Tampilkan postingan dengan label tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tuhan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Agustus 2008

GIDI:TIDAK ADA GAJI BERKAT TIAP HARI

”GIDI: TIDAK ADA GAJI BERKAT TIAP HARI”

(suatu refleksi serta kontemplasi diri terhadap panggilan Tuhan)

Oleh: Ev. Chornelius Sutriyono, S.Th*


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah gaji dapat dimaknai sbb; pertama, upah kerja yang dibayar diwaktu yang tetap; kedua, balas jasa yang diterima pekerja dalam bentuk uang berdasarkan waktu tertentu ”bulanan.” Dari definisi ini maka dapat ditarik pengertian bahwa gaji itu bersifat tetap (konstan). Keterlambatan bahkan pengabaian terhadap hal ini berarti pelanggaran terhadap hak pekerja. Disamping itu, jika berbicara gaji selalu berhubungan dengan uang.

Apabila hal ini dikaitkan dalam konteks pelayanan maka banyak organisasi Kristen (gereja) bahkan juga Hamba Tuhan terlalu sulit menerima istilah ini. Lebih halusnya, biasa mereka memakai istilah ”persembahan kasih,” ”persembahan bulanan,” ”kewajiban gereja,” ”berkat,” dll. Pertanyaan penting disini adalah apakah Hamba Tuhan perlu digaji? Sebagai wujud ucapan terima kasih dan penghargaan wajibkah diberlakukan gaji dalam gereja?

”GIDI: tidak ada gaji berkat tiap hari” adalah sebuah pernyataan iman. Meskipun secara universal pernyataan ini kurang tepat, karena bersifat generalisasi (umum) dan kebenarannya ada banyak hamba Tuhan yang di gaji. Namun dalam tulisan ini kita tidak sedang mempersoalkan hal ini tetapi mencari keselarasan pemahaman akan orientasi sebuah pelayanan. Ada dan tidak ada gaji seharusnya bukan menjadi ukuran atau motivasi dalam pelayanan.

Secara sederhana, ketika ada gaji biasanya mempengaruhi kinerja pekerja. Apakah itu akan berdampak juga bagi Hamba Tuhan? Dalam arti, ketika digaji apakah pelayanan semakin termotivasi dan berdedikasi? Meskipun seharusnya, motivasi dan dedikasi bukan tergantung atau bersumber dari hal itu.

Namun realita yang ada cukup memberi bukti bahwa banyak yang digaji justru berdampak negatif-tidak bergantung kepada Tuhan. Tidak sedikit pelayanan gagal, tidak lagi berminat dan bergeser motivasi dengan orientasi ”upah.” Akhirnya, tempat pelayanan tidak ubahnya menjadi tempat kerja mencari uang. Benar memang, semua orang perlu uang termasuk hamba Tuhan tetapi bukan berarti melayani untuk mencari uang. Ingat bahwa kita menjadi hamba Tuhan bukan karena orang lain, keluarga atau teman melainkan karena panggilan Allah. Mempercayai hal ini itu sama artinya kita mempercayakan kebutuhan kita kepada Tuhan.

Ketika berbicara gaji sering dikonotasikan-sekuler. Oleh karena itu, biasa beberapa gereja tidak memakai istilah ini tetapi dengan istilah lain yang nampak lebih halus. Masalah istilah, sesungguhnya tidak menjadi persoalan, yang lebih penting disini adalah motivasi terdalam yang mengiringinya. Apabila gaji diberlakukan dan menjadi pendapatan wajib bagi Hamba Tuhan sebenarnya tidak ada masalah. Yang jauh bermasalah adalah mengapa Gereja tidak memberikan ”gaji”? Pertanyaan mengapa harus dipahami tanpa tendensi apapun, jujur dan terbuka. Kalau tidak digaji karena memang keadaan gereja tidak mampu dan Hamba Tuhan menyadari panggilannya bukan mencari gaji, hal itu tidak jadi persoalan. Namun disayangkan apabila gereja mampu tetapi terlalu sulit memperhatikan kebutuhan Hamba Tuhan, mengapa?

Ada banyak hamba Tuhan digaji, pelayanan tidak teruji. Ada pula yang tanpa gaji tetapi pelayanan terpuji dan diakui. Secara sederhana bersyukurlah dengan apa yang kita miliki sekarang. Hamba Tuhan adalah jabatan/posisi yang Tuhan berikan bagi kita dan bukan dari manusia. Menyadari hal itu berarti kita mempercayakan kehidupan kita seutuhnya pada pemeliharaan Allah yang tidak pernah terlambat dalam waktu dan cara yang luar biasa. Ingat kembali, banyak orang menjadi hamba Tuhan bukan karena ingin melakukan sesuatu dari posisinya tetapi ingin mendapatkan sesuatu dari posisinya. Apakah itu termasuk kita? Jadilah hamba yang setia yang benar-benar menghidupi panggilan kita. Amin.



KESETIAAN TUHAN MEMBERIKAN PENGAMPUNAN KEPADA MANUSIA TERHADAP DIMENSI DOSA

KESETIAAN TUHAN MEMBERIKAN PENGAMPUNAN

KEPADA MANUSIA TERHADAP DIMENSI DOSA

(1 Yoh. 1: 9)

Oleh: Ev. Ch. Sutriyono, S.Th*

Pendahuluan

Allah adalah pribadi yang setia terhadap umat-Nya. Dimasa lampau, kesetiaan pemeliharaan-Nya dinyatakan dengan membebaskan Israel - umat pilihan-Nya itu dari perbudakan keras di Mesir. Tidak hanya itu, ketika mereka terpojok karena kejaran tentara Firaun dan diperhadapkan dengan hamparan Laut luas, lagi-lagi kesetiaan-Nya dinyatakan dengan membelah Laut itu sehingga umat Israel dapat menyeberang tanpa tenggelam.

Bahkan sejak awal disaat terjadi konflik antara manusia dengan Allah, yakni hadirnya dosa di dunia ini, kulminasi kesetiaan-Nya dinyatakan kepada manusia dengan jalan Allah turun ke dunia menjadi manusia bahkan mati dikayu salib untuk menebus manusia dari dosa-dosanya.

Berbicara tentang kesetiaan Tuhan, manusia dengan pikiran terbatasnya tentu tidak dapat memahaminya. Ketidakmampuan itu, disebabkan bukan karena ”bodohnya penalaran,” ”sempitnya pikiran,” ”beku kemampuannya” melainkan kesetiaan Tuhan luas aspeknya. Disamping itu, intepretasi terhadapnya pun berbeda-beda. Dan, seringnya manusia salah dalam memahaminya.

Dalam surat 1 Yohanes, sesungguhnya kita diperlihatkan akan adanya pergumulan yang berat dalam diri manusia ketika menghadapi masalah terbesar sepanjang masa yakni dosa. Konteks menunjukkan bahwa orang-orang percaya sedang bergumul dalam menghadapi dosa yang mengakibatkan rusaknya persekutuan, baik dengan Tuhan maupun sesamanya (1 Yoh. 1:6).

Dalam tema kali ini, kita akan melihat dan mengetahui lebih dalam seputar alasan mengapa Tuhan setia memberikan pengampunan kepada manusia terhadap dimensi dosa. Ingat bahwa dalam hal ini bukan dosa orang yang belum percaya saja - kemudian bertobat dan Tuhan ampuni tetapi kepada orang yang sudah percaya dan jatuh ke dalam dosa Allah juga setia memberikan pengampunan. Pertanyaan menarik disini adalah, apa dasarnya?

Dasar Kesetiaan Tuhan Memberikan Pengampunan

Wajar bagi manusia apabila setia kepada Allah. Karena Allah selalu menunjukkan kesetiaan-Nya dalam berbagai cara dan waktu kepada manusia meskipun disisi lain manusia terus bergumul untuk setia kepada Allah. Alasan mungkin bisa diberikan, karena Tuhan Pencipta dan baik adanya; dalam kasih, pemeliharaan-Nya dan kuasa-Nya yang luar biasa. Namun sangat sulit untuk dimengerti apabila Allah setia kepada manusia secara khusus dalam memberikan pengampunan. Apabila Allah setia, apa dasarnya?

Pertama: Adanya Pengakuan Manusia Terhadap Dosa

Dasar pertama, mengapa Tuhan setia memberikan pengampunan kepada manusia terhadap dimensi dosa adalah; adanya pengakuan manusia terhadap dosa. Dalam ayat 9, dikatakan; ”jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Ayat ini diawali dengan kalimat bersyarat ”jika” yang kemudian diikuti dengan akibat yang ditimbulkan dari yang disyaratkan (mengaku: diampuni dan disucikan).

Persoalan dan pertanyaan serius sehubungan dengan hal ini adalah; dosa apa dan mana yang harus diakui? Apakah harus mengakui semua dosa? Bagaimana dengan sifat manusia yang mudah melupakan ”kisah buruk” yakni dosa dalam hidupnya? Dalam arti, mampukah manusia mengingat semua dosanya untuk diakui? Pengakuan yang dimaksud sesungguhnya dalam hal apa? Apakah pengakuan memutuskan akibat/konsekuensi dosa? Kemudian dimanakah letak keadilan Tuhan kalau dosa diampuni?

Frase ”jika kita mengaku dosa kita” berasal dari kata Yunani ”ean homologomen tas hamartias hemon,” yang dapat diterjemahkan ”jika kita mengaku dosa-dosa kita.” Dalam hal ini nuansa dan aspek dosa yang harus diakui lebih jelas (dosa-dosa kita: jamak) dan sangat berbeda dengan terjemahan Bahasa Indonesia (dosa kita: tunggal).

Kata ”mengaku” berasal dari kata Yunani ”homologomen” parsingnya adalah: kata kerja, subyungtif, kini, aktif - orang pertama jamak. Dari akar kata homologeo yang artinya: mengakui, mengaku, berterus terang, memuliakan (Ibr. 13:13). Modus subyungtif dalam hal ini, lebih tepat menyatakan fungsi kondisional yakni syarat ”kebenaran umum kini.”

Kembali, sehubungan dengan dosa apa dan yang mana yang harus diakui, secara konteks tidak jelas disebutkan (2:11). Dan mengenai kata ”mengakui” ayat itu dihubungkan dengan ayat 8 dan 9 ”jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa.” Secara positif berarti seseorang harus berkata bahwa ia berdosa. Dalam hal ini ”mengaku” yang dimaksud bukan hanya menunjuk dosa apa dan yang mana (secara spesifik) melainkan seseorang harus mengaku bahwa diri berdosa.

Seseorang harus menyadari bahwa keberdosaan itu selalu mengancam kehidupan mereka dan mereka harus senantiasa membutuhkan pertolongan Roh kudus (untuk memulihkan persekutuan yang rusak akibat dosa). Dalam hal ini diperlukan kerendahatian dan keterbukaan yang dengan sadar mengaku dosanya - melibatkan emosi. Sehingga kepastian kebenaran akibat dari pengakuan yakni pengampunan dan penyucian menjadi kenyataan yang tak diragukan.

Secara posisi orang percaya memang ada dalam kondisi aman dan pengakuan adalah jalan keluar untuk penyelesaian dari segi pengalaman. Sebab selama manusia hidup di dunia ini, ia akan selalu diperhadapkan dengan pergumulan dosa. Dan ayat ini sesungguhnya menjadi jalan keluar bagi orang percaya yang jatuh ke dalam perbuatan dosa. Pengakuan ini diperlukan disamping menunjukkan sikap kerendahatian dan sikap keterbukaan manusia dihadapan Tuhan, hal ini juga menyangkut pemenuhan terhadap apa yang disyaratkan Tuhan (bukti ketaatan).

Dalam pengakuan, manusia menyadari bahwa hidupnya dalam keseluruhannya tidak ada yang tersembunyi dihadapan Tuhan karena Tuhan melihat. Sehubungan dengan ini, Daud pernah berkata dalam Mazmur 32:3-4: ”Selama aku tidak mengakui dosaku aku merana karena mengaduh sepanjang hari. Siang malam Engkau menekan aku, TUHAN, tenagaku habis seperti diserap terik matahari (BIS).” C.S. Lewis juga pernah berkata; ”Orang kristen punya keuntungan besar. Bukan karena kurang jatuh dalam dosa dari pada mereka, juga bukan karena kurang terkutuk untuk hidup di dunia yang jatuh ke dalam dosa tetapi karena menyadari bahwa ia adalah orang berdosa di dunia yang berdosa.

Kedua: Adanya Ikatan Darah: Persekutuan Dengan Yesus

Alkitab berkata; ”jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Pengampunan dan penyucian sebagai akibat dari pengakuan dihubungkan dengan ayat sebelumnya yakni melalui ”Darah Yesus, Anak-Nya itu” (ay. 7). Melalui ”Darah Yesus, Anak-Nya itu” - yang tercurah dikayu salib itulah yang memberikan pengampunan kepada manusia atas dosa yang dialaminya. Melalui ”Darah Yesus, Anak-Nya itu” manusia diperdamaikan dengan Allah. Darah Yesuslah yang menyucikan. Dan hal itu terjadi sekali untuk selamanya. Sehubungan dengan hal itu, Brooke Foss Westcott mengatakan: ”Darah Yesus menyebabkan keadaan tidak berdosa itu menjadi kenyataan. Hal itu perlu untuk bersekutu dengan Allah.”

Peristiwa Salib tidak perlu terulang lagi karena pengorbanan Yesus adalah untuk memperdamaikan dosa seluruh dunia (2:2). Manusia yang percaya kepada salib berarti ada ikatan dengan ”Darah Yesus, Anak-Nya itu.” Hal itu dipertegas dalam pasal 1 ayatnya yang ke-3 ”mendapatkan persekutuan.” Pada masa Perjanjian Lama, kita diingatkan dengan satu kisah tentang tulah di Mesir - anak sulung mati. Melalui Darah Anak Domba yang dioleskan pada ambang pintu, anak sulung tidak jadi mati karena malaikat maut melewatinya. Mengapa hal ini terjadi? Karena sebelumnya Allah sudah mengikat perjanjian kepada umat-Nya melalui Darah yang dioleskan diambang pintu. Sesungguhnya melalui Darah Anak Domba ada ikatan janji antara Allah dengan umat Israel. Melalui Darah itulah terjadi persekutuan dan janji Allah berlaku atas kita orang percaya.

Kata ”mengampuni” berasal dari kata Yunani ”afe” merupakan kata kerja subyungtif, aorist, aktif - orang ketiga tunggal dari akar kata ”afiemi” artinya: meninggalkan, bercerai, membiarkan, memperbolehkan, mengampuni. Kala aoris pada umumnya mengabaikan soal pencapaian atau kelangsungannya, tekanan diberikan pada penegasan akan adanya tindakan atau peristiwa. Sedangkan subyungtif menyatakan fungsi kondisional - kebenaran umum kini. Dengan demikian dapat dipahami bahwa tindakan mengampuni merupakan kebenaran umum yang ditimbulkan dari apa yang disyaratkan ”jika mengakui.”

Ketiga: Bapa Pribadi yang Berkuasa Mengampuni Dosa

Perhatikan kata ”Ia” yang dalam ayat ini diulangi berkali-kali. Secara konteks kata ”Ia” dalam ayat ini jelas menunjuk kepada Pribadi Yesus Kristus (1:3,7:2:1-2). Pengampunan sejak semula adalah bukan inisiatif manusia melainkan Allah. Manusia tidak mampu mengatasi masalahnya tanpa Allah, karena manusia tidak mempunyai kemampuan untuk mengeluarkan dirinya sendiri tanpa bantuan pihak yang Superior.

Kini, manusia menjadi makluk bejat yang merosot aklaknya, terasing dari Allah dan hidup dalam dosa dan pemberontakan, dibawah hukum Allah yang adil dan Allah yang kudus mereka melanggar. Artinya untuk bisa keluar dari pergumulan berat itu, inisiatif Allahlah yang merealisasikannya.

Pada masa Perjanjian Lama orang takut bertemu dengan Allah secara pribadi. Mereka takut bertemu karena dosa-dosanya. Pengalaman bangsa Israel ketika di gunung Sinai, mereka mewakilkannya kepada Musa. Orang Perjanjian Lama tidak bisa melihat Allah sebagai Bapa yang berkuasa mengampuni dosa. Sebenarnya konsep Bapa sudah muncul dalam Perjanjian Lama (Ul. 4:7), namun bangsa Israel tidak mampu melihat hal itu. Konsep itu berkembang dan nampak jelas dalam Perjanjian Baru, pada masa gereja. Bahkan dalam Perjanjian Baru, banyak kita temui konsep Allah sebagai Bapa. Lihatlah Allah sebagai Bapa yang berkuasa mengampuni dosa anda.

Penutup

Apakah hari-hari ini hidup anda terasa berat? Begitu banyak pergumulan dalam hidup anda? Mungkin masalah keluarga, pendidikan, pekerjaan, ekonomi, pribadi bahkan mungkin dosa-dosa anda. Anda mungkin merasa Allah hadir tetapi pertolongan-Nya jauh dari anda atau mungkin iblis menuduh anda dan mengingatkan akan masa lalu anda yang kelam? Ketahuilah Allah tidak pernah berubah. Dahulu, kemarin, sekarang bahkan untuk selama-lamanya Ia tetap Allah yang menerima kita, mengasihi kita apa adanya, dan tidak pernah menolak kita bahkan Dia adalah Allah yang berkuasa mengampuni dosa anda.