Senin, 01 Desember 2008

”AGENDA SIDANG”

Pemimpin Sidang : Pdt. Ishak Lambe, Sm.Th
Moderator : Ev. Yimin Weya, S. Pd
Notulen : Ev. Chornelius Sutriyono, S.Th

Hari Pertama, Jumat, 28 November 2008:
GIDI Mimika membutuhkan pengkaderan sekolah Alkitab Theologia
Ev। Sudirman Harianja: Bukan hanya menyekolahkan/ mengutus tetapi suport dana (intensif)
Luther Kogoya: masing-masing jemaat perlu mendukung biaya karena beban studi apalagi diluar Papua mahal


Tugas dan kewajiban gereja kepada seluruh anggota Jemaat GIDI Mimika seperti: (Nit Jemaat GIDI Mimika Allah nen yabu ekologorak yinuk waniragarak nogo ti nogo ammbi:
v Pemberkatan nikah gereja kepada anggota jemaat (Allah endege paga nikah agolek nogo eriak)
v Penyerahan anak kepada Tuhan dilakukan oleh jemaat masing-masing. (Nit ninapuri logwe Allah paga piyorak nogo)
v Pembaptisan anggota jemaat (Allah apuri yime wupiyorak nogo)

Depias Erelak: dari 3 kewajiban gereja kepada anggota jemaat tolong tambahkan untuk dijalankan perjamuan kudus dimasing-masing jemaat. Selain itu, kunjungan ke jemaat bagi yang sakit (doa) juga perlu terus dilakukan oleh Hamba Tuhan sebagai tugas pastoral
Ev. Sudirman Harianja: kalau belum dikukuhkan (hamba Tuhan) jangan dulu terlibat dalam pelayanan tetapi ambil waktu untuk merenung (kontemplasi)
Pdt. Ishak Lambe: dalam acara pernikahan, penyerahan anak dan pembabtisan dapat dilakukan dimasing-masing jemaat. Bertepatan dengan itu, penggalangan dana (amplop) juga dapat dilakukan guna lancarnya lajur pelayanan

Seorang hamba Tuhan datang dari luar perlu membawa surat keterangan dari Klasis atau wilayah setempat
Bagi yang pindahan perlu membawa/ melengkapi surat kepindahan dari Klasis atau wilayah sebelumnya (Pengantar/ Rekomendasi)
Disamping itu, perlu melengkapi dan menyerahkan Identitas Diri: surat Babtis dan surat Nikah

Siasat /discipline seorang hamba Tuhan jika melanggar aturan gereja
Melkias Murib: dalam hal siasat, perlu penjabaran secara rinci (pelanggarannya apa dan berapa bulan siasat dilakukan)
Depias Erelak: bagi Hamba Tuhan yang memiliki anak dan melanggar aturan gereja (masih bujang) pemberian siasat melibatkan orang tua anak tetapi bagi anak yang melanggar dan sudah menikah/berkeluarga siasat tidak berlaku bagi Hamba Tuhan

Mitra/kerja sama dengan gereja tetangga seperti Baptis, Kemah Injil, GKIP, dll
Ev. Sudirman Harianja: BPH yang baru perlu membuat terobosan kerjasama dengan gereja tetangga untuk menolak banyak hal: Miras, Pelacuran, Perang, dll.
Luther Kogoya: Tema Sidang harus menjadi motto BPH yang baru dalam tahun pelayanan mereka

Pengusulan calon-calon jabatan Pendeta, Evangelis, untuk ditahbisan pada Sidang Sinode GIDI- Maret 2009.

Keputusan Pra-Sidang: Ada empat nama calon Pendeta:
Elias Tabuni
Temur Murib
Pulias Kiwo
Ev. Sudirman Harianja, S.Th
Pelayanan di Tanah Merah (Pendeta)
Butinggen Gurik
Okotebak Lambe
Pelayanan di Koroi Batu (Pendeta)
Bigber Gurik
Usman Kogoya


Hari kedua: Sabtu, 29 November 2008

Upah pelayanan seorang Hamba Tuhan (BPH Klasis, Dewan dan Gembala) masing2 jemaat GIDI Mimika.

Luther Kogoya: masalah upah, perlu ditetapkan besarannya atau tidak?
Gerson Uaga: Dalam dua periode (kepengurusan BPH) Hamba Tuhan hanya melayani secara sukarelawan. Oleh karena itu, perlu memikirkan tentang upah tetapi harus melihat kondisi masing-masing jemaat.
Sudirman Harianja: Istilah Upah mungkin perlu diganti dengan KESEJAHTERAAN Hamba Tuhan?
Sudirman Harianja: mengenai upah/kesejahteraan Hamba Tuhan tidak bisa disama ratakan dalam setiap jemaat karena kondisi jemaat satu dengan lainnya berbeda. Dalam hal ini, berikan kewenangan kepada Majelis setempat untuk mengaturnya.
Hengki Felle: mengenai kesejahteraan Hamba Tuhan hal itu sesuai dengan prinsif Firman Tuhan, tidak melakukan berarti berdosa. Dan teknisnya, untuk kesejahteraan Hamba Tuhan ditentukan masing-masing jemaat-melihat kondisi jemaat setempat.
Luther Kogoya: Kita sering mengkritik pelayanan tetapi tidak pernah memberi kepada BPH Klasis dan Gembala. Pinjam uang Gereja hanya untuk bayar masalah/kepala dan tidak kembali.
Depias Erelak: setuju kalau istilah upah diganti kesejahteraan Hamba-hamba Tuhan. Kesejahteraan Gembala dikembalikan ke Jemaat masing-masing tetapi kesejahteraan Klasis dan Dewan kita harus pikirkan sumber kesejahteraannya berasal dari mana? Diusulkan, Hamba Tuhan harus mengajar tentang persepuluhan dimasing-masing jemaat.

Pembentukan kepala Suku umum di kalangan GIDI Mimika.

Pertimbangan: Selama ini kewenangan/tugas BPH khususnya, Ketua Klasis terlalu MELEBAR LUAS sehingga perlu pengkhususan untuk masalah-masalah sosial antar warga dengan mengangkat Kepala Suku dikalangan GIDI
DIUSULKAN: NUS JIKWA

Penyelesaian dan pembayaran masalah yang di pandang oleh warga GIDI Mimika adalah:
v Pembayaran masalah pembunuhan
v Pembayaran emas kawin
v Perceraian istri atau suami
v Seseorang meninggal DUNIA dari kalangan GIDI sering melakukan perusakan rumah पिहक
keluarga korban duka.
v Perkelahian karena di pengaruhi alkohol.

Dalam menyelesaikan masalah ini, perlu melihat kembali prinsif-prinsif secara Alkitabiah. KEMUDIAN, orang-orang yang sudah dipilih dengan kewenangan menyelesaikan masalah (kepala kampung) yang ada dimasyarakat harus menjalankan fungsinya dengan baik.
@ Pembunuhan: kesepakatan dan melihat
Kemampuan (35 Juta bagi yang menuntut-sesuai hukum Pemerintah, tetapi kalau pihak keluarga tidak menuntut hal itu tidak berlaku)

Masukan:
Temur Murib: dalam menyelesaikan masalah tidak boleh membawa alat-alat tajam.
Ibu. Sina Weya: Pembunuhan (pembayaran masalah) saya serahkan ke Tuhan.
Pdt. Ishak Lambe, Sm.Th: kita perlu kembali kepada Hukum Pemerintah
@ Emas Kawin: kita kembali kepada
keputusan sidang di Toli (4 ekor).
@ Perceraian/kawin dua: gereja tidak
menyetujui kawin dua.
@ Perusakan Rumah:
Pak Mantri: Kalau melakukan
perusakan yang diberi sangsi hanya
oknumnya saja jangan melibatkan
Gereja.
@ Alkohol: kita akan buat keputusan
(3 Denominasi) menolak Alkohol

*Kawin dua tidak
* Perempuan diantar kerumah pihak laki-laki tidak, harus pakai hukum gereja
*Istri di Kampung laki-laki kawin lagi tidak bisa

Pembentukan wadah Kader GIDI Mimika tahun– 2009

Gerson Uaga: setuju dengan pembentukan wadah kader karena hal ini sebagai perwujudan kesejahteraan Hamba-hamba Tuhan.
Elias Tabuni: Setuju karena hal ini sangat positif untuk perkembangan Gereja.
Sudirman Harianja: perlu ditetapkan 3 orang sebagai pelopor kader:
1. Luther Kogoya
2. Yimin Weya
3. Depias Erelak

Persepuluhan sebagai kewajiban anggota jemaat GIDI Mimika, dengan dasar Firman Tuhan dalam Maleakhi.

DITEGASKAN KEMBALI, Hamba-hamba Tuhan harus mengajarkan PERSEPULUHAN ke masing-masing जेमात

Hamba Tuhan sebagai jabatan Gembala, Pendeta, unsur pimpinan jemaat jika masuk dalam calon DPR, Bupati – wakil Bupati, apakah itu bisa atau tidak?

Samuel Soga (Perwakilan Sinode): berkaitan keputusan Pra-Sidang yang ada, diputuskan bahwa bagi Hamba-hamba Tuhan yang terlibat dalam politik praktis jabatan Pendeta/ Gembala/Evangelis dicabut. Tetapi Gereja mempunyai tugas untuk mendukung Kader yang terlibat dalam politik (anggota Dewan, Bupati).
DITAMBAHKAN, bagi Ketua Klasis, Gembala dan Pendeta yang maju sebagai DPR dan Bupati mereka harus meninggalkan jabatan pelayanan Gerejawi

Weinus Kogoya: bagi Hamba Tuhan yang terlibat politik jemaat tidak usah dukung suara tetapi kalau Kader jemaat harus मेंदुकुंग

Pertukaran Mimbar pelayanan Klasis, Dewan, atau Gembala di kalangan GIDI Mimika.

Samuel Soga: kalau tukar Mimbar antar GIDI/Gembala GIDI hal itu bagus. Tetapi kerjasama tukar Mimbar antar Denominasi dari tingkat Sinode belum dilakukan/diputuskan.

Keberadaan Wilayah GIDI Pantai Selatan?

Samuel Soga: Mengusulkan untuk Kantor Wilayah Pantai Selatan bertempat di Timika. Mengenai pengurus Wilayah diputuskan hanya 3 saja ditambah 1 Koordinator Bidang (Ketua, Sekretaris dan Bendahara) dan Koordinator Bidang (Pemuda, Ibu, dll).

Hari-hari Gereja atau Agama Nasrani perlu di lakukan Ibadah gabungan Klasis, HUT GIDI, HUT berdirinya STT – GIDI/ STAKIN, hari Paskah, dll.

Yendik Togodly: Bisa tidak hari ulang tahun GIDI dijadikan hari libur Daerah (regional). Diusulkan juga, bagaimana kalau membuat Kalender.






















”AGENDA SIDANG”

Pemimpin Sidang : Pdt. Ishak Lambe, Sm.Th
Moderator : Ev. Yimin Weya, S. Pd
Notulen : Ev. Chornelius Sutriyono, S.Th

Hari Pertama, Jumat, 28 November 2008:
GIDI Mimika membutuhkan pengkaderan sekolah Alkitab Theologia
Ev। Sudirman Harianja: Bukan hanya menyekolahkan/ mengutus tetapi suport dana (intensif)
Luther Kogoya: masing-masing jemaat perlu mendukung biaya karena beban studi apalagi diluar Papua mahal


Tugas dan kewajiban gereja kepada seluruh anggota Jemaat GIDI Mimika seperti: (Nit Jemaat GIDI Mimika Allah nen yabu ekologorak yinuk waniragarak nogo ti nogo ammbi:
v Pemberkatan nikah gereja kepada anggota jemaat (Allah endege paga nikah agolek nogo eriak)
v Penyerahan anak kepada Tuhan dilakukan oleh jemaat masing-masing. (Nit ninapuri logwe Allah paga piyorak nogo)
v Pembaptisan anggota jemaat (Allah apuri yime wupiyorak nogo)

Depias Erelak: dari 3 kewajiban gereja kepada anggota jemaat tolong tambahkan untuk dijalankan perjamuan kudus dimasing-masing jemaat. Selain itu, kunjungan ke jemaat bagi yang sakit (doa) juga perlu terus dilakukan oleh Hamba Tuhan sebagai tugas pastoral
Ev. Sudirman Harianja: kalau belum dikukuhkan (hamba Tuhan) jangan dulu terlibat dalam pelayanan tetapi ambil waktu untuk merenung (kontemplasi)
Pdt. Ishak Lambe: dalam acara pernikahan, penyerahan anak dan pembabtisan dapat dilakukan dimasing-masing jemaat. Bertepatan dengan itu, penggalangan dana (amplop) juga dapat dilakukan guna lancarnya lajur pelayanan

Seorang hamba Tuhan datang dari luar perlu membawa surat keterangan dari Klasis atau wilayah setempat
Bagi yang pindahan perlu membawa/ melengkapi surat kepindahan dari Klasis atau wilayah sebelumnya (Pengantar/ Rekomendasi)
Disamping itu, perlu melengkapi dan menyerahkan Identitas Diri: surat Babtis dan surat Nikah

Siasat /discipline seorang hamba Tuhan jika melanggar aturan gereja
Melkias Murib: dalam hal siasat, perlu penjabaran secara rinci (pelanggarannya apa dan berapa bulan siasat dilakukan)
Depias Erelak: bagi Hamba Tuhan yang memiliki anak dan melanggar aturan gereja (masih bujang) pemberian siasat melibatkan orang tua anak tetapi bagi anak yang melanggar dan sudah menikah/berkeluarga siasat tidak berlaku bagi Hamba Tuhan

Mitra/kerja sama dengan gereja tetangga seperti Baptis, Kemah Injil, GKIP, dll
Ev. Sudirman Harianja: BPH yang baru perlu membuat terobosan kerjasama dengan gereja tetangga untuk menolak banyak hal: Miras, Pelacuran, Perang, dll.
Luther Kogoya: Tema Sidang harus menjadi motto BPH yang baru dalam tahun pelayanan mereka

Pengusulan calon-calon jabatan Pendeta, Evangelis, untuk ditahbisan pada Sidang Sinode GIDI- Maret 2009.

Keputusan Pra-Sidang: Ada empat nama calon Pendeta:
Elias Tabuni
Temur Murib
Pulias Kiwo
Ev. Sudirman Harianja, S.Th
Pelayanan di Tanah Merah (Pendeta)
Butinggen Gurik
Okotebak Lambe
Pelayanan di Koroi Batu (Pendeta)
Bigber Gurik
Usman Kogoya


Hari kedua: Sabtu, 29 November 2008

Upah pelayanan seorang Hamba Tuhan (BPH Klasis, Dewan dan Gembala) masing2 jemaat GIDI Mimika.

Luther Kogoya: masalah upah, perlu ditetapkan besarannya atau tidak?
Gerson Uaga: Dalam dua periode (kepengurusan BPH) Hamba Tuhan hanya melayani secara sukarelawan. Oleh karena itu, perlu memikirkan tentang upah tetapi harus melihat kondisi masing-masing jemaat.
Sudirman Harianja: Istilah Upah mungkin perlu diganti dengan KESEJAHTERAAN Hamba Tuhan?
Sudirman Harianja: mengenai upah/kesejahteraan Hamba Tuhan tidak bisa disama ratakan dalam setiap jemaat karena kondisi jemaat satu dengan lainnya berbeda. Dalam hal ini, berikan kewenangan kepada Majelis setempat untuk mengaturnya.
Hengki Felle: mengenai kesejahteraan Hamba Tuhan hal itu sesuai dengan prinsif Firman Tuhan, tidak melakukan berarti berdosa. Dan teknisnya, untuk kesejahteraan Hamba Tuhan ditentukan masing-masing jemaat-melihat kondisi jemaat setempat.
Luther Kogoya: Kita sering mengkritik pelayanan tetapi tidak pernah memberi kepada BPH Klasis dan Gembala. Pinjam uang Gereja hanya untuk bayar masalah/kepala dan tidak kembali.
Depias Erelak: setuju kalau istilah upah diganti kesejahteraan Hamba-hamba Tuhan. Kesejahteraan Gembala dikembalikan ke Jemaat masing-masing tetapi kesejahteraan Klasis dan Dewan kita harus pikirkan sumber kesejahteraannya berasal dari mana? Diusulkan, Hamba Tuhan harus mengajar tentang persepuluhan dimasing-masing jemaat.

Pembentukan kepala Suku umum di kalangan GIDI Mimika.

Pertimbangan: Selama ini kewenangan/tugas BPH khususnya, Ketua Klasis terlalu MELEBAR LUAS sehingga perlu pengkhususan untuk masalah-masalah sosial antar warga dengan mengangkat Kepala Suku dikalangan GIDI
DIUSULKAN: NUS JIKWA

Penyelesaian dan pembayaran masalah yang di pandang oleh warga GIDI Mimika adalah:
v Pembayaran masalah pembunuhan
v Pembayaran emas kawin
v Perceraian istri atau suami
v Seseorang meninggal DUNIA dari kalangan GIDI sering melakukan perusakan rumah पिहक
keluarga korban duka.
v Perkelahian karena di pengaruhi alkohol.

Dalam menyelesaikan masalah ini, perlu melihat kembali prinsif-prinsif secara Alkitabiah. KEMUDIAN, orang-orang yang sudah dipilih dengan kewenangan menyelesaikan masalah (kepala kampung) yang ada dimasyarakat harus menjalankan fungsinya dengan baik.
@ Pembunuhan: kesepakatan dan melihat
Kemampuan (35 Juta bagi yang menuntut-sesuai hukum Pemerintah, tetapi kalau pihak keluarga tidak menuntut hal itu tidak berlaku)

Masukan:
Temur Murib: dalam menyelesaikan masalah tidak boleh membawa alat-alat tajam.
Ibu. Sina Weya: Pembunuhan (pembayaran masalah) saya serahkan ke Tuhan.
Pdt. Ishak Lambe, Sm.Th: kita perlu kembali kepada Hukum Pemerintah
@ Emas Kawin: kita kembali kepada
keputusan sidang di Toli (4 ekor).
@ Perceraian/kawin dua: gereja tidak
menyetujui kawin dua.
@ Perusakan Rumah:
Pak Mantri: Kalau melakukan
perusakan yang diberi sangsi hanya
oknumnya saja jangan melibatkan
Gereja.
@ Alkohol: kita akan buat keputusan
(3 Denominasi) menolak Alkohol

*Kawin dua tidak
* Perempuan diantar kerumah pihak laki-laki tidak, harus pakai hukum gereja
*Istri di Kampung laki-laki kawin lagi tidak bisa

Pembentukan wadah Kader GIDI Mimika tahun– 2009

Gerson Uaga: setuju dengan pembentukan wadah kader karena hal ini sebagai perwujudan kesejahteraan Hamba-hamba Tuhan.
Elias Tabuni: Setuju karena hal ini sangat positif untuk perkembangan Gereja.
Sudirman Harianja: perlu ditetapkan 3 orang sebagai pelopor kader:
1. Luther Kogoya
2. Yimin Weya
3. Depias Erelak

Persepuluhan sebagai kewajiban anggota jemaat GIDI Mimika, dengan dasar Firman Tuhan dalam Maleakhi.

DITEGASKAN KEMBALI, Hamba-hamba Tuhan harus mengajarkan PERSEPULUHAN ke masing-masing जेमात

Hamba Tuhan sebagai jabatan Gembala, Pendeta, unsur pimpinan jemaat jika masuk dalam calon DPR, Bupati – wakil Bupati, apakah itu bisa atau tidak?

Samuel Soga (Perwakilan Sinode): berkaitan keputusan Pra-Sidang yang ada, diputuskan bahwa bagi Hamba-hamba Tuhan yang terlibat dalam politik praktis jabatan Pendeta/ Gembala/Evangelis dicabut. Tetapi Gereja mempunyai tugas untuk mendukung Kader yang terlibat dalam politik (anggota Dewan, Bupati).
DITAMBAHKAN, bagi Ketua Klasis, Gembala dan Pendeta yang maju sebagai DPR dan Bupati mereka harus meninggalkan jabatan pelayanan Gerejawi

Weinus Kogoya: bagi Hamba Tuhan yang terlibat politik jemaat tidak usah dukung suara tetapi kalau Kader jemaat harus मेंदुकुंग

Pertukaran Mimbar pelayanan Klasis, Dewan, atau Gembala di kalangan GIDI Mimika.

Samuel Soga: kalau tukar Mimbar antar GIDI/Gembala GIDI hal itu bagus. Tetapi kerjasama tukar Mimbar antar Denominasi dari tingkat Sinode belum dilakukan/diputuskan.

Keberadaan Wilayah GIDI Pantai Selatan?

Samuel Soga: Mengusulkan untuk Kantor Wilayah Pantai Selatan bertempat di Timika. Mengenai pengurus Wilayah diputuskan hanya 3 saja ditambah 1 Koordinator Bidang (Ketua, Sekretaris dan Bendahara) dan Koordinator Bidang (Pemuda, Ibu, dll).

Hari-hari Gereja atau Agama Nasrani perlu di lakukan Ibadah gabungan Klasis, HUT GIDI, HUT berdirinya STT – GIDI/ STAKIN, hari Paskah, dll.

Yendik Togodly: Bisa tidak hari ulang tahun GIDI dijadikan hari libur Daerah (regional). Diusulkan juga, bagaimana kalau membuat Kalender.






















Jumat, 05 September 2008

MEMAHAMI TUGAS DAN FUNGSI GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MENURUT AJARAN ALKITAB

MEMAHAMI TUGAS DAN FUNGSI GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MENURUT AJARAN ALKITAB*
(Studi Teologis tentang Tugas dan Fungsi Guru PAK)
Oleh: Ev. Ch. Sutriyono, S.Th


Pendahuluan
Judul makalah ini adalah ”Memahami Tugas dan Fungsi Guru Pendidikan Agama Kristen Menurut Ajaran Alkitab (Studi Teologis tentang Tugas dan Fungsi Guru PAK).” Pembahasan dalam makalah ini bersifat Teologis-praktis, diawali dengan memaparkan secara singkat pandangan tokoh-tokoh Gereja berkaitan dengan Pendidikan Agama Kristen. Diharapkan hal ini memberikan gambaran konkrit akan krusialitas Pendidikan Agama Kristen dalam perkembangan Gereja terdahulu dan meyakininya ~ memiliki kontribusi positif bagi perkembangan Gereja/pendidik masa kini. Dilanjutkan dengan menguraikan pandangan Alkitab terhadap Pendidikan Agama yang diruntut mulai dari sejarah Bangsa Israel (PL), dalam Perjanjian Baru (Yesus Sang Guru Agung), yang akhirnya secara praktis menjadi sebuah pemahaman akan tugas dan fungsi Guru PAK masa kini.

Pengertian Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Istilah Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebenarnya berasal dari Bahasa Inggris Christian Education. Sengaja diterjemahkan demikian, bukan harafiah ”Pendidikan Kristen,” karena pengertiannya yang agak berbeda. Istilah Pendidikan Kristen dalam Bahasa Indonesia menunjuk pada pengajaran biasa tetapi diberikan dalam nuansa Kristen; juga dapat berarti Sekolah-sekolah yang dijalankan oleh Gereja atau organisasi/Yayasan Kristen. Istilah Pendidikan Agama Kristen (PAK) dibedakan dengan istilah Pendidikan Kristen karena PAK merupakan pendidikan yang berporos pada pribadi Tuhan Yesus Kristus dan Alkitab sebagai dasar atau acuanya.
Menurut Agustinus PAK adalah pendidikan dengan tujuan supaya orang ”melihat Allah” dan ”kehidupan bahagia” dengan cara para pelajar sudah diajar secara lengkap dari ayat pertama Kitab Kejadian ”pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” sampai ”arti penciptaan itu pada masa Gereja sekarang ini.” Pelajaran Alkitab difokuskan pada perbuatan hebat Allah.
Sedangkan Marthen Luther mengemukakan bahwa PAK adalah pendidikan dengan melibatkan semua warga Jemaat dalam rangka belajar teratur dan tertib agar semakin sadar akan dosa mereka serta bergembira dalam Firman Tuhan yang memerdekakan mereka disamping memperlengkapi mereka dengan sumber iman, khususnya pengalaman berdoa, Firman tertulis (Alkitab) dan rupa-rupa kebudayaan sehingga mampu melayani sesamanya termasuk Masyarakat dan Negara serta mengambil bagian secara bertanggung jawab dalam persekutuan Kristen.
Calvin mengemukakan bahwa PAK adalah pendidikan yang bertujuan mendidik putra-putri Gereja agar mereka, (1) dilibatkan dalam penelaahan Alkitab secara cerdas sebagaimana dibimbing oleh Roh Kudus; (2) diajar mengambil bagian dalam kebaktian serta mencari keesaan Gereja; dan (3) diperlengkapi memilih cara-cara menge-jawantahkan pengabdian diri kepada Allah Bapa Yesus Kristus dalam gelanggang pekerjaan sehari-hari serta hidup bertanggung jawab di bawah kedaulatan Allah demi kemuliaan-Nya sebagai lambang ucapan syukur mereka yang dipilih dalam Yesus Kristus.
Sedangkan menurut Werner, ia mengemukakan bahwa PAK adalah proses pengajaran dan pembelajaran yang berdasarkan pada Alkitab, berpusatkan pada Kristus, yang bergantung pada kuasa Roh Kudus, yang berusaha membimbing pribadi-pribadi pada semua tingkat pertumbuhan, melalui cara-cara pengajaran masa kini kearah pengenalan dan pengalaman tentang rencana dan kehendak Allah melalui Kristus di dalam setiap aspek hidup.
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Kristen yang Alkitabiah harus mendasarkan diri pada Alkitab sebagai Firman Allah dan menjadikan Kristus sebagai pusat beritanya dan harus bermuara pada hasilnya yaitu murid dewasa. Alkitab sebagai sumber pengajaran PAK harus diyakini sebagai Firman Allah tanpa salah karena diwahyukan oleh Roh Kudus. Itulah sebabnya para pengajar dan pelajar PAK memerlukan penerangan oleh Roh Kudus.

Pendidikan Agama dalam Perjanjian Lama
Kepedulian Perjanjian Lama terhadap Pendidikan Agama sangat nyata. Dalam Ulangan 6:4-9, disana sasaran dan pola Pendidikan Agama ditujukan. Ditegaskan bahwa umat Allah berkewajiban untuk mewariskan kebenaran ilahi itu kepada generasi penerusnya. Tanggung jawab tersebut harus dilakukan dengan kegigihan dan dengan tidak mengenal lelah. Juga, dengan memanfaatkan segala peluang dan sarana yang tersedia secara maksimal.
Dari ayat-ayat ini ketekunan dalam melaksanakan tugas adalah penting dan nyata sekali ”berulang-ulang” (ay. 7). Menyatunya orang percaya dalam panggilan tugas (mengajar dan mendidik) adalah mencerminkan hubungan pribadi dengan Pencipta-Nya. Ketekunan dalam pengajaran kebenaran Firman harus mencerminkan kadar kasih orang percaya kepada Allahnya (ay. 5). Selain itu, seluruh aktifitas Pendidikan Agama harus dilaksanakan dalam kesadaran akan kehadiran Pribadi Allah sendiri (ay. 4). Hal ini dimaksudkan untuk menyadarkan pentingnya ketergantungan kepada-Nya (pengajaran dan pengelolaan) dan juga mengingatkan bahwa tujuan akhir seluruh kegiatan adalah terletak disana ~ kehadiran Allah.
Jelas sekali bahwa Perjanjian Lama memandang Pendidikan Agama lebih dari suatu kegiatan yang berurusan dengan soal penggarapan akal. Bidang garapan Pendidikan Agama menjamah dimensi yang lebih luas dan diarahkan pada perubahan sikap, dan khususnya perubahan hidup para peserta didik. Dengan kata lain, Perjanjian Lama tidak melihat Pendidikan Agama sebagai usaha penyaluran ilmu, tetapi suatu proses pengubahan hidup. Penguasaan pengetahuan hanyalah batu loncatan untuk menghasilkan perubahan hidup.

a. Isi Pendidikan Agama dalam Perjanjian Lama
Umat Yahudi pada umumnya dan setiap keluarga pada khususnya ditugaskan untuk menyampaikan kekayaan iman tentang bangsa pilihan Allah ini kepada generasi baru. Pusat Pendidikan Agama adalah Keluarga, terutama sang Ayah yang bertanggung jawab dalam Pendidikan Agama kepada keluarganya, seperti dinyatakan dalam kitab Ulangan 6:4-9.
Pengajaran Agama dalam PL berpusat pada Hukum Allah dan Korban melalui sistem imamat. Allah telah memberikan Sepuluh Hukum kepada umat Israel (Kel. 20:1-17) dan perintahkan untuk mengasihi Allah (Ul.6:4-9). Selain itu, juga adanya peraturan-peraturan yang mengatur tata ibadah dan hubungan sosial. Umat Israel harus melaksanakan hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang telah diberikan kepada mereka. Namun hukum-hukum tersebut hanya sasaran antara pengajaran tentang Korban.
Jadi sesungguhnya Perjanjian Lama secara orisinil mengajar kepada umat Allah untuk bersandar pada tahta anugerah Allah melalui sistem Korban. Melalui hukum-hukum yang diberikan Allah, umat Allah dibawa pada kesadaran bahwa diri mereka adalah orang berdosa yang memerlukan anugerah dan pengampunan dari Allah Juruselamatnya.

b. Pengajar Pendidikan Agama dalam PL
Allah sendiri sebagai pemrakarsa dan pengajar utama Pendidikan Agama dalam Perjanjian Lama (Hos.11:1-4). Dalam mengajar umat-Nya, Allah sering menggunakan empat golongan Pemimpin orang Israel, yakni: Para Imam (Bil. 3), Para Nabi (Yunus, Mikha, dsb), Kaum Bijaksana (Ams. 1-2, 6:1), dan Kaum Penyair (Mazmur). Disamping mereka, dalam mengajar kepada setiap keluarga dijalankan oleh Kepala Keluarga yaitu Suami dan Istri atau orang tua dari anak-anak. Anak laki-laki orang Yahudi juga mendapatkan pendidikan formal dalam sekolah Yahudi. Sedangkan anak-anak perempuan mendapatkan pengajaran dari Ayah mereka.

c. Metode Penyampaian Pendidikan Agama dalam PL
Tangung jawab yang berat sebagai ”bangsa pilihan” dalam mengajarkan Pendidikan Agama, orang Israel dituntut untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan. Perintah ini harus diajarkan berulang-ulang dari generasi ke generasi dan ini menjadi tanggung jawab sang Ayah untuk mengajarkannya kepada anak-anaknya.
Metode pengajaran yang digunakan antar lain adalah: metode menghafal (Ul. 6:4-9; Ams. 22:6;Maz.119:11,105), membagikan cerita kepada kaum muda tentang peristiwa-peristiwa bermakna (Yos.4:6-7;bnd Kel.12:24-27). Bahkan sekolah-sekolah formal Yahudi juga menggunakan metode hafalan. Anak laki-laki ketika berumur 6 tahun, mereka mempelajari huruf-huruf Ibrani. Setelah itu mereka melanjutkan sekolah di Beth Talmud untuk mempelajari Taurat Lisan yang terdiri dari Misyna, Talmud dan Haggadah. Mereka yang lulus di Beth Talmud inilah yang nantinya menjadi guru-guru disekolah-sekolah Yahudi tingkat Dasar. Mula-mula mereka harus menghafal 22 abjad Ibrani, kemudian menghafal kata-kata. Hal ini penting mengingat mula-mula bahasa Ibrani tidak mengenal huruf vokal. Dengan tradisi menghafal inilah kemurnian PL terjaga setelah bahasa Ibrani dibubuhkan vokal dalam tulisannya.

Pendidikan Agama dalam Perjanjian Baru
Penekanan terhadap keutamaan Pendidikan Agama juga menjiwai seluruh Perjanjian Baru. Tekanan ini terlihat jelas dalam diri dan pelayanan Yesus. Hidup dan pelayanan Yesus menjadi landasan Pendidikan Kristen. Salah satu gelar penting yang dikenakan kepada-Nya adalah ”Rabbi” (Mat. 26:25, 49; Mark. 9:5, dll).
Sebagai Guru Agung, Ia memulai pelayanan-Nya dengan mencari pribadi-pribadi yang akan didik menjadi murid-Nya (Yakobus, Yohanes, Petrus Andreas, dll). Yang ditemukan-Nya bukanlah orang yang hebat dan luar biasa, tetapi orang biasa yang penuh kekurangan dan kelemahan ~ yang lebih mengagetkan lagi yang namanya Yudas Iskariot (Luk.6:16).
Meskipun demikian, kehebatan Yesus sebagai Guru Agung justru terletak disini. Ia mampu melihat apa yang tidak diamati orang lain. Oleh sentuhan-Nya, orang-orang biasa yang tidak diperhitungkan dunia telah diperlengkapi-Nya, sehingga mampu bertindak untuk menghasilkan perkara-perkara yang teramat mengagumkan bagi siapa saja.
Kehebatan Yesus sebagai Guru/pendidik juga ditunjukkan melalui cara kerja-Nya. Kreatifitas dalam pelaksanaan tugas ditunjukkan. Ia telah menggunakan teknik pengajaran yang sangat bervariasi: ceramah, tanya jawab, lukisan, cerita, bahkan model pelatihan. Sisi lain dari Yesus sebagi Pendidik, terlihat juga dalam kecakapan-Nya menggarap konsep-konsep yang abstrak (Sorga, Neraka, Dosa, Pengampunan, Kerajaan Allah, kebenaran, keadilan, dst). Namun demikian, Yesus tidak pernah mengijinkan pengajaran mengenai masalah yang abstrak ini menjerumuskan-Nya kedalam diskusi yang bersifat spekulatif. Sebaliknya, persoalan yang abstrak tersebut justru dikaitkan dengan semua permasalahan praktis sehingga menjamah pergumulan hidup sehari-hari.
Dari semua ini, bagi-Nya pengajaran bukanlah soal penajaman penalaran belaka tetapi proses pemahaman yang harus menuntun kepada perubahan hidup. Keberhasilan pengajaran adalah menghasilkan hidup yang semakin berkenan kepada Allah.

Relevansi Teologis-Praktis bagi Guru Pendidikan Agama Kristen Masa Kini
dalam Memahami Tugas dan Fungsinya
Dalam memahami tugas dan fungsi Guru Pendidikan Agama Kristen masa kini ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan, antara lain; Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan bahwa kata ”Tugas” berarti, sesuatu yang wajib dikerjakan atau yang ditentukan untuk dilakukan; pekerjaan yang menjadi tanggung jawab seseorang; pekerjaan yang dibebankan. Sedangkan kata ”Fungsi” berarti; jabatan (pekerjaan) yang dilakukan. Disamping itu, kata Guru, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Dari definisi ini ada beberapa hal penting dalam memahami tugas dan fungsi Guru Pendidikan Agama Kristen, antara lain;
1. Motivasi dalam Mengajar: Berbicara tentang Guru berarti itu adalah sebuah Profesi. Profesi sering dikaitkan dengan hak. Apa yang menjadi motivasi anda mengajar? Panggilan atau karena terpaksa. Karena ingin memberikan sesuatu dari profesi atau menginginkan sesuatu dari profesi? Buang muatan-muatan yang tidak baik dalam diri kita (pikiran, nilai-nilai, kecurangan, dll) yang membebani kita dalam menghidupi tugas dan fungsi kita sebagai Guru.
2. Metode Yang Digunakan dalam Mengajar: Belajarlah dari Yesus Sang Guru Agung, yang kreatif menggunakan metode dalam mengajar (memenangkan perhatian, menggunakan pertanyaan, menggunakan ilustrasi, menggunakan ceramah, menggunakan model, Malcom S. Knowles= sistem pedagogi vs andragogi). Seorang pengajar haruslah memilih metode yang paling tepat untuk memperoleh perhatian dan mempertahankan minat dari murid. Setiap metode yang digunakan pengajar harus dapat membangkitkan perhatian kepada para murid untuk mendengar, melihat, mengatakan dan mengerjakan apa yang diajarkan kepada mereka. (Lihat, Ajarlah Mereka Melakukan, peny., Dr. Andar Ismail (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1999), 98.
3. Manfaat yang diperoleh dalam Mengajar: Di dalam setiap hak terdapat kewajiban. Semakin besar haknya, semakin berat pula tanggung jawab yang terkait di dalamnya. Temukan manfaat di dalam setiap tanggung jawab anda. Meskipun keadaan dimana anda mengajar keruh, jangan mau pikiran anda, tanggung jawab anda ikut keruh. Jangan hanya menuntut hak tetapi kewajiban dilupakan. Terlalu banyak orang yang terdiam terhadap kewajiban dan bersuara jika hak didiamkan.


Penutup
Beban dan tanggung jawab sebagai pengajar sangatlah besar. Namun kita harus belajar bersyukur. Sebab Tuhan yang memberi mandat untuk tugas ini dan Ia berjanji ”Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir jaman (Mat.28:20).” Kita juga harus pahami bahwa Tuhan tidak pernah menuntun kita kepada kesulitan yang mustahil untuk dipecahkan. Masalah, kesulitan dan tantangan pasti ada dalam menjalankan tanggung jawab. Karena itu pahamilah bahwa Allah butuh anda untuk membawa perubahan anak didik menjadi pribadi-pribadi yang mengalami perubahan hidup. Masa depan anak didik, lembaga/Sekolah juga bagian dari pergumulan anda.











Bibliografi:
1. Enklaar, E.G. Homrighausen. Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Mulia, 1982.
2. Boehlke, Robert R. Sejarah Perkembangan dan Praktek PAK dari Plato sampai Ig. Loyola, cetakan 3. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1994.
3. Graendorf, Werner C. Introduction to Biblical Christian Education. Chicago: Moody Press, 1988.
4. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,”Tugas” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
Jakarta: Balai Pustaka, 1996.
5. Kadarmanto, Ruth. Ajarlah Mereka Melakukan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
6. Sidjabat, B.S. Teori Belajar Aktif dalam Pembelajaran PAK dalam Situs Blogger STT Tiranus.

LEBIH DARI PEMENANG

“Lebih Dari Pemenang”
(Rom. 8:18-39)


Pendahuluan
Sebagai orang percaya, pengharapan kita sangat luar biasa karena menurut Firman Tuhan, kita ádalah “lebih dari pemenang” (Rom. 8:37). Meskipun demikian, banyak anak Tuhan kecil hati - bahkan tidak sedikit yang mundur teratur dalam persekutuan - ketika menilai mutu rohani mereka. Rupanya pertumbuhan rohani mereka macet. Hubungan dengan Tuhan kurang dekat dan intim. Bergumul terus menerus dengan masalah pribadi yang sama bahkan dosa-dosa tertentu (pola dosa). Pada umumnya, mereka frustasi tetapi mereka tidak bisa menemukan jalan keluar dari situasi mereka. Dalam bagian ini kita akan mempelajari baik pengharapan kita (posisi) maupun kenyataan kita (kondisi) sebagai orang percaya.

Pengharapan Kita sebagai Orang Percaya
Nyata sungguh apa yang Alkitab katakan tentang pengharapan kita sebagai orang percaya. Pengharapan yang luar biasa, memberikan tuntutan bagi langkah yang salah, semangat bagi jiwa yang dahaga. Namun, menjadi tidak menarik bahkan membosankan bagi pribadi yang tidak memercayainya karena tidak mengalaminya. Mengapa demikian? Karena sering antara pengharapan (janji-janji) terkadang berbeda dengan realita (kondisi-pengalaman) yang terjadi dalam hidup ini. Oleh karena itu, kita harus melihat seimbang antara pengharapan kita (posisi dan janji) dengan realita kita (kondisi dan pengalaman) yang ada.

A. Menikmati Kekayaan Keselamatan (Ef. 1:3)
1. Kita dipilih (ay. 4): implikasinya kita berharga dan istimewa dimata TUHAN.
2. Kita diangkat menjadi anak-anak-Nya (ay. 5): artinya, kita memiliki otoritas sebagai seorang anak.
3. Kita beroleh penebusan (ay. 7): ditebus dari dosa dan dibebaskan dari maut.
4. Kita diampuni dari dosa (ay. 7): Allah menghapuskan dosa kita hingga tanpa bekas/noda. Implikasi sekarang ini, pahamilah bahwa Dia adalah Allah yang tidak pernah berubah. Dia tetap Allah yang mengampuni dosa, mengasihi, menerima kita tanpa syarat dan tidak pernah menolak kita. Dosa masa lalu kita, kecerobohan kita, kebohongan kita (mungkin makan diwarung tidak bayar/makan pisang goreng lima bayar dua) Tuhan akan ampuni. Minta ampun...Tuhan akan ampuni! Lama-lama minta ampun dosanya!! Ada tidak dosa yang dibenci Tuhan? Pada dasarnya semua dosa dibenci Tuhan.
5. Rahasia kehendak Tuhan dinyatakan (ay. 9): Tidak ada rahasia lagi antara anda dan Allah. Anda bisa tahu kehendak-Nya untuk masa depan anda. Kehendak-Nya lah yang akan menyelamatkan persahabatan anda, pernikahan anda, keuangan anda bahkan keluarga anda. Berjalanlah dengan aman dalam kehendak-Nya.
6. Kita akan memperoleh bagian yang dijanjikan (ay. 11): rebut janji Allah!
7. Kita telah dimeteraikan dengan Roh Kudus (ay. 13): ingat, ada Roh Kudus dalam diri anda. Roh kuduslah yang akan menuntun anda dalam jalannya. Dan, Roh Kudus itu pula yang akan mengingatkan akan dosa anda.

B. Menikmati kemenangan ditengah penderitaan (Rom. 8)
1. Menikmati kemenangan karena penderitaan kita saat ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita (ay. 18). Selama didunia kita akan mengalami penderitaan tetapi firman Tuhan selalu menghibur kita. Kita mengalami penderitaan, rasa sakit, kekecewaan, keputusasaan, kehilangan tapi ingat...kemuliaan-Nya. Kita menempati posisi di depan sebagai kepala dan bukan ekor. Kita berhak menikmati kemenangan dan bukan kegagalan. Melahirkan sakit tapi bagi seorang ibu tidak pernah merasa kapok!!!
2. Menikmati kemenangan karena kita memiliki pengharapan pembebasan tubuh kita (ay. 23). Kita akan diubahkan oleh Tuhan.
3. Menikmati kemenangan karena Roh Kudus ”membantu kita dalam kelemahan kita” dengan mendoakan kita ”sesuai kehendak Allah” (ay. 27). Ada saatnya ketika masalah datang sulit bagi kita untuk berdoa tetapi Roh membantu kita berdoa lewat keluhan-keluhan tak terucapkan.
4. Menikmati kemenangan karena Allah turut berkerja (ay 28). Pengalaman kuliah di STII (hidup di asrama), meski semua serba terbatas bahkan kekurangan tetapi penyertaan Tuhan nyata.
5. Menikmati kemenangan karena Allah dipihak kita (ay. 31). Tidak ada yang dapat memisahkan kita. Hamba Tuhan pelayanan pernikahan mau tapi pelayanan kematian takut apalagi ngusir setan. Orang kristen tidak pernah ngusir setan jangan-jangan temannya setan. Ingat bahwa Allah dipihak kita.

C. Menikmati kemenangan karena kita memiliki otoritas (Kol. 2:15)
1. Kristus sudah mengalahkan Iblis ketika dikayu salib
2. Kuasa kerajaan Allah sudah datang dalam pelayanan Yesus ketika Ia mengalahkan Iblis dan mengusir roh-roh jahat (Mat. 12: 28). Kuasa tersebut di delegasikan kepada murid-murid-Nya, para rasul, gereja mula-mula dan anak-anak-Nya. Itu berarti kuasa tersebut juga didelegasikan kepada generasi sekarang ini dalam amanat agung “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu…”
3. Diberi tempat bersama-sama dengan Kristus di surga.
“Yesus dipangkuan Bapa (Yoh. 1: 18) dan kemudian duduk disebelah kanan (Ibr. 1:3).”

Realita kita sebagai orang percaya
Banyak yang hidup seperti orang yang miskin secara rohani; ada anak Tuhan yang merasa bersalah, bernoda, bahkan kotor dihadapan Tuhan – pokoknya seperti orang Kristen kelas dua. Banyak yang putus asa/mundur ditengah-tengah penderitaan: ada yang mulai percaya bahwa Tuhan tidak memperdulikan mereka karena mereka tidak langsung disembuhkan/ diselamatkan dari penderitaan mereka. Banyak anak Tuhan yang takut menghadapi roh-roh jahat, padahal mereka memiliki otoritas di dalam “nama Yesus.” Banyak yang terbelenggu dalam pola dosa tertentu: ada yang lama terbelenggu dalam dosa tertentu, mereka membenci dosa tersebut tetapi mereka melakukan dan sulit melepaskan diri dari jeratnya.
”MENGUKIR SEJARAH DARI SETIAP MASALAH”
(Yoh. 2:1-11)
Oleh: Ev. Ch. Sutriyono, S.Th


Pendahuluan
Perjalanan hidup memang tidak selalu indah. Terkadang kesukaran, kegagalan, kepahitan, kehancuran, kehilangan bahkan kematian datang tak terduga, melepaskan semua harapan atas apa yang direncanakan. Akibatnya, kekecewaan terhadap hidup serta penyempitan makna bahwa sesungguhnya hidup adalah sebuah ”proses” menjadi tidak menarik, omong kosong bahkan mati.
Parahnya lagi, jika hal ini berdampak pada penilaian serta pemahaman bahwa Sang Pemberi hidup juga tidak jauh berbeda dengan apa yang sedang dialami. Ia ada (teisme) sebagai Pencipta segala-galanya, tetapi kehadiran-Nya jauh meninggalkan ciptaan-Nya (deisme). Mereka mulai diselimuti tebalnya keraguan, dalamnya kubangan kekecewaan terhadap kepercayaan bahkan sempitnya pemahaman bahwa Allah hadir tetapi intervensi-Nya ternoda.

Tiga langkah mengukir sejarah dari setiap masalah
Semua orang pasti memiliki harapan. Tetapi sering harapan/keinginan yang ada; disusun dengan rapi, direncanakan dengan matang ketika dilapangan hasilnya beda. Kondisi yang sama juga dialami oleh satu keluarga di Khana yang bermaksud untuk menikah. Semua sudah direncanakan, dipikirkan, ditata dengan rapi bahkan digumulkan tetapi ketika dilapangan hasilnya berbeda. Mereka justru kekurangan angur. Apa kata orang? Namun, ditengah-tengah situasi seperti itu; ditengah bayang-bayang kehancuran Yesus menolong. Mereka mampu mengukir sejarah ”perkawinan” mereka sendiri. Saat masalah datang, bayang-bayang kehancuran yang tak terelakkan menerpa, mereka mampu mengukir sejarah. Pertanyaannya, bagaimana kita mengukir sejarah dari setiap masalah yang kita alami?
Pertama, Kuat di dalam Iman (ay. 3-5).
Dalam ayat 3, dikatakan bahwa Maria ”berkata” kepada Yesus. Ketika Maria berkata kepada Yesus ia tidak hanya sekedar berkata, tetapi di dalamnya ada unsur mengharapkan yang sifatnya sungguh-sungguh/serius. Hal ini diperjelas dengan perkataan Maria dalam ayat dua ”kehabisan anggur.” Berbeda dengan versi Yohanes yang mengungkapkan bahwa sebenarnya mereka bukan ”kehabisan” hanya ”kekurangan.” Dalam hal ini, Maria melihat dari sisi akhir sebuah kejadian dan berbeda dengan Yohanes yang melihat dari sisi pemulaian (Yunani, aoris).
Maria begitu menekankan bahwa keadaan sangat genting dan hanya Yesus yang sanggup menolong. Apalah artinya kekurangan anggur (pemulaian/aoris) toh pada akhirnya juga akan kehabisan (pencapaian/akhir). Dalam hal ini, Maria mengharapkan kuasa Yesus/keilahian Yesus dinyatakan. Saya melihat ada dua ciri orang yang kuat di dalam iman.
Pertama, sikap positif ketika menghadapi masalah. Untuk sampai di Khana diperlukan waktu yang panjang. Mereka harus berjalan kaki untuk sampai di Khana. Dalam beberapa terjemahan makna Khana kurang begitu jelas tetapi dalam bahasa Jawa dikatakan bahwa Khana adalah sebuah desa. Diperlukan waktu yang sangat lama untuk sampai di Khana. Ketika sampai bukannya disuguhi minuman tetapi justru harus ikut merasakan masalah ”kekurangan anggur.” Dalam kondisi itu, bisa saja Maria emosi. Menyalahkan keadaan. Mempertanyakan tanggung jawab. Meninggalkan bahkan kecewa. Tetapi Maria tidak melakukan semuanya itu.
Kedua, memandang Yesus. Dari segi sosial, sangat tidak wajar apabila Maria justru datang dan meminta bantuan kepada Yesus (Anaknya). Apalagi secara potensial, Maria belum pernah melihat mujizat yang dilakukan Yesus sebelumnya karena ini adalah mujizat pertama-Nya. Butuh anggur seharusnya Maria datang kepada orang yang punya atau ahli membuat anggur. Menarik disini, mungkin keadaan membuat kita sakit, kecewa, terluka, menangis, menjerit bahkan memberontak menggeliat tetapi satu hal yang pasti adalah engkau harus menghadapi kondisi itu. Orang boleh menyakiti, keadaan boleh memperlambat langkah anda tetapi ingat identitasmu. Tugas kita adalah mendoakan.
Kedua, kuat dalam kemauan (ay. 7)
Pernikahan adalah upacara keagamaan yang sifatnya sakral sehingga semuanya pun memerlukan persiapan baik materi maupun spiritual. Demikian juga tradisi di Israel, pernikahan menjadi hal penting dan terukir seumur hidup. Kalau ada hal-hal yang memalukan seperti kehabisan anggur, tuan rumah pasti malu bahkan semua orang termasuk pelayan akan merasa malu. Sebaliknya, ketika semua berjalan baik sesuai rencana maka akan menimbulkan sukacita terdalam. Oleh karena itu, ketika pelayan-pelayan tahu masalah yang dihadapi tuan rumah, maka mereka juga ikut mencari solusi. Mereka fokus untuk jalan keluar. Sehingga apa saja yang dikatakan Yesus mereka melakukannya karena kemauan mereka kuat yakni masalah ini harus selesai dan ada jalan keluar terbaik.
Orang yang kuat dalam kemauan, ia bertindak dengan sabar. Yang Yesus kehendaki adalah tempayan di isi air sampai penuh. Apabila ada enam tempayan dan setiap tempayan harus di isi masing-masing seratus liter berarti semua genap enam ratus liter. Bisa dibayangkan bagaimana mereka harus bekerja dengan kesabaran melakukan semuanya ini. Dituntut kesabaran hingga tempayan-tempayan tersebut penuh hingga akhirnya dicedok dan dibawa ke para tamu undangan.
Ketiga, Kuat dalam kasih (ay. 11)
Lewat peristiwa mujizat ”air menjadi anggur” ternyata membawa dampak dasyat bagi para murid ”murid-murid percaya kepada-Nya.” Masalah selalu datang tanpa pandang bulu, sekonyong-konyong, tanpa pandang waktu dan tanpa kita undang. Tapi kadang masalah itu datang untuk menyatukan kita. Memperkuat iman kita. Lebih mempererat kasih kita kepada Tuhan dan sesama. Tidak ada masalah biasanya tidak ada perhatian khusus terhadap sesuatu. Kadang kita merasa cukup aman dengan kondisi kita, tetapi hati-hati justru disitulah Tuhan sebenarnya sedang mengetuk pintu hati kita untuk membangunkan kita dari lelapnya kenyamanan pribadi. Perhatikan Wahyu 3:20 ”mengetuk” – secara konteks justru Tuhan mengetuk bukan kepada orang yang tidak percaya tetapi kepada gereja – orang percaya.
Kita semua punya masalah yang membedakan adalah bagaimana reaksi kita terhadap masalah. Dari kisah ini, kita belajar bahwa apa yang kita harapkan, pikirkan, rencanakan, ditata dengan rapi, digumulkan ketika dilapangan hasilnya sering berbeda. Mungkin saat ini keadaanmu sedang sulit, gagal, menolak tanggung jawab, menyalahkan orang lain saat terjepit. Bahaya besar bagi kita adalah ketika tahu salah tapi tidak mau mengubah. Tahu salah tapi terus tinggal dalam rasa bersalah. Tidak ada gunanya tingga dalam keadaan tersebut dan tinggal dalam kekecewaan berkepanjangan. Milikilah iman yang kuat, kemauan yang kuat dan kasih yang kuat dalam menghadapi masalah anda. Maka, anda akan ciptakan sejarah buat hidup anda sendiri dan orang lain melihat dan belajar dari pengalaman anda yang ”bersejarah.” Selamat mengukir sejarah dari setiap masalah.

Selasa, 12 Agustus 2008

IDENTITAS BARU DI DALAM KRISTUS

”Identitas Baru Di Dalam Kristus”

(Efesus 2: 8-9)

Seorang narapidana (terhukum) terkejut saat tahu raja memberikan pembebasan kepadanya. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi. Semua, serasa bagaikan sebuah mimpi. Bagaimana mungkin dia yang seharusnya mengalami siksaan, mendekam di teruji besi (penjara), bahkan mati akibat kesalahannya, diberi kesempatan hidup oleh raja.

Hal yang sama, sebenarnya juga dialami oleh orang percaya. Pelanggaran-pelanggaran kita yang tak terukur seharusnya membawa kita pada kematian (Rom. 6:23), namun raja ”yang mulia” yakni Kristus telah membayar lunas dengan harga yang mahal untuk semua kesalahan kita. Bahkan hal terindah bagi kita ketika Ia mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya yang kekasih, menjadi ahli waris kerajaan-Nya.

Ketika kita diselamatkan dan berubah menjadi anak-anak Allah, sesungguhnya kita menyandang/memiliki identitas baru di dalam Dia. Bahkan Alkitab tegas berkata ”sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman: itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah (ay. 8).” Kita mendapatkan semuanya itu, bukan karena kebaikan atau sikap hidup kita melainkan kasih karunia-Nya.

Berbahagialah kita yang telah dipilih, diselamatkan, diangkat menjadi anak-anak-Nya bahkan diberi identitas baru di dalam Dia. Tidak ada orang yang dapat mengubah bahkan merebut identitas baru kita di dalam Kristus. Jangan pernah sia-siakan identitas baru kita yang kita miliki di dalam Dia, karena inilah yang menghidupkan kita dari kematian kekal.

Pokok Renungan:

  • Semua orang pada dasarnya adalah bersalah dimata TUHAN dan seharusnya menerima hukuman
  • Dalam kasih karunia-Nya kita diberikan identitas baru yakni mereka yang percaya kepada-Nya
  • Identitas baru sebagai anak Allah kita dapat bukan karena perbuatan baik atau usaha kita melainkan pemberian Allah

Pertanyaan Renungan:

· Apakah anda merasa bahwa anda layak menerima identitas baru sebagai ”anak-anak Allah” di dalam Kristus? Apa yang membuat anda merasa layak? Dan apa pula yang membuat anda merasa tidak layak?

· Sudahkah anda merasa memiliki identitas baru sebagai ”anak-anak Allah” di dalam Kristus?

Doa:

Bapa, aku bukanlah orang yang layak untuk Kau jadikan anak-Mu, namun Kau telah melayakkanku karena kasih karunia-MU. Aku malu dengan hidupku, masa laluku dan dosaku dan aku mau berubah. Aku mau hidup dan menerima identitas baru yang Kau berikan. Terimakasih untuk kasih-Mu Bapa. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

MENIKMATI HIDUP SAAT INI

”MENIKMATI HIDUP SAAT INI”

(Maz. 34:13-15)

Banyak orang dimanjakan dengan impian. Apalagi tak jarang impian selalu dikaitkan dengan salah satu jalan menuju keberhasilan hidup. Namun, berapa banyak orang yang tidak menyadari bahwa kesuksesan bukan terletak pada seringnya orang bermimpi. Tetapi keyakinan untuk menangkap, mengimani dan bekerja keras mengejar impian itulah yang penting.

Tuhan tidak pernah mengajarkan kepada kita orang percaya untuk menjadi manja dengan tanpa berusaha dalam meraih kesuksesan hidup. Sama halnya dalam menikmati hidup ini, perlu sebuah usaha. Karena banyak orang yang tidak menyukai hidup, tidak mengingini umur panjang dan menikmati hal yang baik (ay. 13).

Pertama, hidup harus bijaksana dalam menggunakan perkataan

Sebagai orang percaya kita harus berkata benar: ditempat satu berkata benar ditempat lain juga sama. Disamping itu, belajarlah untuk memperkatakan/menyinggung kebenaran karena banyak anak Tuhan takut dalam memperkatakan kebenaran.

Tidak hanya itu, banyak juga hamba Tuhan yang terlalu diam dan segan memperkatakan kebenaran. Gereja menjadi sarang kemunafikan - dipenuhi orang-orang yang diam dengan membiarkan kemerosotan moral terjadi. Kalau bukan dari mimbar jemaat akan dengar kebenaran dari mana?

Kedua, hidup harus menjauhkan diri dari yang jahat dan melakukan yang baik

Hidup harus seimbang: menjauhkan diri dari yang jahat tetapi juga melakukan yang baik. Baik dan jahat seperti dua sisi mata uang. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Dosa adalah ketika kita melakukan yang jahat dan juga ketika tahu yang benar tetapi tidak melakukannya. Kegagalan melakukan hal yang baik berarti ketidakmampuan menerapkan kebenaran-Nya.

Ketiga, hidup harus dalam perdamaian

Berdamai dengan Allah. Berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan sesama. Banyak orang yang gampang cari musuh. Oleh karena itu sebagai orang percaya belajarlah untuk hidup dalam perdamaian. Maka seperti firman Tuhan anda akan menikmati hal yang baik dari hidup ini.