi yang tidak aman, bahaya mengancam, namun kerinduan untuk memuliakan Allah tidak pernah terbendung.

III. Memiliki Keyakinan Untuk Pertolongan TUHAN (ay. 5-6)

Frase ”aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku,” menunjukkan dengan sangat bahwa pemazmur meyakini adanya pertolongan yang nyata dari TUHAN. Kata ”mencari” berasal dari kata Ibrani darasti. Kata ini memiliki nuansa khusus yaitu: pertama, mencari dengan peduli; kedua, dalam mencari aspek pengamatan untuk mengenal ditekankan; ketiga, keseriusan untuk mencari sesuatu yang tertentu.

Dalam hal ini, ”mencari TUHAN” bagi Pemazmur adalah mencari TUHAN yang benar yang dilakukan dalam pujian dan penyembahan. Jadi dengan demikian kata ”mencari” disini secara khusus berarti meminta Allah di dalam doa. Pemazmur mencari Allah di dalam doa, dan pemazmur menyadari bahkan mengalami sendiri pertolongan Allah ”menjawab aku.”

Penutup: Pengalaman indah bersama TUHAN (mencari dan dijawab) yang dialami oleh Daud, dapat menajdi bagian pengalaman tak terlupakan bagi saya dan saudara. Kuncinya adalah, memiliki komitmen untuk memuji TUHAN, memiliki kerinduan untuk memuliakan TUHAN dan memiliki keyakinan untuk pertolongan TUHAN. Amin.

KESETIAAN TUHAN MEMBERIKAN PENGAMPUNAN KEPADA MANUSIA TERHADAP DIMENSI DOSA

KESETIAAN TUHAN MEMBERIKAN PENGAMPUNAN

KEPADA MANUSIA TERHADAP DIMENSI DOSA

(1 Yoh. 1: 9)

Oleh: Ev. Ch. Sutriyono, S.Th*

Pendahuluan

Allah adalah pribadi yang setia terhadap umat-Nya. Dimasa lampau, kesetiaan pemeliharaan-Nya dinyatakan dengan membebaskan Israel - umat pilihan-Nya itu dari perbudakan keras di Mesir. Tidak hanya itu, ketika mereka terpojok karena kejaran tentara Firaun dan diperhadapkan dengan hamparan Laut luas, lagi-lagi kesetiaan-Nya dinyatakan dengan membelah Laut itu sehingga umat Israel dapat menyeberang tanpa tenggelam.

Bahkan sejak awal disaat terjadi konflik antara manusia dengan Allah, yakni hadirnya dosa di dunia ini, kulminasi kesetiaan-Nya dinyatakan kepada manusia dengan jalan Allah turun ke dunia menjadi manusia bahkan mati dikayu salib untuk menebus manusia dari dosa-dosanya.

Berbicara tentang kesetiaan Tuhan, manusia dengan pikiran terbatasnya tentu tidak dapat memahaminya. Ketidakmampuan itu, disebabkan bukan karena ”bodohnya penalaran,” ”sempitnya pikiran,” ”beku kemampuannya” melainkan kesetiaan Tuhan luas aspeknya. Disamping itu, intepretasi terhadapnya pun berbeda-beda. Dan, seringnya manusia salah dalam memahaminya.

Dalam surat 1 Yohanes, sesungguhnya kita diperlihatkan akan adanya pergumulan yang berat dalam diri manusia ketika menghadapi masalah terbesar sepanjang masa yakni dosa. Konteks menunjukkan bahwa orang-orang percaya sedang bergumul dalam menghadapi dosa yang mengakibatkan rusaknya persekutuan, baik dengan Tuhan maupun sesamanya (1 Yoh. 1:6).

Dalam tema kali ini, kita akan melihat dan mengetahui lebih dalam seputar alasan mengapa Tuhan setia memberikan pengampunan kepada manusia terhadap dimensi dosa. Ingat bahwa dalam hal ini bukan dosa orang yang belum percaya saja - kemudian bertobat dan Tuhan ampuni tetapi kepada orang yang sudah percaya dan jatuh ke dalam dosa Allah juga setia memberikan pengampunan. Pertanyaan menarik disini adalah, apa dasarnya?

Dasar Kesetiaan Tuhan Memberikan Pengampunan

Wajar bagi manusia apabila setia kepada Allah. Karena Allah selalu menunjukkan kesetiaan-Nya dalam berbagai cara dan waktu kepada manusia meskipun disisi lain manusia terus bergumul untuk setia kepada Allah. Alasan mungkin bisa diberikan, karena Tuhan Pencipta dan baik adanya; dalam kasih, pemeliharaan-Nya dan kuasa-Nya yang luar biasa. Namun sangat sulit untuk dimengerti apabila Allah setia kepada manusia secara khusus dalam memberikan pengampunan. Apabila Allah setia, apa dasarnya?

Pertama: Adanya Pengakuan Manusia Terhadap Dosa

Dasar pertama, mengapa Tuhan setia memberikan pengampunan kepada manusia terhadap dimensi dosa adalah; adanya pengakuan manusia terhadap dosa. Dalam ayat 9, dikatakan; ”jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Ayat ini diawali dengan kalimat bersyarat ”jika” yang kemudian diikuti dengan akibat yang ditimbulkan dari yang disyaratkan (mengaku: diampuni dan disucikan).

Persoalan dan pertanyaan serius sehubungan dengan hal ini adalah; dosa apa dan mana yang harus diakui? Apakah harus mengakui semua dosa? Bagaimana dengan sifat manusia yang mudah melupakan ”kisah buruk” yakni dosa dalam hidupnya? Dalam arti, mampukah manusia mengingat semua dosanya untuk diakui? Pengakuan yang dimaksud sesungguhnya dalam hal apa? Apakah pengakuan memutuskan akibat/konsekuensi dosa? Kemudian dimanakah letak keadilan Tuhan kalau dosa diampuni?

Frase ”jika kita mengaku dosa kita” berasal dari kata Yunani ”ean homologomen tas hamartias hemon,” yang dapat diterjemahkan ”jika kita mengaku dosa-dosa kita.” Dalam hal ini nuansa dan aspek dosa yang harus diakui lebih jelas (dosa-dosa kita: jamak) dan sangat berbeda dengan terjemahan Bahasa Indonesia (dosa kita: tunggal).

Kata ”mengaku” berasal dari kata Yunani ”homologomen” parsingnya adalah: kata kerja, subyungtif, kini, aktif - orang pertama jamak. Dari akar kata homologeo yang artinya: mengakui, mengaku, berterus terang, memuliakan (Ibr. 13:13). Modus subyungtif dalam hal ini, lebih tepat menyatakan fungsi kondisional yakni syarat ”kebenaran umum kini.”

Kembali, sehubungan dengan dosa apa dan yang mana yang harus diakui, secara konteks tidak jelas disebutkan (2:11). Dan mengenai kata ”mengakui” ayat itu dihubungkan dengan ayat 8 dan 9 ”jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa.” Secara positif berarti seseorang harus berkata bahwa ia berdosa. Dalam hal ini ”mengaku” yang dimaksud bukan hanya menunjuk dosa apa dan yang mana (secara spesifik) melainkan seseorang harus mengaku bahwa diri berdosa.

Seseorang harus menyadari bahwa keberdosaan itu selalu mengancam kehidupan mereka dan mereka harus senantiasa membutuhkan pertolongan Roh kudus (untuk memulihkan persekutuan yang rusak akibat dosa). Dalam hal ini diperlukan kerendahatian dan keterbukaan yang dengan sadar mengaku dosanya - melibatkan emosi. Sehingga kepastian kebenaran akibat dari pengakuan yakni pengampunan dan penyucian menjadi kenyataan yang tak diragukan.

Secara posisi orang percaya memang ada dalam kondisi aman dan pengakuan adalah jalan keluar untuk penyelesaian dari segi pengalaman. Sebab selama manusia hidup di dunia ini, ia akan selalu diperhadapkan dengan pergumulan dosa. Dan ayat ini sesungguhnya menjadi jalan keluar bagi orang percaya yang jatuh ke dalam perbuatan dosa. Pengakuan ini diperlukan disamping menunjukkan sikap kerendahatian dan sikap keterbukaan manusia dihadapan Tuhan, hal ini juga menyangkut pemenuhan terhadap apa yang disyaratkan Tuhan (bukti ketaatan).

Dalam pengakuan, manusia menyadari bahwa hidupnya dalam keseluruhannya tidak ada yang tersembunyi dihadapan Tuhan karena Tuhan melihat. Sehubungan dengan ini, Daud pernah berkata dalam Mazmur 32:3-4: ”Selama aku tidak mengakui dosaku aku merana karena mengaduh sepanjang hari. Siang malam Engkau menekan aku, TUHAN, tenagaku habis seperti diserap terik matahari (BIS).” C.S. Lewis juga pernah berkata; ”Orang kristen punya keuntungan besar. Bukan karena kurang jatuh dalam dosa dari pada mereka, juga bukan karena kurang terkutuk untuk hidup di dunia yang jatuh ke dalam dosa tetapi karena menyadari bahwa ia adalah orang berdosa di dunia yang berdosa.

Kedua: Adanya Ikatan Darah: Persekutuan Dengan Yesus

Alkitab berkata; ”jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Pengampunan dan penyucian sebagai akibat dari pengakuan dihubungkan dengan ayat sebelumnya yakni melalui ”Darah Yesus, Anak-Nya itu” (ay. 7). Melalui ”Darah Yesus, Anak-Nya itu” - yang tercurah dikayu salib itulah yang memberikan pengampunan kepada manusia atas dosa yang dialaminya. Melalui ”Darah Yesus, Anak-Nya itu” manusia diperdamaikan dengan Allah. Darah Yesuslah yang menyucikan. Dan hal itu terjadi sekali untuk selamanya. Sehubungan dengan hal itu, Brooke Foss Westcott mengatakan: ”Darah Yesus menyebabkan keadaan tidak berdosa itu menjadi kenyataan. Hal itu perlu untuk bersekutu dengan Allah.”

Peristiwa Salib tidak perlu terulang lagi karena pengorbanan Yesus adalah untuk memperdamaikan dosa seluruh dunia (2:2). Manusia yang percaya kepada salib berarti ada ikatan dengan ”Darah Yesus, Anak-Nya itu.” Hal itu dipertegas dalam pasal 1 ayatnya yang ke-3 ”mendapatkan persekutuan.” Pada masa Perjanjian Lama, kita diingatkan dengan satu kisah tentang tulah di Mesir - anak sulung mati. Melalui Darah Anak Domba yang dioleskan pada ambang pintu, anak sulung tidak jadi mati karena malaikat maut melewatinya. Mengapa hal ini terjadi? Karena sebelumnya Allah sudah mengikat perjanjian kepada umat-Nya melalui Darah yang dioleskan diambang pintu. Sesungguhnya melalui Darah Anak Domba ada ikatan janji antara Allah dengan umat Israel. Melalui Darah itulah terjadi persekutuan dan janji Allah berlaku atas kita orang percaya.

Kata ”mengampuni” berasal dari kata Yunani ”afe” merupakan kata kerja subyungtif, aorist, aktif - orang ketiga tunggal dari akar kata ”afiemi” artinya: meninggalkan, bercerai, membiarkan, memperbolehkan, mengampuni. Kala aoris pada umumnya mengabaikan soal pencapaian atau kelangsungannya, tekanan diberikan pada penegasan akan adanya tindakan atau peristiwa. Sedangkan subyungtif menyatakan fungsi kondisional - kebenaran umum kini. Dengan demikian dapat dipahami bahwa tindakan mengampuni merupakan kebenaran umum yang ditimbulkan dari apa yang disyaratkan ”jika mengakui.”

Ketiga: Bapa Pribadi yang Berkuasa Mengampuni Dosa

Perhatikan kata ”Ia” yang dalam ayat ini diulangi berkali-kali. Secara konteks kata ”Ia” dalam ayat ini jelas menunjuk kepada Pribadi Yesus Kristus (1:3,7:2:1-2). Pengampunan sejak semula adalah bukan inisiatif manusia melainkan Allah. Manusia tidak mampu mengatasi masalahnya tanpa Allah, karena manusia tidak mempunyai kemampuan untuk mengeluarkan dirinya sendiri tanpa bantuan pihak yang Superior.

Kini, manusia menjadi makluk bejat yang merosot aklaknya, terasing dari Allah dan hidup dalam dosa dan pemberontakan, dibawah hukum Allah yang adil dan Allah yang kudus mereka melanggar. Artinya untuk bisa keluar dari pergumulan berat itu, inisiatif Allahlah yang merealisasikannya.

Pada masa Perjanjian Lama orang takut bertemu dengan Allah secara pribadi. Mereka takut bertemu karena dosa-dosanya. Pengalaman bangsa Israel ketika di gunung Sinai, mereka mewakilkannya kepada Musa. Orang Perjanjian Lama tidak bisa melihat Allah sebagai Bapa yang berkuasa mengampuni dosa. Sebenarnya konsep Bapa sudah muncul dalam Perjanjian Lama (Ul. 4:7), namun bangsa Israel tidak mampu melihat hal itu. Konsep itu berkembang dan nampak jelas dalam Perjanjian Baru, pada masa gereja. Bahkan dalam Perjanjian Baru, banyak kita temui konsep Allah sebagai Bapa. Lihatlah Allah sebagai Bapa yang berkuasa mengampuni dosa anda.

Penutup

Apakah hari-hari ini hidup anda terasa berat? Begitu banyak pergumulan dalam hidup anda? Mungkin masalah keluarga, pendidikan, pekerjaan, ekonomi, pribadi bahkan mungkin dosa-dosa anda. Anda mungkin merasa Allah hadir tetapi pertolongan-Nya jauh dari anda atau mungkin iblis menuduh anda dan mengingatkan akan masa lalu anda yang kelam? Ketahuilah Allah tidak pernah berubah. Dahulu, kemarin, sekarang bahkan untuk selama-lamanya Ia tetap Allah yang menerima kita, mengasihi kita apa adanya, dan tidak pernah menolak kita bahkan Dia adalah Allah yang berkuasa mengampuni dosa anda.

MEMIMPIN DENGAN KUALITAS HIDUP

”MEMIMPIN DENGAN KUALITAS HIDUP”

(Sebuah Refleksi serta Kontemplasi Diri Terhadap Tanggung Jawab)

(1 Yoh. 1:1-4)

Oleh: Ev. Ch. Sutriyono, S.Th

Banyak koleksi definisi tentang kepemimpinan yang mencoba mengusung arti terbaik dari kepemimpinan. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mengimplementasikannya. Bagaimana membawa dunia, lingkungan dan keluarga kepada suatu perubahan, harapan atau perbaikan hidup yang lebih signifikan. Itulah yang seharusnya menjadi arah dan tujuan sebuah kepemimpinan. Tidak ada nilai terbaik dari seorang pemimpin kecuali memahami untuk apa pemimpin ada, dan eksistensinya membawa kompleksitas perubahan ditengah dunia yang berubah.

Berbicara tentang kepemimpinan itu berarti sebuah kesempatan yang menuntut tanggung jawab pribadi dan universal. Artinya, haruslah digunakan dengan sebaik-baiknya karena kepercayaan untuk memimpin pada tempat, masa dan posisi yang sama tidak selalu datang kepada seseorang. Terkadang seorang pemimpin diperhadapkan dengan pilihan, perjuangan, pengorbanan yang akan menentukan sebuah nilai kepemimpinan dan tak jarang banyak yang gagal dan rapuh menghadapi semuanya itu.

Disamping itu, apabila berbicara tentang kesempatan banyak orang berkata bahwa kesempatan tidak pernah datang untuk kedua kali. Oleh karena itu, selagi ada kesempatan untuk memimpin ambilah dan gunakanlah dengan sebaik-baiknya. Sebenarnya, kesempatan dapat datang kedua kali bahkan berkali-kali dalam hidup ini, hanya jarang kesempatan yang sama (bentuk dan cara) datang ke dalam hidup ini dua kali dengan segala tawaran dan keindahannya.

Ada banyak yang memilih mengakhiri pertandingan, melakukan apa saja, memilih apa saja, memutuskan apa saja demi kelangsungan dan demi bobot kepemimpinan. Dalam hal ini, seharusnya seseorang dapat belajar; dengan cara bagaimana ia harus memimpin, karena dengan demikian ia menyadari bahwa kepemimpinan adalah sebuah mandat ilahi untuk umat ilahi. Kegagalan memaknai hal ini berarti pergulatan serius terhadap esensi kepemimpinan dan keraguan mendalam terhadap eksistensi seorang pemimpin. Karena kepemimpinan adalah sebuah proses untuk terus melakukan pengerjaan ekstra terhadap tanggung jawab demi menghasilkan perbaikan menyeluruh dalam bidang yang dipercayakan.

Namun realitanya, untuk mencapai semuanya itu tidaklah mudah. Kesempatan ini, kita akan melihat dan belajar bagaimana memimpin dengan kualitas hidup? Banyak pemimpin gagal karena tidak ada pemahaman yang benar terhadap dirinya (identitas). Terlalu banyak pemimpin kandas dalam persoalan sehingga tidak menyelesaikan tuntutan, atau menyelesaikan sesuatu yang bukan wewenangnya, terseret dengan serentetan tanggung jawab yang dibebankan pada pundak mereka. Hal ini karena lemahnya bahkan tidak adanya sebuah kontemplasi diri terhadap kualitas hidup. Bagaimana Tuhan memandang seorang pemimpin dan bukan bagaimana pemimpin memandang dirinya sendiri secara kabur. Dalam perspektif rohani kita akan melihat bagaimana seorang memimpin dengan kualitas hidup Kristiani menurut 1 Yohanes 1: 1-4.

Pertama: Memiliki Pegangan Hidup (ay. 1)

Berhubungan dengan tujuan dituliskannya surat 1 Yohanes, Yohanes mencatat dalam ayat pertama yakni memberitakan tentang Firman hidup. Kata Firman hidup (Yun: logou tes zoes) dalam ayat ini jelas menunjuk kepada satu eksistensi yakni Pribadi Yesus. Yohanes menyadari hanya Firman hidup itulah yang mampu mengubah hidup, memaknai hidup bahkan membawa hidup kearah kebenaran. Oleh karena itu dengan yakin dan berani Yohanes berkata: ”yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba - itulah yang kami tuliskan.”

Dalam hal ini, Yohanes menaruh keyakinan penuh terhadap Firman hidup, yakni Yesus Kristus ketika melakukan tugas pelayanannya. Sama halnya dalam hidup ini, diperlukan keyakinan teguh dalam melakukan tugas dan tanggung jawab yang ada. Kehidupan yang serba memilih menuntut manusia untuk memiliki penguat dalam hidup ini. Mengingat keberadaan manusia yang lemah, tak berdaya menghadapi derasnya persoalan hidup oleh karena itu dibutuhkan pegangan dalam hidup ini. Sebagai seorang pemimpin, pegangan hidup sangatlah penting. Berbagai goncangan, tantangan dapat teratasi apabila seorang pemimpin memiliki pegangan hidup. Adakah pegangan dalam hidup anda saat anda menghadapi masalah dalam hidup ini? Milikilah pegangan hidup dalam hidup ini dan yakinlah akan pegangan hidup anda.

Kedua: Memiliki Pandangan Hidup (ay. 2)

Ada dua kata Yunani yang biasa menjelaskan tentang hidup yakni zoe dan bios. Menarik karena kata yang dipakai untuk menjelaskan ”hidup kekal” dalam ayat dua, dipakai kata zoen ten aionion. Hidup ”zoe” berarti hidup yang punya nilai, biasa dibedakan dengan bios yang sama sekali tidak berkaitan dengan roh. Dikatakan bahwa ”hidup kekal” itu ada bersama-sama dengan Bapa dan telah dinyatakan. Itu berarti bahwa hidup bukan sebuah misteri, seperti roda dan sebagainya. Kebenarannya, hidup itu adalah indah. Sebab Yesus adalah keindahan dari hidup. Sebagai seorang pemimpin milikilah pandangan hidup yang benar. Pandangan kita terhadap hidup akan mempengaruhi cara berpikir dan bertindak kita, bahkan perspektif kita terhadap orang lain.

Ketiga: Memiliki Panggilan Hidup (ay.3-4)

Dalam ayat 3 dan 4 dijelaskan bahwa sesungguhnya orang percaya dipanggil untuk dua hal: bersekutu dan bersukacita. Kata ”bersekutu” berasal dari kata Yunani koinonia dengan arti; memiliki bersama, ikut serta dalam sesuatu, menjadikan bersama, memiliki bersama: dengan persekutuan dalam darah dan tubuh, mempunyai bersama dalam Kristus. Ini berarti orang percaya mempunyai panggilan yang istimewa di dalam hidup mereka. Hal ini seharusnya menjadi pemahaman penuh arti bagi orang percaya. Mereka dalam rutinitas aktivitas harus tetap bersekutu dengan Sang Pencipta.

Sedangkan kata ”bersukacita” (Yun: kara) memiliki nuansa arti, sukacita bukan secara lahiriah melainkan sukacita karena pengakuan akan Sang Juru Selamat, sukacita karena hasil dari situasi baru yang dimiliki. Dan, dalam konteks ini situasi baru itu adalah karena hidup kekal. Seorang pemimpin harus memiliki panggilan hidup dan menghidupi panggilan itu. Hal ini memampukan para pemimpin tetap bersukacita meski banyak tantangan, maju terus meski himpitan persoalan tiada akhir.

TINJAUAN UMUM TERHADAP CALVINISME

TINJAUAN UMUM TERHADAP CALVINISME

Oleh: Ev. Chornelius Sutriyono, S.Th

Berbicara tentang calvinisme maka itu berarti berbicara tentang iman Reformed.[1] Teologi Calvinisme atau iman Reformed berakar pada tulisan-tulisan John Calvin, khususnya yang diekspresikan dalam Institutes of the Christian Religion.[2] John Calvin (1509-1564) lahir di Noyon, Picardy, enam belas mil di sebelah utara timur Paris. Ia bertobat melalui kontaknya dengan kaum Protestan, kemungkinan besar pada tahun 1533 atau 1534, namun informasi yang rinci sangat kurang mengenai hal ini. Pada waktu itu, Calvin menolak “superstisi dari kepausan.”[3]

Bibliologi dalam ajaran Calvin

Alkitab dipandang sebagai aturan bagi iman. Keenam puluh enam kitab PL dan PB diakui memberikan “inspirasi ilahi, otoritas dan cukup sebagai patokan iman dan praktis yang tanpa salah.” Tradisi-tradisi dari Roma Katolik, Apokripa, dan Humanisme harus ditolak.[4] Ia cukup berisi segala sesuatu yang perlu untuk mengenal Allah dan tugas-tugas orang percaya terhadap Allah dan sesama manusia. Kewibawaan Alkitab terjamin oleh pekerjaan Roh Kudus.[5] Lebih lanjut ia memakai Alkitab juga sebagai buku petunjuk-petunjuk etis, sesuai dengan semangat Humanis, walaupun dengan tegas dalam konteks ajaran Luther.

Calvin memandang Alkitab berasal dari Allah sehingga memiliki otoritas ilahi di dalamnya. Baginya, Alkitab berasal dari Allah karena diinspirasikan oleh Allah sendiri. Karena inspirasi Allah inilah maka Alkitab memiliki otoritas intrinsik. Pada bagian ini ia tidak berbicara mengenai kesaksian internal yang memberikan otoritas kepada Alkitab sebab baginya otoritas itu muncul karena Alkitab diinspirasikan. Dengan demikian Alkitab membuktikan kebenarannya sendiri. Lebih jelas ia mengatakan bahwa Alkitab mengabsahkan dirinya sendiri. Dengan demikian dasar obyektif bagi keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Allah terletak kepada Alkitab itu sendiri.[6]

Soteriologi dalam ajaran Calvin

Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, ia dapat mencapai kebajikan melalui kuasa-kuasa alamiah, namun kejatuhan manusia ke dalam dosa telah mengubah hakikat manusia sehingga sekarang semua manusia berada di bawah kuasa dosa. Manusia telah kehilangan segala kebaikan dan tersandung sehingga bergelimang kemalangan dan kutuk.[7] Manusia tidak bebas lagi, sehingga ia memerlukan rahmat Allah. Semua perbuatan manusia pada hakikatnya adalah dosa dan manusia hanya dibenarkan karena rahmat Allah saja. Perbuatan baik tidak mempunyai andil apa pun dalam tindakan pembenaran Allah terhadap manusia berdosa (kerusakan manusia yang telah jatuh).[8]

Pembenaran Allah hanya dapat disambut oleh manusia dengan iman. Calvin menyatakan bahwa baik pembenaran maupun kelahiran kembali merupakan hasil dari persatuan orang percaya dengan Kristus melalui iman.[9] Iman mempersatukan orang percaya dengan Kristus di dalam suatu “kesatuan mistis” (di sini Calvin mengklaim kembali tekanan Luther atas kehadiran yang nyata dan pribadi dari Kristus di dalam diri orang-orang percaya yang dibangun melalui iman). Persatuan dengan Kristus ini mempunyai dampak rangkap dua yang disebut oleh Calvin sebagai anugerah ganda.

Pertama, persatuan antara orang percaya dengan Kristus membawa secara langsung pada pembenaran dirinya. Melalui Kristus, orang percaya dinyatakan menjadi benar dalam pandangan Allah. Kedua, oleh karena persatuan orang percaya dengan Kristus-dan bukan karena pembenaran atasnya-orang percaya itu mulai melakukan proses menjadi seperti Kristus melalui kelahiran kembali.

Disamping itu, Calvin menjabarkan predestinasi sebagai berikut; “Predestinasi disebut ketetapan Allah yang kekal, yang melaluinya Ia telah menetapkan di dalam diri-Nya apa yang akan terjadi dalam setiap individu umat manusia… hidup kekal ditetapkan sebelumnya bagi sebagian orang, dan penghukuman kekal bagi yang lain. Setiap orang, karena itu, diciptakan untuk salah satu dari tujuan ini, kita sebut Ia mempredestinasikan baik untuk hidup atau untuk mati.”

Calvin mengajarkan bahwa Allah, dalam tindakan predestinasinya, memilih orang-orang tertentu untuk keselamatan. Pemilihan itu sendiri berdasarkan pada istilah panggil (Yunani kaleo) yang berarti “memanggil keluar dari antara.” Calvin bersikeras bahwa pemilihan dan predestinasi merupakan suatu keharusan karena kejatuhan manusia. Apabila manusia itu mati dalam pelanggaran dan dosa-dosa (Ef. 2:1), maka merupakan suatu keharusan bagi Allah untuk berinisiatif menyelamatkan manusia. Manusia dalam kondisi tercemarnya sama sekali tidak mampu untuk bergerak ke arah Allah.

Bagi Calvin, predestinasi bukanlah suatu pendekatan deduktif yang didasarkan pada konsep yang sudah ada sebelumnya mengenai kedaulatan dan kemahakuasaan Allah. Dengan kata lain, predestinasi tidak dijadikan sebagai suatu doktrin abstrak berdasarkan penetapan Allah di dalam kekekalan-Nya, tetapi sebagai suatu refleksi atas misteri pengalaman manusia sebagaimana terlihat dari keragaman responnya terhadap anugerah keselamatan tersebut.[10]

Dengan kata lain, Calvin menempatkan doktrin-doktrin predestinasi di dalam konteks soteriologi, Calvin berusaha untuk menunjukkan bahwa fungsionalitas doktrin predestinasi sebagai dasar jaminan keselamatan dapat ditimba oleh setiap orang percaya. Hal ini bisa terjadi apabila kita memulai pemahaman tentang predestinasi dengan breangkat dari latter signs atau tanda-tanda keselamatan yang Allah nyatakan kepada kita, dan dengan memandang kepada Yesus Kristus sebagai the mirror of election.[11]

Eklesiologi dalam ajaran Calvin

Calvinisme membela teokrasi di dalam gereja.[12] Gereja adalah milik Kristus dan Pendeta bukan pegawai pemerintah, melainkan pelayan Firman yang bertanggung jawab kepada Tuhan.[13] Negara harus bersama-sama dengan gereja untuk menegakkan keadilan serta memuliakan Allah. Kedua-duanya harus berdampingan dan masing-masing mendapat tugas tertentu dari Allah yang harus dipertanggungjawabkannya kepada Tuhan Allah.[14]

Mengenai sakramen, hanya ada dua yang ditetapkan oleh Kristus Tuhan kita dalam Injil, yaitu Baptisan dan Perjamuan Malam Tuhan.[15] Keduanya tidak boleh dilayankan selain oleh seorang pelayan Firman yang diteguhkan dengan cara yang sah.[16] Dalam Perjamuan kudus, Calvin berusaha untuk mencari jalan tengah antara ajaran Luther dan Zwingli.[17] Ia menolak bahwa Kristus hadir secara jasmani dalam Perjamuan Kudus dengan cara yang diajarkan Luther, yaitu bahwa kehadiran Kristus terikat pada roti dan anggur dan terlepas dari iman orang yang menerima Perjamuan Kudus (menurut pandangan Luther, yang sesuai dengan teologi Abad Pertengahan, orang yang tidak percaya pun menerima tubuh dan darah Kristus, walaupun bukan demi keselamatan melainkan demi kebinasaan).[18]

Pada pihak lain ia juga menolak bahwa Perjamuan Kudus hanya tindakan pengakuan jemaat yang memupuk semangat iman saja, seperi dikatakan Zwingli. Bagi Calvin, Perjamuan Kudus (dan Baptisan) adalah tanda yang diberikan Kristus untuk menunjuk pada penyelamatan manusia, yang memeteraikan keselamatan ini dalam diri orang percaya. Terlepas dari iman Perjamuan Kudus roti dan anggur melulu. Akan tetapi dalam iman keselamatan itu menjadi begitu nyata sehingga Calvin dapat mengatakan bahwa Kristus sungguh-sungguh hadir, bukan dengan tubuh-Nya (karena tubuh-Nya ada di surga) tetapi dalam Roh Kudus.

Kristologi dalam ajaran Calvin

Dalam pengakuan iman gereja Perancis (1559), bahwa Yesus Kristus, yang adalah hikmat Allah dan Anak-Nya yang kekal, telah mengenakan daging, untuk menjadi Allah dan manusia dalam satu Pribadi. Dia menjadi manusia yang serupa dengan kita, yang dapat menderita dalam tubuh dan jiwa. Hanya saja, Dia suci, tanpa noda apapun. Dan menurut kemanusiaan-Nya Dia benar-benar keturunan Abraham dan Daud, meskipun Dia dikandung oleh kekuatan tersembunyi Roh Kudus.

Kedua tabiat itu digabungkan dan disatukan benar-benar dan secara tak terpisahkan dalam satu Pribadi yang tunggal, yaitu Yesus Kristus. Namun, masing-masing tetap memiliki sifatnya sendiri dan tetap bersifat tak diciptakan, tidak terhingga, dan memenuhi segala sesuatu; begitu pula tabiat kemanusiaan tetap bersifat berhingga dan memiliki bentuk, ukuran, dan sifatnya sendiri. Dan kendati Yesus Kristus, ketika Dia bangkit, telah memberi tubuh-Nya ketidakfanaan, namun dia tidak meniadakan keaslian tabiat-Nya. Maka kita memandang Dia dalam keilahian-Nya dengan cara yang tidak menanggalkan kemanusiaan-Nya.

Hal ini berbeda dengan pandangan Lutheran mengenai Kristologi. Doktrin Luther akan kehadiran fisik Kristus dalam Perjamuan Kudus membawa pada pandangan Lutheran yang khas yaitu communication idiomatum, yang menyatakan bahwa “setiap nature Kristus mengalirkan nature yang lain ‘perichoresis,’ dan bahwa kemanusiaan-Nya mengambil bagian dalam atribut-atribut ilahi-Nya. Mereka berpegang bahwa sifat mahakuasa, mahatahu dan mahahadir diberikan pada nature manusia pada saat inkarnasi.[19]

No.

Positif

Negatif

1.

2.

3.

4.

· Bibliologi: Alkitab berasal dari Allah, memiliki otoritas dan adalah firman Allah.

· Soteriologi: Semua perbuatan manusia pada hakikatnya adalah dosa dan manusia hanya dibenarkan karena rahmat Allah saja.

· Predestinasi dan pemilihan merupakan konsep Alkitabiah.

· Eklesiologi: Pandangan mengenai Perjamuan (Kudus n Baptisan) Alkitabiah.

· Kristologi: Pandangan terhadap Kristologi Alkitabiah. Ia memahami bahwa Kristus adalah anak manusia dan ilahi.

vAlkitab dipahami sebagai petunjuk-petunjuk dalam hal etis, hanya sebatas patokan iman serta usaha untuk mengenal Allah. Bahayanya adalah usaha manusia dan rasionalisme manusia.

vSoteriologi: -

vEklesiologi: Keduanya (perjamuan kudus dan baptisan) tidak boleh dilayankan selain oleh seorang pelayan Firman yang diteguhkan dengan cara yang sah. Apakah ini Alkitabiah? Seandainya tidak ada bagaimana?

vKristologi: Mengenai Kristologi ia memandang adanya dua tabiat (manusia dan ilahi) yang melebur/bergabung menjadi satu dan tetap mempertahankan keasliannya. Bagaimana hal ini bisa terjadi dan bagaimana prosesnya?



[1]Paull Enns, The Moody Handbook of Theology, jil. 2, pen., Rahmiati Tanudjaja, peny., Sri Lestarini, Elisabeth Yuliasari (Malang: Literatur SAAT, 2004), 103.

[2]Ibid.,

[3]Ibid.,

[4]Ibid., 107.

[5]F.D. Wellem, “Calvinisme,” dalam Kamus Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia,

2004),52.

[6]Christian Sulistio, Kesaksian Internal Roh Kudus Menurut John Calvin dalam Veritas 3/2
(Oktober 2002):247-248.

[7]John Calvin, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme, peny., Th. Van den End (Jakarta:BPK Gunung Mulia,2001), 6.

[8]Anthony A. Hoekema, Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah, pen., Irwan Tjulianto, peny., Hendry Ongkowidjojo (Surabaya: Momentum, 2003), 243.

[9]Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, pen., Liem Sien Kie (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 146.

[10]Henry Efferin, Doktrin Pilihan dari Perspektif Reformed Kontemporer dalam Veritas 3/1 (April 2002): 17.

[11]Kalvin S. Budiman, Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi dalam Veritas 2/2 (Oktober 2001): 174.

[12]Ibid., 53.

[13]Christian de Jonge, Gereja Mencari Jawab: Kapita Selekta Sejarah Gereja (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1994), 30.

[14]Penjelasan lebih lanjut lihat dalam TH. Van Den End, Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986), 195.

[15]John Calvin, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme, 133.

[16]Penjelasan lebih lanjut lihat dalam John Calvin, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme.

[17]Ibid, 31.

[18]Penjelasan lebih lanjut lihat dalam H. Berkhof, Sejarah Gereja, peny., I.H. Enklaar (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 175.

[19]Louis Berkhof, Teologi Sistematika:Doktrin Kristus (Surabaya: Momentum, 2002), 15.