TINJAUAN UMUM TERHADAP CALVINISME
Oleh: Ev. Chornelius Sutriyono, S.Th
Berbicara tentang calvinisme maka itu berarti berbicara tentang iman Reformed.[1] Teologi Calvinisme atau iman Reformed berakar pada tulisan-tulisan John Calvin, khususnya yang diekspresikan dalam Institutes of the Christian Religion.[2] John Calvin (1509-1564) lahir di Noyon, Picardy, enam belas mil di sebelah utara timur
Bibliologi dalam ajaran Calvin
Alkitab dipandang sebagai aturan bagi iman. Keenam puluh enam kitab PL dan PB diakui memberikan “inspirasi ilahi, otoritas dan cukup sebagai patokan iman dan praktis yang tanpa salah.” Tradisi-tradisi dari Roma Katolik, Apokripa, dan Humanisme harus ditolak.[4] Ia cukup berisi segala sesuatu yang perlu untuk mengenal Allah dan tugas-tugas orang percaya terhadap Allah dan sesama manusia. Kewibawaan Alkitab terjamin oleh pekerjaan Roh Kudus.[5] Lebih lanjut ia memakai Alkitab juga sebagai buku petunjuk-petunjuk etis, sesuai dengan semangat Humanis, walaupun dengan tegas dalam konteks ajaran Luther.
Calvin memandang Alkitab berasal dari Allah sehingga memiliki otoritas ilahi di dalamnya. Baginya, Alkitab berasal dari Allah karena diinspirasikan oleh Allah sendiri. Karena inspirasi Allah inilah maka Alkitab memiliki otoritas intrinsik. Pada bagian ini ia tidak berbicara mengenai kesaksian internal yang memberikan otoritas kepada Alkitab sebab baginya otoritas itu muncul karena Alkitab diinspirasikan. Dengan demikian Alkitab membuktikan kebenarannya sendiri. Lebih jelas ia mengatakan bahwa Alkitab mengabsahkan dirinya sendiri. Dengan demikian dasar obyektif bagi keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Allah terletak kepada Alkitab itu sendiri.[6]
Soteriologi dalam ajaran Calvin
Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, ia dapat mencapai kebajikan melalui kuasa-kuasa alamiah, namun kejatuhan manusia ke dalam dosa telah mengubah hakikat manusia sehingga sekarang semua manusia berada di bawah kuasa dosa. Manusia telah kehilangan segala kebaikan dan tersandung sehingga bergelimang kemalangan dan kutuk.[7] Manusia tidak bebas lagi, sehingga ia memerlukan rahmat Allah. Semua perbuatan manusia pada hakikatnya adalah dosa dan manusia hanya dibenarkan karena rahmat Allah saja. Perbuatan baik tidak mempunyai andil apa pun dalam tindakan pembenaran Allah terhadap manusia berdosa (kerusakan manusia yang telah jatuh).[8]
Pembenaran Allah hanya dapat disambut oleh manusia dengan iman. Calvin menyatakan bahwa baik pembenaran maupun kelahiran kembali merupakan hasil dari persatuan orang percaya dengan Kristus melalui iman.[9] Iman mempersatukan orang percaya dengan Kristus di dalam suatu “kesatuan mistis” (di sini Calvin mengklaim kembali tekanan Luther atas kehadiran yang nyata dan pribadi dari Kristus di dalam diri orang-orang percaya yang dibangun melalui iman). Persatuan dengan Kristus ini mempunyai dampak rangkap dua yang disebut oleh Calvin sebagai anugerah ganda.
Pertama, persatuan antara orang percaya dengan Kristus membawa secara langsung pada pembenaran dirinya. Melalui Kristus, orang percaya dinyatakan menjadi benar dalam pandangan Allah. Kedua, oleh karena persatuan orang percaya dengan Kristus-dan bukan karena pembenaran atasnya-orang percaya itu mulai melakukan proses menjadi seperti Kristus melalui kelahiran kembali.
Disamping itu, Calvin menjabarkan predestinasi sebagai berikut; “Predestinasi disebut ketetapan Allah yang kekal, yang melaluinya Ia telah menetapkan di dalam
Calvin mengajarkan bahwa Allah, dalam tindakan predestinasinya, memilih orang-orang tertentu untuk keselamatan. Pemilihan itu sendiri berdasarkan pada istilah panggil (Yunani kaleo) yang berarti “memanggil keluar dari antara.” Calvin bersikeras bahwa pemilihan dan predestinasi merupakan suatu keharusan karena kejatuhan manusia. Apabila manusia itu mati dalam pelanggaran dan dosa-dosa (Ef. 2:1), maka merupakan suatu keharusan bagi Allah untuk berinisiatif menyelamatkan manusia. Manusia dalam kondisi tercemarnya sama sekali tidak mampu untuk bergerak ke arah Allah.
Bagi Calvin, predestinasi bukanlah suatu pendekatan deduktif yang didasarkan pada konsep yang sudah ada sebelumnya mengenai kedaulatan dan kemahakuasaan Allah. Dengan kata lain, predestinasi tidak dijadikan sebagai suatu doktrin abstrak berdasarkan penetapan Allah di dalam kekekalan-Nya, tetapi sebagai suatu refleksi atas misteri pengalaman manusia sebagaimana terlihat dari keragaman responnya terhadap anugerah keselamatan tersebut.[10]
Dengan kata lain, Calvin menempatkan doktrin-doktrin predestinasi di dalam konteks soteriologi, Calvin berusaha untuk menunjukkan bahwa fungsionalitas doktrin predestinasi sebagai dasar jaminan keselamatan dapat ditimba oleh setiap orang percaya. Hal ini bisa terjadi apabila kita memulai pemahaman tentang predestinasi dengan breangkat dari latter signs atau tanda-tanda keselamatan yang Allah nyatakan kepada kita, dan dengan memandang kepada Yesus Kristus sebagai the mirror of election.[11]
Eklesiologi dalam ajaran Calvin
Calvinisme membela teokrasi di dalam gereja.[12] Gereja adalah milik Kristus dan Pendeta bukan pegawai pemerintah, melainkan pelayan Firman yang bertanggung jawab kepada Tuhan.[13] Negara harus bersama-sama dengan gereja untuk menegakkan keadilan serta memuliakan Allah. Kedua-duanya harus berdampingan dan masing-masing mendapat tugas tertentu dari Allah yang harus dipertanggungjawabkannya kepada Tuhan Allah.[14]
Mengenai sakramen, hanya ada dua yang ditetapkan oleh Kristus Tuhan kita dalam Injil, yaitu Baptisan dan Perjamuan Malam Tuhan.[15] Keduanya tidak boleh dilayankan selain oleh seorang pelayan Firman yang diteguhkan dengan cara yang sah.[16] Dalam Perjamuan kudus, Calvin berusaha untuk mencari jalan tengah antara ajaran Luther dan Zwingli.[17] Ia menolak bahwa Kristus hadir secara jasmani dalam Perjamuan Kudus dengan cara yang diajarkan Luther, yaitu bahwa kehadiran Kristus terikat pada roti dan anggur dan terlepas dari iman orang yang menerima Perjamuan Kudus (menurut pandangan Luther, yang sesuai dengan teologi Abad Pertengahan, orang yang tidak percaya pun menerima tubuh dan darah Kristus, walaupun bukan demi keselamatan melainkan demi kebinasaan).[18]
Pada pihak lain ia juga menolak bahwa Perjamuan Kudus hanya tindakan pengakuan jemaat yang memupuk semangat iman saja, seperi dikatakan Zwingli. Bagi Calvin, Perjamuan Kudus (dan Baptisan) adalah tanda yang diberikan Kristus untuk menunjuk pada penyelamatan manusia, yang memeteraikan keselamatan ini dalam diri orang percaya. Terlepas dari iman Perjamuan Kudus roti dan anggur melulu. Akan tetapi dalam iman keselamatan itu menjadi begitu nyata sehingga Calvin dapat mengatakan bahwa Kristus sungguh-sungguh hadir, bukan dengan tubuh-Nya (karena tubuh-Nya ada di surga) tetapi dalam Roh Kudus.
Kristologi dalam ajaran Calvin
Dalam pengakuan iman gereja Perancis (1559), bahwa Yesus Kristus, yang adalah hikmat Allah dan Anak-Nya yang kekal, telah mengenakan daging, untuk menjadi Allah dan manusia dalam satu Pribadi. Dia menjadi manusia yang serupa dengan kita, yang dapat menderita dalam tubuh dan jiwa. Hanya saja, Dia suci, tanpa noda apapun. Dan menurut kemanusiaan-Nya Dia benar-benar keturunan Abraham dan Daud, meskipun Dia dikandung oleh kekuatan tersembunyi Roh Kudus.
Kedua tabiat itu digabungkan dan disatukan benar-benar dan secara tak terpisahkan dalam satu Pribadi yang tunggal, yaitu Yesus Kristus. Namun, masing-masing tetap memiliki sifatnya sendiri dan tetap bersifat tak diciptakan, tidak terhingga, dan memenuhi segala sesuatu; begitu pula tabiat kemanusiaan tetap bersifat berhingga dan memiliki bentuk, ukuran, dan sifatnya sendiri. Dan kendati Yesus Kristus, ketika Dia bangkit, telah memberi tubuh-Nya ketidakfanaan, namun dia tidak meniadakan keaslian tabiat-Nya. Maka kita memandang Dia dalam keilahian-Nya dengan cara yang tidak menanggalkan kemanusiaan-Nya.
Hal ini berbeda dengan pandangan Lutheran mengenai Kristologi. Doktrin Luther akan kehadiran fisik Kristus dalam Perjamuan Kudus membawa pada pandangan Lutheran yang khas yaitu communication idiomatum, yang menyatakan bahwa “setiap nature Kristus mengalirkan nature yang lain ‘perichoresis,’ dan bahwa kemanusiaan-Nya mengambil bagian dalam atribut-atribut ilahi-Nya. Mereka berpegang bahwa sifat mahakuasa, mahatahu dan mahahadir diberikan pada nature manusia pada saat inkarnasi.[19]
| No. | Positif | Negatif |
| 1. | · Bibliologi: Alkitab berasal dari Allah, memiliki otoritas dan adalah firman Allah. · Soteriologi: Semua perbuatan manusia pada hakikatnya adalah dosa dan manusia hanya dibenarkan karena rahmat Allah saja. · Predestinasi dan pemilihan merupakan konsep Alkitabiah. · Eklesiologi: Pandangan mengenai Perjamuan (Kudus n Baptisan) Alkitabiah. · Kristologi: Pandangan terhadap Kristologi Alkitabiah. Ia memahami bahwa Kristus adalah anak manusia dan ilahi. | vAlkitab dipahami sebagai petunjuk-petunjuk dalam hal etis, hanya sebatas patokan iman serta usaha untuk mengenal Allah. Bahayanya adalah usaha manusia dan rasionalisme manusia. vSoteriologi: - vEklesiologi: Keduanya (perjamuan kudus dan baptisan) tidak boleh dilayankan selain oleh seorang pelayan Firman yang diteguhkan dengan cara yang sah. Apakah ini Alkitabiah? Seandainya tidak ada bagaimana? vKristologi: Mengenai Kristologi ia memandang adanya dua tabiat (manusia dan ilahi) yang melebur/bergabung menjadi satu dan tetap mempertahankan keasliannya. Bagaimana hal ini bisa terjadi dan bagaimana prosesnya? |
[1]Paull Enns, The Moody Handbook of Theology, jil. 2, pen., Rahmiati Tanudjaja, peny., Sri Lestarini, Elisabeth Yuliasari (
[2]Ibid.,
[3]Ibid.,
[4]Ibid., 107.
[5]F.D. Wellem, “Calvinisme,” dalam Kamus Sejarah Gereja (
2004),52.
[6]Christian Sulistio, Kesaksian Internal Roh Kudus Menurut John Calvin dalam Veritas 3/2
(Oktober 2002):247-248.
[7]John Calvin, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme, peny., Th. Van den End (
[8]Anthony A. Hoekema, Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah, pen., Irwan Tjulianto, peny., Hendry Ongkowidjojo (Surabaya: Momentum, 2003), 243.
[9]Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, pen., Liem Sien Kie (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 146.
[10]Henry Efferin, Doktrin Pilihan dari Perspektif Reformed Kontemporer dalam Veritas 3/1 (April 2002): 17.
[11]Kalvin S. Budiman, Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi dalam Veritas 2/2 (Oktober 2001): 174.
[12]Ibid., 53.
[13]Christian de Jonge, Gereja Mencari Jawab: Kapita Selekta Sejarah Gereja (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1994), 30.
[14]Penjelasan lebih lanjut lihat dalam TH. Van Den End, Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986), 195.
[15]John Calvin, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme, 133.
[16]Penjelasan lebih lanjut lihat dalam John Calvin, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme.
[17]Ibid, 31.
[18]Penjelasan lebih lanjut lihat dalam H. Berkhof, Sejarah Gereja, peny., I.H. Enklaar (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 175.
[19]Louis Berkhof, Teologi Sistematika:Doktrin Kristus (
Tidak ada komentar:
Posting Komentar