Tampilkan postingan dengan label kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kristen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Agustus 2008

MEMIMPIN DENGAN KUALITAS HIDUP

”MEMIMPIN DENGAN KUALITAS HIDUP”

(Sebuah Refleksi serta Kontemplasi Diri Terhadap Tanggung Jawab)

(1 Yoh. 1:1-4)

Oleh: Ev. Ch. Sutriyono, S.Th

Banyak koleksi definisi tentang kepemimpinan yang mencoba mengusung arti terbaik dari kepemimpinan. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mengimplementasikannya. Bagaimana membawa dunia, lingkungan dan keluarga kepada suatu perubahan, harapan atau perbaikan hidup yang lebih signifikan. Itulah yang seharusnya menjadi arah dan tujuan sebuah kepemimpinan. Tidak ada nilai terbaik dari seorang pemimpin kecuali memahami untuk apa pemimpin ada, dan eksistensinya membawa kompleksitas perubahan ditengah dunia yang berubah.

Berbicara tentang kepemimpinan itu berarti sebuah kesempatan yang menuntut tanggung jawab pribadi dan universal. Artinya, haruslah digunakan dengan sebaik-baiknya karena kepercayaan untuk memimpin pada tempat, masa dan posisi yang sama tidak selalu datang kepada seseorang. Terkadang seorang pemimpin diperhadapkan dengan pilihan, perjuangan, pengorbanan yang akan menentukan sebuah nilai kepemimpinan dan tak jarang banyak yang gagal dan rapuh menghadapi semuanya itu.

Disamping itu, apabila berbicara tentang kesempatan banyak orang berkata bahwa kesempatan tidak pernah datang untuk kedua kali. Oleh karena itu, selagi ada kesempatan untuk memimpin ambilah dan gunakanlah dengan sebaik-baiknya. Sebenarnya, kesempatan dapat datang kedua kali bahkan berkali-kali dalam hidup ini, hanya jarang kesempatan yang sama (bentuk dan cara) datang ke dalam hidup ini dua kali dengan segala tawaran dan keindahannya.

Ada banyak yang memilih mengakhiri pertandingan, melakukan apa saja, memilih apa saja, memutuskan apa saja demi kelangsungan dan demi bobot kepemimpinan. Dalam hal ini, seharusnya seseorang dapat belajar; dengan cara bagaimana ia harus memimpin, karena dengan demikian ia menyadari bahwa kepemimpinan adalah sebuah mandat ilahi untuk umat ilahi. Kegagalan memaknai hal ini berarti pergulatan serius terhadap esensi kepemimpinan dan keraguan mendalam terhadap eksistensi seorang pemimpin. Karena kepemimpinan adalah sebuah proses untuk terus melakukan pengerjaan ekstra terhadap tanggung jawab demi menghasilkan perbaikan menyeluruh dalam bidang yang dipercayakan.

Namun realitanya, untuk mencapai semuanya itu tidaklah mudah. Kesempatan ini, kita akan melihat dan belajar bagaimana memimpin dengan kualitas hidup? Banyak pemimpin gagal karena tidak ada pemahaman yang benar terhadap dirinya (identitas). Terlalu banyak pemimpin kandas dalam persoalan sehingga tidak menyelesaikan tuntutan, atau menyelesaikan sesuatu yang bukan wewenangnya, terseret dengan serentetan tanggung jawab yang dibebankan pada pundak mereka. Hal ini karena lemahnya bahkan tidak adanya sebuah kontemplasi diri terhadap kualitas hidup. Bagaimana Tuhan memandang seorang pemimpin dan bukan bagaimana pemimpin memandang dirinya sendiri secara kabur. Dalam perspektif rohani kita akan melihat bagaimana seorang memimpin dengan kualitas hidup Kristiani menurut 1 Yohanes 1: 1-4.

Pertama: Memiliki Pegangan Hidup (ay. 1)

Berhubungan dengan tujuan dituliskannya surat 1 Yohanes, Yohanes mencatat dalam ayat pertama yakni memberitakan tentang Firman hidup. Kata Firman hidup (Yun: logou tes zoes) dalam ayat ini jelas menunjuk kepada satu eksistensi yakni Pribadi Yesus. Yohanes menyadari hanya Firman hidup itulah yang mampu mengubah hidup, memaknai hidup bahkan membawa hidup kearah kebenaran. Oleh karena itu dengan yakin dan berani Yohanes berkata: ”yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba - itulah yang kami tuliskan.”

Dalam hal ini, Yohanes menaruh keyakinan penuh terhadap Firman hidup, yakni Yesus Kristus ketika melakukan tugas pelayanannya. Sama halnya dalam hidup ini, diperlukan keyakinan teguh dalam melakukan tugas dan tanggung jawab yang ada. Kehidupan yang serba memilih menuntut manusia untuk memiliki penguat dalam hidup ini. Mengingat keberadaan manusia yang lemah, tak berdaya menghadapi derasnya persoalan hidup oleh karena itu dibutuhkan pegangan dalam hidup ini. Sebagai seorang pemimpin, pegangan hidup sangatlah penting. Berbagai goncangan, tantangan dapat teratasi apabila seorang pemimpin memiliki pegangan hidup. Adakah pegangan dalam hidup anda saat anda menghadapi masalah dalam hidup ini? Milikilah pegangan hidup dalam hidup ini dan yakinlah akan pegangan hidup anda.

Kedua: Memiliki Pandangan Hidup (ay. 2)

Ada dua kata Yunani yang biasa menjelaskan tentang hidup yakni zoe dan bios. Menarik karena kata yang dipakai untuk menjelaskan ”hidup kekal” dalam ayat dua, dipakai kata zoen ten aionion. Hidup ”zoe” berarti hidup yang punya nilai, biasa dibedakan dengan bios yang sama sekali tidak berkaitan dengan roh. Dikatakan bahwa ”hidup kekal” itu ada bersama-sama dengan Bapa dan telah dinyatakan. Itu berarti bahwa hidup bukan sebuah misteri, seperti roda dan sebagainya. Kebenarannya, hidup itu adalah indah. Sebab Yesus adalah keindahan dari hidup. Sebagai seorang pemimpin milikilah pandangan hidup yang benar. Pandangan kita terhadap hidup akan mempengaruhi cara berpikir dan bertindak kita, bahkan perspektif kita terhadap orang lain.

Ketiga: Memiliki Panggilan Hidup (ay.3-4)

Dalam ayat 3 dan 4 dijelaskan bahwa sesungguhnya orang percaya dipanggil untuk dua hal: bersekutu dan bersukacita. Kata ”bersekutu” berasal dari kata Yunani koinonia dengan arti; memiliki bersama, ikut serta dalam sesuatu, menjadikan bersama, memiliki bersama: dengan persekutuan dalam darah dan tubuh, mempunyai bersama dalam Kristus. Ini berarti orang percaya mempunyai panggilan yang istimewa di dalam hidup mereka. Hal ini seharusnya menjadi pemahaman penuh arti bagi orang percaya. Mereka dalam rutinitas aktivitas harus tetap bersekutu dengan Sang Pencipta.

Sedangkan kata ”bersukacita” (Yun: kara) memiliki nuansa arti, sukacita bukan secara lahiriah melainkan sukacita karena pengakuan akan Sang Juru Selamat, sukacita karena hasil dari situasi baru yang dimiliki. Dan, dalam konteks ini situasi baru itu adalah karena hidup kekal. Seorang pemimpin harus memiliki panggilan hidup dan menghidupi panggilan itu. Hal ini memampukan para pemimpin tetap bersukacita meski banyak tantangan, maju terus meski himpitan persoalan tiada akhir.

TINJAUAN UMUM TERHADAP CALVINISME

TINJAUAN UMUM TERHADAP CALVINISME

Oleh: Ev. Chornelius Sutriyono, S.Th

Berbicara tentang calvinisme maka itu berarti berbicara tentang iman Reformed.[1] Teologi Calvinisme atau iman Reformed berakar pada tulisan-tulisan John Calvin, khususnya yang diekspresikan dalam Institutes of the Christian Religion.[2] John Calvin (1509-1564) lahir di Noyon, Picardy, enam belas mil di sebelah utara timur Paris. Ia bertobat melalui kontaknya dengan kaum Protestan, kemungkinan besar pada tahun 1533 atau 1534, namun informasi yang rinci sangat kurang mengenai hal ini. Pada waktu itu, Calvin menolak “superstisi dari kepausan.”[3]

Bibliologi dalam ajaran Calvin

Alkitab dipandang sebagai aturan bagi iman. Keenam puluh enam kitab PL dan PB diakui memberikan “inspirasi ilahi, otoritas dan cukup sebagai patokan iman dan praktis yang tanpa salah.” Tradisi-tradisi dari Roma Katolik, Apokripa, dan Humanisme harus ditolak.[4] Ia cukup berisi segala sesuatu yang perlu untuk mengenal Allah dan tugas-tugas orang percaya terhadap Allah dan sesama manusia. Kewibawaan Alkitab terjamin oleh pekerjaan Roh Kudus.[5] Lebih lanjut ia memakai Alkitab juga sebagai buku petunjuk-petunjuk etis, sesuai dengan semangat Humanis, walaupun dengan tegas dalam konteks ajaran Luther.

Calvin memandang Alkitab berasal dari Allah sehingga memiliki otoritas ilahi di dalamnya. Baginya, Alkitab berasal dari Allah karena diinspirasikan oleh Allah sendiri. Karena inspirasi Allah inilah maka Alkitab memiliki otoritas intrinsik. Pada bagian ini ia tidak berbicara mengenai kesaksian internal yang memberikan otoritas kepada Alkitab sebab baginya otoritas itu muncul karena Alkitab diinspirasikan. Dengan demikian Alkitab membuktikan kebenarannya sendiri. Lebih jelas ia mengatakan bahwa Alkitab mengabsahkan dirinya sendiri. Dengan demikian dasar obyektif bagi keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Allah terletak kepada Alkitab itu sendiri.[6]

Soteriologi dalam ajaran Calvin

Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, ia dapat mencapai kebajikan melalui kuasa-kuasa alamiah, namun kejatuhan manusia ke dalam dosa telah mengubah hakikat manusia sehingga sekarang semua manusia berada di bawah kuasa dosa. Manusia telah kehilangan segala kebaikan dan tersandung sehingga bergelimang kemalangan dan kutuk.[7] Manusia tidak bebas lagi, sehingga ia memerlukan rahmat Allah. Semua perbuatan manusia pada hakikatnya adalah dosa dan manusia hanya dibenarkan karena rahmat Allah saja. Perbuatan baik tidak mempunyai andil apa pun dalam tindakan pembenaran Allah terhadap manusia berdosa (kerusakan manusia yang telah jatuh).[8]

Pembenaran Allah hanya dapat disambut oleh manusia dengan iman. Calvin menyatakan bahwa baik pembenaran maupun kelahiran kembali merupakan hasil dari persatuan orang percaya dengan Kristus melalui iman.[9] Iman mempersatukan orang percaya dengan Kristus di dalam suatu “kesatuan mistis” (di sini Calvin mengklaim kembali tekanan Luther atas kehadiran yang nyata dan pribadi dari Kristus di dalam diri orang-orang percaya yang dibangun melalui iman). Persatuan dengan Kristus ini mempunyai dampak rangkap dua yang disebut oleh Calvin sebagai anugerah ganda.

Pertama, persatuan antara orang percaya dengan Kristus membawa secara langsung pada pembenaran dirinya. Melalui Kristus, orang percaya dinyatakan menjadi benar dalam pandangan Allah. Kedua, oleh karena persatuan orang percaya dengan Kristus-dan bukan karena pembenaran atasnya-orang percaya itu mulai melakukan proses menjadi seperti Kristus melalui kelahiran kembali.

Disamping itu, Calvin menjabarkan predestinasi sebagai berikut; “Predestinasi disebut ketetapan Allah yang kekal, yang melaluinya Ia telah menetapkan di dalam diri-Nya apa yang akan terjadi dalam setiap individu umat manusia… hidup kekal ditetapkan sebelumnya bagi sebagian orang, dan penghukuman kekal bagi yang lain. Setiap orang, karena itu, diciptakan untuk salah satu dari tujuan ini, kita sebut Ia mempredestinasikan baik untuk hidup atau untuk mati.”

Calvin mengajarkan bahwa Allah, dalam tindakan predestinasinya, memilih orang-orang tertentu untuk keselamatan. Pemilihan itu sendiri berdasarkan pada istilah panggil (Yunani kaleo) yang berarti “memanggil keluar dari antara.” Calvin bersikeras bahwa pemilihan dan predestinasi merupakan suatu keharusan karena kejatuhan manusia. Apabila manusia itu mati dalam pelanggaran dan dosa-dosa (Ef. 2:1), maka merupakan suatu keharusan bagi Allah untuk berinisiatif menyelamatkan manusia. Manusia dalam kondisi tercemarnya sama sekali tidak mampu untuk bergerak ke arah Allah.

Bagi Calvin, predestinasi bukanlah suatu pendekatan deduktif yang didasarkan pada konsep yang sudah ada sebelumnya mengenai kedaulatan dan kemahakuasaan Allah. Dengan kata lain, predestinasi tidak dijadikan sebagai suatu doktrin abstrak berdasarkan penetapan Allah di dalam kekekalan-Nya, tetapi sebagai suatu refleksi atas misteri pengalaman manusia sebagaimana terlihat dari keragaman responnya terhadap anugerah keselamatan tersebut.[10]

Dengan kata lain, Calvin menempatkan doktrin-doktrin predestinasi di dalam konteks soteriologi, Calvin berusaha untuk menunjukkan bahwa fungsionalitas doktrin predestinasi sebagai dasar jaminan keselamatan dapat ditimba oleh setiap orang percaya. Hal ini bisa terjadi apabila kita memulai pemahaman tentang predestinasi dengan breangkat dari latter signs atau tanda-tanda keselamatan yang Allah nyatakan kepada kita, dan dengan memandang kepada Yesus Kristus sebagai the mirror of election.[11]

Eklesiologi dalam ajaran Calvin

Calvinisme membela teokrasi di dalam gereja.[12] Gereja adalah milik Kristus dan Pendeta bukan pegawai pemerintah, melainkan pelayan Firman yang bertanggung jawab kepada Tuhan.[13] Negara harus bersama-sama dengan gereja untuk menegakkan keadilan serta memuliakan Allah. Kedua-duanya harus berdampingan dan masing-masing mendapat tugas tertentu dari Allah yang harus dipertanggungjawabkannya kepada Tuhan Allah.[14]

Mengenai sakramen, hanya ada dua yang ditetapkan oleh Kristus Tuhan kita dalam Injil, yaitu Baptisan dan Perjamuan Malam Tuhan.[15] Keduanya tidak boleh dilayankan selain oleh seorang pelayan Firman yang diteguhkan dengan cara yang sah.[16] Dalam Perjamuan kudus, Calvin berusaha untuk mencari jalan tengah antara ajaran Luther dan Zwingli.[17] Ia menolak bahwa Kristus hadir secara jasmani dalam Perjamuan Kudus dengan cara yang diajarkan Luther, yaitu bahwa kehadiran Kristus terikat pada roti dan anggur dan terlepas dari iman orang yang menerima Perjamuan Kudus (menurut pandangan Luther, yang sesuai dengan teologi Abad Pertengahan, orang yang tidak percaya pun menerima tubuh dan darah Kristus, walaupun bukan demi keselamatan melainkan demi kebinasaan).[18]

Pada pihak lain ia juga menolak bahwa Perjamuan Kudus hanya tindakan pengakuan jemaat yang memupuk semangat iman saja, seperi dikatakan Zwingli. Bagi Calvin, Perjamuan Kudus (dan Baptisan) adalah tanda yang diberikan Kristus untuk menunjuk pada penyelamatan manusia, yang memeteraikan keselamatan ini dalam diri orang percaya. Terlepas dari iman Perjamuan Kudus roti dan anggur melulu. Akan tetapi dalam iman keselamatan itu menjadi begitu nyata sehingga Calvin dapat mengatakan bahwa Kristus sungguh-sungguh hadir, bukan dengan tubuh-Nya (karena tubuh-Nya ada di surga) tetapi dalam Roh Kudus.

Kristologi dalam ajaran Calvin

Dalam pengakuan iman gereja Perancis (1559), bahwa Yesus Kristus, yang adalah hikmat Allah dan Anak-Nya yang kekal, telah mengenakan daging, untuk menjadi Allah dan manusia dalam satu Pribadi. Dia menjadi manusia yang serupa dengan kita, yang dapat menderita dalam tubuh dan jiwa. Hanya saja, Dia suci, tanpa noda apapun. Dan menurut kemanusiaan-Nya Dia benar-benar keturunan Abraham dan Daud, meskipun Dia dikandung oleh kekuatan tersembunyi Roh Kudus.

Kedua tabiat itu digabungkan dan disatukan benar-benar dan secara tak terpisahkan dalam satu Pribadi yang tunggal, yaitu Yesus Kristus. Namun, masing-masing tetap memiliki sifatnya sendiri dan tetap bersifat tak diciptakan, tidak terhingga, dan memenuhi segala sesuatu; begitu pula tabiat kemanusiaan tetap bersifat berhingga dan memiliki bentuk, ukuran, dan sifatnya sendiri. Dan kendati Yesus Kristus, ketika Dia bangkit, telah memberi tubuh-Nya ketidakfanaan, namun dia tidak meniadakan keaslian tabiat-Nya. Maka kita memandang Dia dalam keilahian-Nya dengan cara yang tidak menanggalkan kemanusiaan-Nya.

Hal ini berbeda dengan pandangan Lutheran mengenai Kristologi. Doktrin Luther akan kehadiran fisik Kristus dalam Perjamuan Kudus membawa pada pandangan Lutheran yang khas yaitu communication idiomatum, yang menyatakan bahwa “setiap nature Kristus mengalirkan nature yang lain ‘perichoresis,’ dan bahwa kemanusiaan-Nya mengambil bagian dalam atribut-atribut ilahi-Nya. Mereka berpegang bahwa sifat mahakuasa, mahatahu dan mahahadir diberikan pada nature manusia pada saat inkarnasi.[19]

No.

Positif

Negatif

1.

2.

3.

4.

· Bibliologi: Alkitab berasal dari Allah, memiliki otoritas dan adalah firman Allah.

· Soteriologi: Semua perbuatan manusia pada hakikatnya adalah dosa dan manusia hanya dibenarkan karena rahmat Allah saja.

· Predestinasi dan pemilihan merupakan konsep Alkitabiah.

· Eklesiologi: Pandangan mengenai Perjamuan (Kudus n Baptisan) Alkitabiah.

· Kristologi: Pandangan terhadap Kristologi Alkitabiah. Ia memahami bahwa Kristus adalah anak manusia dan ilahi.

vAlkitab dipahami sebagai petunjuk-petunjuk dalam hal etis, hanya sebatas patokan iman serta usaha untuk mengenal Allah. Bahayanya adalah usaha manusia dan rasionalisme manusia.

vSoteriologi: -

vEklesiologi: Keduanya (perjamuan kudus dan baptisan) tidak boleh dilayankan selain oleh seorang pelayan Firman yang diteguhkan dengan cara yang sah. Apakah ini Alkitabiah? Seandainya tidak ada bagaimana?

vKristologi: Mengenai Kristologi ia memandang adanya dua tabiat (manusia dan ilahi) yang melebur/bergabung menjadi satu dan tetap mempertahankan keasliannya. Bagaimana hal ini bisa terjadi dan bagaimana prosesnya?



[1]Paull Enns, The Moody Handbook of Theology, jil. 2, pen., Rahmiati Tanudjaja, peny., Sri Lestarini, Elisabeth Yuliasari (Malang: Literatur SAAT, 2004), 103.

[2]Ibid.,

[3]Ibid.,

[4]Ibid., 107.

[5]F.D. Wellem, “Calvinisme,” dalam Kamus Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia,

2004),52.

[6]Christian Sulistio, Kesaksian Internal Roh Kudus Menurut John Calvin dalam Veritas 3/2
(Oktober 2002):247-248.

[7]John Calvin, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme, peny., Th. Van den End (Jakarta:BPK Gunung Mulia,2001), 6.

[8]Anthony A. Hoekema, Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah, pen., Irwan Tjulianto, peny., Hendry Ongkowidjojo (Surabaya: Momentum, 2003), 243.

[9]Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, pen., Liem Sien Kie (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 146.

[10]Henry Efferin, Doktrin Pilihan dari Perspektif Reformed Kontemporer dalam Veritas 3/1 (April 2002): 17.

[11]Kalvin S. Budiman, Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi dalam Veritas 2/2 (Oktober 2001): 174.

[12]Ibid., 53.

[13]Christian de Jonge, Gereja Mencari Jawab: Kapita Selekta Sejarah Gereja (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1994), 30.

[14]Penjelasan lebih lanjut lihat dalam TH. Van Den End, Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986), 195.

[15]John Calvin, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme, 133.

[16]Penjelasan lebih lanjut lihat dalam John Calvin, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme.

[17]Ibid, 31.

[18]Penjelasan lebih lanjut lihat dalam H. Berkhof, Sejarah Gereja, peny., I.H. Enklaar (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 175.

[19]Louis Berkhof, Teologi Sistematika:Doktrin Kristus (Surabaya: Momentum, 2002), 15.