Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Agustus 2008

BELAJAR HIDUP DITENGAH KESULITAN HIDUP

”BELAJAR HIDUP DITENGAH KESULITAN HIDUP”

(Kel. 2:1-10)

Oleh: Ev. Ch. Sutriyono, S.Th

Pendahuluan

Kelahiran berarti kehidupan. Namun kenyataannya, kelahiran tidak hanya membawa kehidupan tetapi justru menjadi hal yang menakutkan bagi banyak orang karena tak jarang kelahiran justru berujung kematian. Dalam menyambut kelahiran, biasanya disertai dengan banyak persiapan. Orang tua biasanya mengharapkan kelahiran anaknya dengan keadaan yang lebih baik, kecukupan dan serba ada. Tetapi tidak demikian halnya dengan kelahiran Musa. Ia diperhadapkan dengan ancaman antara hidup dan mati. Ditengah kelahirannya, Ibunya yang bernama Yokhebet berusaha menyelamatkan dia karena ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh Raja Firaun karena alasan politik. Mari kita belajar dari Yokhebet yang dengan gigih, tidak putus asa dengan kesulitan hidup yang dia hadapi. Tetap berjuang meski keadaan hidup sulit bahkan jauh dari apa yang di pikirkan sebelumnya.

Pertama, Hidup itu lebih berharga dari apapun (ay. 2-3)

Meski keadaan sulit tetapi Yokhebet bertahan bahkan ia berusaha menyelamatkan anaknya. Dalam ayat 3 dan 4, tindakan penyelamatan Yokhebet nampak nyata, terlihat dalam hal ”menyembunyikan,” ”diambilnya sebuah peti,” dipangkalnya,” diletakkannya bayi itu” (ay. 2-3). Dia tahu betul bahwa hidup anaknya lebih penting dari apapun. Yokhebet tidak pernah berpikir sebelumnya kalau ternyata penyelamatan anaknya (Musa) olehnya membawa dampak yang luar biasa. Musa dipakai Tuhan untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di tanah Mesir. Mari para orang tua selamatkan anak-anak anda dari ancaman saat ini (pergaulan bebas, kemabukan, HIV/AIDS, dll).

Kedua, Hidup itu indah jika dikelilingi keindahan(ay. 4-6)

Keadaan Yokhebet sendiri sebenarnya terancam. Tetapi kembali ia tidak mau terfokus untuk mementingkan diri sendiri. Dia menyadari bahwa anaknya ádalah segalanya buat dia. Anaknya itulah yang menjadi keindahan disaat masa-masa yang sulit. Meskipun dia terpisah dengan anaknya, tidak menjadi soal bagi Yokebet yang terpenting ádalah keselamatan nyawa anaknya. Dalam hidup ini, mungkin banyak kesulitan, tantangan yang bahkan berujung pada kehilangan. Namun sadarilah bahwa hidup ini indah jika dikelilingi oleh keindahan. Adakah keindahan di sekelilingmu? yang terus menjadi motivasimu/semangatmu untuk berkarya/ menjalani hidup ini? Untuk terus bekerja meski hati tersiksa. Terus semangat melayani meski ada banyak orang yang mencoba menjatuhkan anda. Jangan kehilangan keindahan dari hidup ini. Keindahan anda dalam keluarga mungkin anak anda. Keindahan anda sebagai hamba Tuhan mungkin pelayanan anda. Tetapi jauh yang lebih pasti adalah Yesus, keindahan diatas keindahan kita.

Ketiga, Hidup itu harus menggunakan kesempatan (ay. 7-10)

Bagi Yokhebet bisa saja ia berfikir ini adalah kesempatan terakhir bagi dia untuk menyelamatkan anaknya. Masa depan anaknya jauh lebih luas dibanding dengan hidupnya sehingga ia membiarkan dirinya ada dalam situasi terancam maut. Hidup harus menggunakan kesempatan. Yang pasti dalam hal ini adalah kesempatan untuk hidup. Banyak yang menyia-nyiakan kesempatan hidup. Kesempatan untuk menjadi produktif bagi orang lain: menyenangkan bahkan menguntungkan bagi orang lain. Membiarkan hidup hanya berjalan apa adanya tanpa ada sesuatu yang dikerjakan. Hidup ini indah jika ada yang di harapkan dan dikerjakan. Apa yang ada kerjakan dalam hidup ini? Dan, apa yang anda harapkan?

MEMIMPIN DENGAN KUALITAS HIDUP

”MEMIMPIN DENGAN KUALITAS HIDUP”

(Sebuah Refleksi serta Kontemplasi Diri Terhadap Tanggung Jawab)

(1 Yoh. 1:1-4)

Oleh: Ev. Ch. Sutriyono, S.Th

Banyak koleksi definisi tentang kepemimpinan yang mencoba mengusung arti terbaik dari kepemimpinan. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mengimplementasikannya. Bagaimana membawa dunia, lingkungan dan keluarga kepada suatu perubahan, harapan atau perbaikan hidup yang lebih signifikan. Itulah yang seharusnya menjadi arah dan tujuan sebuah kepemimpinan. Tidak ada nilai terbaik dari seorang pemimpin kecuali memahami untuk apa pemimpin ada, dan eksistensinya membawa kompleksitas perubahan ditengah dunia yang berubah.

Berbicara tentang kepemimpinan itu berarti sebuah kesempatan yang menuntut tanggung jawab pribadi dan universal. Artinya, haruslah digunakan dengan sebaik-baiknya karena kepercayaan untuk memimpin pada tempat, masa dan posisi yang sama tidak selalu datang kepada seseorang. Terkadang seorang pemimpin diperhadapkan dengan pilihan, perjuangan, pengorbanan yang akan menentukan sebuah nilai kepemimpinan dan tak jarang banyak yang gagal dan rapuh menghadapi semuanya itu.

Disamping itu, apabila berbicara tentang kesempatan banyak orang berkata bahwa kesempatan tidak pernah datang untuk kedua kali. Oleh karena itu, selagi ada kesempatan untuk memimpin ambilah dan gunakanlah dengan sebaik-baiknya. Sebenarnya, kesempatan dapat datang kedua kali bahkan berkali-kali dalam hidup ini, hanya jarang kesempatan yang sama (bentuk dan cara) datang ke dalam hidup ini dua kali dengan segala tawaran dan keindahannya.

Ada banyak yang memilih mengakhiri pertandingan, melakukan apa saja, memilih apa saja, memutuskan apa saja demi kelangsungan dan demi bobot kepemimpinan. Dalam hal ini, seharusnya seseorang dapat belajar; dengan cara bagaimana ia harus memimpin, karena dengan demikian ia menyadari bahwa kepemimpinan adalah sebuah mandat ilahi untuk umat ilahi. Kegagalan memaknai hal ini berarti pergulatan serius terhadap esensi kepemimpinan dan keraguan mendalam terhadap eksistensi seorang pemimpin. Karena kepemimpinan adalah sebuah proses untuk terus melakukan pengerjaan ekstra terhadap tanggung jawab demi menghasilkan perbaikan menyeluruh dalam bidang yang dipercayakan.

Namun realitanya, untuk mencapai semuanya itu tidaklah mudah. Kesempatan ini, kita akan melihat dan belajar bagaimana memimpin dengan kualitas hidup? Banyak pemimpin gagal karena tidak ada pemahaman yang benar terhadap dirinya (identitas). Terlalu banyak pemimpin kandas dalam persoalan sehingga tidak menyelesaikan tuntutan, atau menyelesaikan sesuatu yang bukan wewenangnya, terseret dengan serentetan tanggung jawab yang dibebankan pada pundak mereka. Hal ini karena lemahnya bahkan tidak adanya sebuah kontemplasi diri terhadap kualitas hidup. Bagaimana Tuhan memandang seorang pemimpin dan bukan bagaimana pemimpin memandang dirinya sendiri secara kabur. Dalam perspektif rohani kita akan melihat bagaimana seorang memimpin dengan kualitas hidup Kristiani menurut 1 Yohanes 1: 1-4.

Pertama: Memiliki Pegangan Hidup (ay. 1)

Berhubungan dengan tujuan dituliskannya surat 1 Yohanes, Yohanes mencatat dalam ayat pertama yakni memberitakan tentang Firman hidup. Kata Firman hidup (Yun: logou tes zoes) dalam ayat ini jelas menunjuk kepada satu eksistensi yakni Pribadi Yesus. Yohanes menyadari hanya Firman hidup itulah yang mampu mengubah hidup, memaknai hidup bahkan membawa hidup kearah kebenaran. Oleh karena itu dengan yakin dan berani Yohanes berkata: ”yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba - itulah yang kami tuliskan.”

Dalam hal ini, Yohanes menaruh keyakinan penuh terhadap Firman hidup, yakni Yesus Kristus ketika melakukan tugas pelayanannya. Sama halnya dalam hidup ini, diperlukan keyakinan teguh dalam melakukan tugas dan tanggung jawab yang ada. Kehidupan yang serba memilih menuntut manusia untuk memiliki penguat dalam hidup ini. Mengingat keberadaan manusia yang lemah, tak berdaya menghadapi derasnya persoalan hidup oleh karena itu dibutuhkan pegangan dalam hidup ini. Sebagai seorang pemimpin, pegangan hidup sangatlah penting. Berbagai goncangan, tantangan dapat teratasi apabila seorang pemimpin memiliki pegangan hidup. Adakah pegangan dalam hidup anda saat anda menghadapi masalah dalam hidup ini? Milikilah pegangan hidup dalam hidup ini dan yakinlah akan pegangan hidup anda.

Kedua: Memiliki Pandangan Hidup (ay. 2)

Ada dua kata Yunani yang biasa menjelaskan tentang hidup yakni zoe dan bios. Menarik karena kata yang dipakai untuk menjelaskan ”hidup kekal” dalam ayat dua, dipakai kata zoen ten aionion. Hidup ”zoe” berarti hidup yang punya nilai, biasa dibedakan dengan bios yang sama sekali tidak berkaitan dengan roh. Dikatakan bahwa ”hidup kekal” itu ada bersama-sama dengan Bapa dan telah dinyatakan. Itu berarti bahwa hidup bukan sebuah misteri, seperti roda dan sebagainya. Kebenarannya, hidup itu adalah indah. Sebab Yesus adalah keindahan dari hidup. Sebagai seorang pemimpin milikilah pandangan hidup yang benar. Pandangan kita terhadap hidup akan mempengaruhi cara berpikir dan bertindak kita, bahkan perspektif kita terhadap orang lain.

Ketiga: Memiliki Panggilan Hidup (ay.3-4)

Dalam ayat 3 dan 4 dijelaskan bahwa sesungguhnya orang percaya dipanggil untuk dua hal: bersekutu dan bersukacita. Kata ”bersekutu” berasal dari kata Yunani koinonia dengan arti; memiliki bersama, ikut serta dalam sesuatu, menjadikan bersama, memiliki bersama: dengan persekutuan dalam darah dan tubuh, mempunyai bersama dalam Kristus. Ini berarti orang percaya mempunyai panggilan yang istimewa di dalam hidup mereka. Hal ini seharusnya menjadi pemahaman penuh arti bagi orang percaya. Mereka dalam rutinitas aktivitas harus tetap bersekutu dengan Sang Pencipta.

Sedangkan kata ”bersukacita” (Yun: kara) memiliki nuansa arti, sukacita bukan secara lahiriah melainkan sukacita karena pengakuan akan Sang Juru Selamat, sukacita karena hasil dari situasi baru yang dimiliki. Dan, dalam konteks ini situasi baru itu adalah karena hidup kekal. Seorang pemimpin harus memiliki panggilan hidup dan menghidupi panggilan itu. Hal ini memampukan para pemimpin tetap bersukacita meski banyak tantangan, maju terus meski himpitan persoalan tiada akhir.