Tampilkan postingan dengan label ajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ajaran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 September 2008

MEMAHAMI TUGAS DAN FUNGSI GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MENURUT AJARAN ALKITAB

MEMAHAMI TUGAS DAN FUNGSI GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MENURUT AJARAN ALKITAB*
(Studi Teologis tentang Tugas dan Fungsi Guru PAK)
Oleh: Ev. Ch. Sutriyono, S.Th


Pendahuluan
Judul makalah ini adalah ”Memahami Tugas dan Fungsi Guru Pendidikan Agama Kristen Menurut Ajaran Alkitab (Studi Teologis tentang Tugas dan Fungsi Guru PAK).” Pembahasan dalam makalah ini bersifat Teologis-praktis, diawali dengan memaparkan secara singkat pandangan tokoh-tokoh Gereja berkaitan dengan Pendidikan Agama Kristen. Diharapkan hal ini memberikan gambaran konkrit akan krusialitas Pendidikan Agama Kristen dalam perkembangan Gereja terdahulu dan meyakininya ~ memiliki kontribusi positif bagi perkembangan Gereja/pendidik masa kini. Dilanjutkan dengan menguraikan pandangan Alkitab terhadap Pendidikan Agama yang diruntut mulai dari sejarah Bangsa Israel (PL), dalam Perjanjian Baru (Yesus Sang Guru Agung), yang akhirnya secara praktis menjadi sebuah pemahaman akan tugas dan fungsi Guru PAK masa kini.

Pengertian Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Istilah Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebenarnya berasal dari Bahasa Inggris Christian Education. Sengaja diterjemahkan demikian, bukan harafiah ”Pendidikan Kristen,” karena pengertiannya yang agak berbeda. Istilah Pendidikan Kristen dalam Bahasa Indonesia menunjuk pada pengajaran biasa tetapi diberikan dalam nuansa Kristen; juga dapat berarti Sekolah-sekolah yang dijalankan oleh Gereja atau organisasi/Yayasan Kristen. Istilah Pendidikan Agama Kristen (PAK) dibedakan dengan istilah Pendidikan Kristen karena PAK merupakan pendidikan yang berporos pada pribadi Tuhan Yesus Kristus dan Alkitab sebagai dasar atau acuanya.
Menurut Agustinus PAK adalah pendidikan dengan tujuan supaya orang ”melihat Allah” dan ”kehidupan bahagia” dengan cara para pelajar sudah diajar secara lengkap dari ayat pertama Kitab Kejadian ”pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” sampai ”arti penciptaan itu pada masa Gereja sekarang ini.” Pelajaran Alkitab difokuskan pada perbuatan hebat Allah.
Sedangkan Marthen Luther mengemukakan bahwa PAK adalah pendidikan dengan melibatkan semua warga Jemaat dalam rangka belajar teratur dan tertib agar semakin sadar akan dosa mereka serta bergembira dalam Firman Tuhan yang memerdekakan mereka disamping memperlengkapi mereka dengan sumber iman, khususnya pengalaman berdoa, Firman tertulis (Alkitab) dan rupa-rupa kebudayaan sehingga mampu melayani sesamanya termasuk Masyarakat dan Negara serta mengambil bagian secara bertanggung jawab dalam persekutuan Kristen.
Calvin mengemukakan bahwa PAK adalah pendidikan yang bertujuan mendidik putra-putri Gereja agar mereka, (1) dilibatkan dalam penelaahan Alkitab secara cerdas sebagaimana dibimbing oleh Roh Kudus; (2) diajar mengambil bagian dalam kebaktian serta mencari keesaan Gereja; dan (3) diperlengkapi memilih cara-cara menge-jawantahkan pengabdian diri kepada Allah Bapa Yesus Kristus dalam gelanggang pekerjaan sehari-hari serta hidup bertanggung jawab di bawah kedaulatan Allah demi kemuliaan-Nya sebagai lambang ucapan syukur mereka yang dipilih dalam Yesus Kristus.
Sedangkan menurut Werner, ia mengemukakan bahwa PAK adalah proses pengajaran dan pembelajaran yang berdasarkan pada Alkitab, berpusatkan pada Kristus, yang bergantung pada kuasa Roh Kudus, yang berusaha membimbing pribadi-pribadi pada semua tingkat pertumbuhan, melalui cara-cara pengajaran masa kini kearah pengenalan dan pengalaman tentang rencana dan kehendak Allah melalui Kristus di dalam setiap aspek hidup.
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Kristen yang Alkitabiah harus mendasarkan diri pada Alkitab sebagai Firman Allah dan menjadikan Kristus sebagai pusat beritanya dan harus bermuara pada hasilnya yaitu murid dewasa. Alkitab sebagai sumber pengajaran PAK harus diyakini sebagai Firman Allah tanpa salah karena diwahyukan oleh Roh Kudus. Itulah sebabnya para pengajar dan pelajar PAK memerlukan penerangan oleh Roh Kudus.

Pendidikan Agama dalam Perjanjian Lama
Kepedulian Perjanjian Lama terhadap Pendidikan Agama sangat nyata. Dalam Ulangan 6:4-9, disana sasaran dan pola Pendidikan Agama ditujukan. Ditegaskan bahwa umat Allah berkewajiban untuk mewariskan kebenaran ilahi itu kepada generasi penerusnya. Tanggung jawab tersebut harus dilakukan dengan kegigihan dan dengan tidak mengenal lelah. Juga, dengan memanfaatkan segala peluang dan sarana yang tersedia secara maksimal.
Dari ayat-ayat ini ketekunan dalam melaksanakan tugas adalah penting dan nyata sekali ”berulang-ulang” (ay. 7). Menyatunya orang percaya dalam panggilan tugas (mengajar dan mendidik) adalah mencerminkan hubungan pribadi dengan Pencipta-Nya. Ketekunan dalam pengajaran kebenaran Firman harus mencerminkan kadar kasih orang percaya kepada Allahnya (ay. 5). Selain itu, seluruh aktifitas Pendidikan Agama harus dilaksanakan dalam kesadaran akan kehadiran Pribadi Allah sendiri (ay. 4). Hal ini dimaksudkan untuk menyadarkan pentingnya ketergantungan kepada-Nya (pengajaran dan pengelolaan) dan juga mengingatkan bahwa tujuan akhir seluruh kegiatan adalah terletak disana ~ kehadiran Allah.
Jelas sekali bahwa Perjanjian Lama memandang Pendidikan Agama lebih dari suatu kegiatan yang berurusan dengan soal penggarapan akal. Bidang garapan Pendidikan Agama menjamah dimensi yang lebih luas dan diarahkan pada perubahan sikap, dan khususnya perubahan hidup para peserta didik. Dengan kata lain, Perjanjian Lama tidak melihat Pendidikan Agama sebagai usaha penyaluran ilmu, tetapi suatu proses pengubahan hidup. Penguasaan pengetahuan hanyalah batu loncatan untuk menghasilkan perubahan hidup.

a. Isi Pendidikan Agama dalam Perjanjian Lama
Umat Yahudi pada umumnya dan setiap keluarga pada khususnya ditugaskan untuk menyampaikan kekayaan iman tentang bangsa pilihan Allah ini kepada generasi baru. Pusat Pendidikan Agama adalah Keluarga, terutama sang Ayah yang bertanggung jawab dalam Pendidikan Agama kepada keluarganya, seperti dinyatakan dalam kitab Ulangan 6:4-9.
Pengajaran Agama dalam PL berpusat pada Hukum Allah dan Korban melalui sistem imamat. Allah telah memberikan Sepuluh Hukum kepada umat Israel (Kel. 20:1-17) dan perintahkan untuk mengasihi Allah (Ul.6:4-9). Selain itu, juga adanya peraturan-peraturan yang mengatur tata ibadah dan hubungan sosial. Umat Israel harus melaksanakan hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang telah diberikan kepada mereka. Namun hukum-hukum tersebut hanya sasaran antara pengajaran tentang Korban.
Jadi sesungguhnya Perjanjian Lama secara orisinil mengajar kepada umat Allah untuk bersandar pada tahta anugerah Allah melalui sistem Korban. Melalui hukum-hukum yang diberikan Allah, umat Allah dibawa pada kesadaran bahwa diri mereka adalah orang berdosa yang memerlukan anugerah dan pengampunan dari Allah Juruselamatnya.

b. Pengajar Pendidikan Agama dalam PL
Allah sendiri sebagai pemrakarsa dan pengajar utama Pendidikan Agama dalam Perjanjian Lama (Hos.11:1-4). Dalam mengajar umat-Nya, Allah sering menggunakan empat golongan Pemimpin orang Israel, yakni: Para Imam (Bil. 3), Para Nabi (Yunus, Mikha, dsb), Kaum Bijaksana (Ams. 1-2, 6:1), dan Kaum Penyair (Mazmur). Disamping mereka, dalam mengajar kepada setiap keluarga dijalankan oleh Kepala Keluarga yaitu Suami dan Istri atau orang tua dari anak-anak. Anak laki-laki orang Yahudi juga mendapatkan pendidikan formal dalam sekolah Yahudi. Sedangkan anak-anak perempuan mendapatkan pengajaran dari Ayah mereka.

c. Metode Penyampaian Pendidikan Agama dalam PL
Tangung jawab yang berat sebagai ”bangsa pilihan” dalam mengajarkan Pendidikan Agama, orang Israel dituntut untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan. Perintah ini harus diajarkan berulang-ulang dari generasi ke generasi dan ini menjadi tanggung jawab sang Ayah untuk mengajarkannya kepada anak-anaknya.
Metode pengajaran yang digunakan antar lain adalah: metode menghafal (Ul. 6:4-9; Ams. 22:6;Maz.119:11,105), membagikan cerita kepada kaum muda tentang peristiwa-peristiwa bermakna (Yos.4:6-7;bnd Kel.12:24-27). Bahkan sekolah-sekolah formal Yahudi juga menggunakan metode hafalan. Anak laki-laki ketika berumur 6 tahun, mereka mempelajari huruf-huruf Ibrani. Setelah itu mereka melanjutkan sekolah di Beth Talmud untuk mempelajari Taurat Lisan yang terdiri dari Misyna, Talmud dan Haggadah. Mereka yang lulus di Beth Talmud inilah yang nantinya menjadi guru-guru disekolah-sekolah Yahudi tingkat Dasar. Mula-mula mereka harus menghafal 22 abjad Ibrani, kemudian menghafal kata-kata. Hal ini penting mengingat mula-mula bahasa Ibrani tidak mengenal huruf vokal. Dengan tradisi menghafal inilah kemurnian PL terjaga setelah bahasa Ibrani dibubuhkan vokal dalam tulisannya.

Pendidikan Agama dalam Perjanjian Baru
Penekanan terhadap keutamaan Pendidikan Agama juga menjiwai seluruh Perjanjian Baru. Tekanan ini terlihat jelas dalam diri dan pelayanan Yesus. Hidup dan pelayanan Yesus menjadi landasan Pendidikan Kristen. Salah satu gelar penting yang dikenakan kepada-Nya adalah ”Rabbi” (Mat. 26:25, 49; Mark. 9:5, dll).
Sebagai Guru Agung, Ia memulai pelayanan-Nya dengan mencari pribadi-pribadi yang akan didik menjadi murid-Nya (Yakobus, Yohanes, Petrus Andreas, dll). Yang ditemukan-Nya bukanlah orang yang hebat dan luar biasa, tetapi orang biasa yang penuh kekurangan dan kelemahan ~ yang lebih mengagetkan lagi yang namanya Yudas Iskariot (Luk.6:16).
Meskipun demikian, kehebatan Yesus sebagai Guru Agung justru terletak disini. Ia mampu melihat apa yang tidak diamati orang lain. Oleh sentuhan-Nya, orang-orang biasa yang tidak diperhitungkan dunia telah diperlengkapi-Nya, sehingga mampu bertindak untuk menghasilkan perkara-perkara yang teramat mengagumkan bagi siapa saja.
Kehebatan Yesus sebagai Guru/pendidik juga ditunjukkan melalui cara kerja-Nya. Kreatifitas dalam pelaksanaan tugas ditunjukkan. Ia telah menggunakan teknik pengajaran yang sangat bervariasi: ceramah, tanya jawab, lukisan, cerita, bahkan model pelatihan. Sisi lain dari Yesus sebagi Pendidik, terlihat juga dalam kecakapan-Nya menggarap konsep-konsep yang abstrak (Sorga, Neraka, Dosa, Pengampunan, Kerajaan Allah, kebenaran, keadilan, dst). Namun demikian, Yesus tidak pernah mengijinkan pengajaran mengenai masalah yang abstrak ini menjerumuskan-Nya kedalam diskusi yang bersifat spekulatif. Sebaliknya, persoalan yang abstrak tersebut justru dikaitkan dengan semua permasalahan praktis sehingga menjamah pergumulan hidup sehari-hari.
Dari semua ini, bagi-Nya pengajaran bukanlah soal penajaman penalaran belaka tetapi proses pemahaman yang harus menuntun kepada perubahan hidup. Keberhasilan pengajaran adalah menghasilkan hidup yang semakin berkenan kepada Allah.

Relevansi Teologis-Praktis bagi Guru Pendidikan Agama Kristen Masa Kini
dalam Memahami Tugas dan Fungsinya
Dalam memahami tugas dan fungsi Guru Pendidikan Agama Kristen masa kini ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan, antara lain; Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan bahwa kata ”Tugas” berarti, sesuatu yang wajib dikerjakan atau yang ditentukan untuk dilakukan; pekerjaan yang menjadi tanggung jawab seseorang; pekerjaan yang dibebankan. Sedangkan kata ”Fungsi” berarti; jabatan (pekerjaan) yang dilakukan. Disamping itu, kata Guru, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Dari definisi ini ada beberapa hal penting dalam memahami tugas dan fungsi Guru Pendidikan Agama Kristen, antara lain;
1. Motivasi dalam Mengajar: Berbicara tentang Guru berarti itu adalah sebuah Profesi. Profesi sering dikaitkan dengan hak. Apa yang menjadi motivasi anda mengajar? Panggilan atau karena terpaksa. Karena ingin memberikan sesuatu dari profesi atau menginginkan sesuatu dari profesi? Buang muatan-muatan yang tidak baik dalam diri kita (pikiran, nilai-nilai, kecurangan, dll) yang membebani kita dalam menghidupi tugas dan fungsi kita sebagai Guru.
2. Metode Yang Digunakan dalam Mengajar: Belajarlah dari Yesus Sang Guru Agung, yang kreatif menggunakan metode dalam mengajar (memenangkan perhatian, menggunakan pertanyaan, menggunakan ilustrasi, menggunakan ceramah, menggunakan model, Malcom S. Knowles= sistem pedagogi vs andragogi). Seorang pengajar haruslah memilih metode yang paling tepat untuk memperoleh perhatian dan mempertahankan minat dari murid. Setiap metode yang digunakan pengajar harus dapat membangkitkan perhatian kepada para murid untuk mendengar, melihat, mengatakan dan mengerjakan apa yang diajarkan kepada mereka. (Lihat, Ajarlah Mereka Melakukan, peny., Dr. Andar Ismail (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1999), 98.
3. Manfaat yang diperoleh dalam Mengajar: Di dalam setiap hak terdapat kewajiban. Semakin besar haknya, semakin berat pula tanggung jawab yang terkait di dalamnya. Temukan manfaat di dalam setiap tanggung jawab anda. Meskipun keadaan dimana anda mengajar keruh, jangan mau pikiran anda, tanggung jawab anda ikut keruh. Jangan hanya menuntut hak tetapi kewajiban dilupakan. Terlalu banyak orang yang terdiam terhadap kewajiban dan bersuara jika hak didiamkan.


Penutup
Beban dan tanggung jawab sebagai pengajar sangatlah besar. Namun kita harus belajar bersyukur. Sebab Tuhan yang memberi mandat untuk tugas ini dan Ia berjanji ”Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir jaman (Mat.28:20).” Kita juga harus pahami bahwa Tuhan tidak pernah menuntun kita kepada kesulitan yang mustahil untuk dipecahkan. Masalah, kesulitan dan tantangan pasti ada dalam menjalankan tanggung jawab. Karena itu pahamilah bahwa Allah butuh anda untuk membawa perubahan anak didik menjadi pribadi-pribadi yang mengalami perubahan hidup. Masa depan anak didik, lembaga/Sekolah juga bagian dari pergumulan anda.











Bibliografi:
1. Enklaar, E.G. Homrighausen. Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Mulia, 1982.
2. Boehlke, Robert R. Sejarah Perkembangan dan Praktek PAK dari Plato sampai Ig. Loyola, cetakan 3. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1994.
3. Graendorf, Werner C. Introduction to Biblical Christian Education. Chicago: Moody Press, 1988.
4. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,”Tugas” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
Jakarta: Balai Pustaka, 1996.
5. Kadarmanto, Ruth. Ajarlah Mereka Melakukan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
6. Sidjabat, B.S. Teori Belajar Aktif dalam Pembelajaran PAK dalam Situs Blogger STT Tiranus.

Selasa, 12 Agustus 2008

TINJAUAN UMUM TERHADAP CALVINISME

TINJAUAN UMUM TERHADAP CALVINISME

Oleh: Ev. Chornelius Sutriyono, S.Th

Berbicara tentang calvinisme maka itu berarti berbicara tentang iman Reformed.[1] Teologi Calvinisme atau iman Reformed berakar pada tulisan-tulisan John Calvin, khususnya yang diekspresikan dalam Institutes of the Christian Religion.[2] John Calvin (1509-1564) lahir di Noyon, Picardy, enam belas mil di sebelah utara timur Paris. Ia bertobat melalui kontaknya dengan kaum Protestan, kemungkinan besar pada tahun 1533 atau 1534, namun informasi yang rinci sangat kurang mengenai hal ini. Pada waktu itu, Calvin menolak “superstisi dari kepausan.”[3]

Bibliologi dalam ajaran Calvin

Alkitab dipandang sebagai aturan bagi iman. Keenam puluh enam kitab PL dan PB diakui memberikan “inspirasi ilahi, otoritas dan cukup sebagai patokan iman dan praktis yang tanpa salah.” Tradisi-tradisi dari Roma Katolik, Apokripa, dan Humanisme harus ditolak.[4] Ia cukup berisi segala sesuatu yang perlu untuk mengenal Allah dan tugas-tugas orang percaya terhadap Allah dan sesama manusia. Kewibawaan Alkitab terjamin oleh pekerjaan Roh Kudus.[5] Lebih lanjut ia memakai Alkitab juga sebagai buku petunjuk-petunjuk etis, sesuai dengan semangat Humanis, walaupun dengan tegas dalam konteks ajaran Luther.

Calvin memandang Alkitab berasal dari Allah sehingga memiliki otoritas ilahi di dalamnya. Baginya, Alkitab berasal dari Allah karena diinspirasikan oleh Allah sendiri. Karena inspirasi Allah inilah maka Alkitab memiliki otoritas intrinsik. Pada bagian ini ia tidak berbicara mengenai kesaksian internal yang memberikan otoritas kepada Alkitab sebab baginya otoritas itu muncul karena Alkitab diinspirasikan. Dengan demikian Alkitab membuktikan kebenarannya sendiri. Lebih jelas ia mengatakan bahwa Alkitab mengabsahkan dirinya sendiri. Dengan demikian dasar obyektif bagi keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Allah terletak kepada Alkitab itu sendiri.[6]

Soteriologi dalam ajaran Calvin

Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, ia dapat mencapai kebajikan melalui kuasa-kuasa alamiah, namun kejatuhan manusia ke dalam dosa telah mengubah hakikat manusia sehingga sekarang semua manusia berada di bawah kuasa dosa. Manusia telah kehilangan segala kebaikan dan tersandung sehingga bergelimang kemalangan dan kutuk.[7] Manusia tidak bebas lagi, sehingga ia memerlukan rahmat Allah. Semua perbuatan manusia pada hakikatnya adalah dosa dan manusia hanya dibenarkan karena rahmat Allah saja. Perbuatan baik tidak mempunyai andil apa pun dalam tindakan pembenaran Allah terhadap manusia berdosa (kerusakan manusia yang telah jatuh).[8]

Pembenaran Allah hanya dapat disambut oleh manusia dengan iman. Calvin menyatakan bahwa baik pembenaran maupun kelahiran kembali merupakan hasil dari persatuan orang percaya dengan Kristus melalui iman.[9] Iman mempersatukan orang percaya dengan Kristus di dalam suatu “kesatuan mistis” (di sini Calvin mengklaim kembali tekanan Luther atas kehadiran yang nyata dan pribadi dari Kristus di dalam diri orang-orang percaya yang dibangun melalui iman). Persatuan dengan Kristus ini mempunyai dampak rangkap dua yang disebut oleh Calvin sebagai anugerah ganda.

Pertama, persatuan antara orang percaya dengan Kristus membawa secara langsung pada pembenaran dirinya. Melalui Kristus, orang percaya dinyatakan menjadi benar dalam pandangan Allah. Kedua, oleh karena persatuan orang percaya dengan Kristus-dan bukan karena pembenaran atasnya-orang percaya itu mulai melakukan proses menjadi seperti Kristus melalui kelahiran kembali.

Disamping itu, Calvin menjabarkan predestinasi sebagai berikut; “Predestinasi disebut ketetapan Allah yang kekal, yang melaluinya Ia telah menetapkan di dalam diri-Nya apa yang akan terjadi dalam setiap individu umat manusia… hidup kekal ditetapkan sebelumnya bagi sebagian orang, dan penghukuman kekal bagi yang lain. Setiap orang, karena itu, diciptakan untuk salah satu dari tujuan ini, kita sebut Ia mempredestinasikan baik untuk hidup atau untuk mati.”

Calvin mengajarkan bahwa Allah, dalam tindakan predestinasinya, memilih orang-orang tertentu untuk keselamatan. Pemilihan itu sendiri berdasarkan pada istilah panggil (Yunani kaleo) yang berarti “memanggil keluar dari antara.” Calvin bersikeras bahwa pemilihan dan predestinasi merupakan suatu keharusan karena kejatuhan manusia. Apabila manusia itu mati dalam pelanggaran dan dosa-dosa (Ef. 2:1), maka merupakan suatu keharusan bagi Allah untuk berinisiatif menyelamatkan manusia. Manusia dalam kondisi tercemarnya sama sekali tidak mampu untuk bergerak ke arah Allah.

Bagi Calvin, predestinasi bukanlah suatu pendekatan deduktif yang didasarkan pada konsep yang sudah ada sebelumnya mengenai kedaulatan dan kemahakuasaan Allah. Dengan kata lain, predestinasi tidak dijadikan sebagai suatu doktrin abstrak berdasarkan penetapan Allah di dalam kekekalan-Nya, tetapi sebagai suatu refleksi atas misteri pengalaman manusia sebagaimana terlihat dari keragaman responnya terhadap anugerah keselamatan tersebut.[10]

Dengan kata lain, Calvin menempatkan doktrin-doktrin predestinasi di dalam konteks soteriologi, Calvin berusaha untuk menunjukkan bahwa fungsionalitas doktrin predestinasi sebagai dasar jaminan keselamatan dapat ditimba oleh setiap orang percaya. Hal ini bisa terjadi apabila kita memulai pemahaman tentang predestinasi dengan breangkat dari latter signs atau tanda-tanda keselamatan yang Allah nyatakan kepada kita, dan dengan memandang kepada Yesus Kristus sebagai the mirror of election.[11]

Eklesiologi dalam ajaran Calvin

Calvinisme membela teokrasi di dalam gereja.[12] Gereja adalah milik Kristus dan Pendeta bukan pegawai pemerintah, melainkan pelayan Firman yang bertanggung jawab kepada Tuhan.[13] Negara harus bersama-sama dengan gereja untuk menegakkan keadilan serta memuliakan Allah. Kedua-duanya harus berdampingan dan masing-masing mendapat tugas tertentu dari Allah yang harus dipertanggungjawabkannya kepada Tuhan Allah.[14]

Mengenai sakramen, hanya ada dua yang ditetapkan oleh Kristus Tuhan kita dalam Injil, yaitu Baptisan dan Perjamuan Malam Tuhan.[15] Keduanya tidak boleh dilayankan selain oleh seorang pelayan Firman yang diteguhkan dengan cara yang sah.[16] Dalam Perjamuan kudus, Calvin berusaha untuk mencari jalan tengah antara ajaran Luther dan Zwingli.[17] Ia menolak bahwa Kristus hadir secara jasmani dalam Perjamuan Kudus dengan cara yang diajarkan Luther, yaitu bahwa kehadiran Kristus terikat pada roti dan anggur dan terlepas dari iman orang yang menerima Perjamuan Kudus (menurut pandangan Luther, yang sesuai dengan teologi Abad Pertengahan, orang yang tidak percaya pun menerima tubuh dan darah Kristus, walaupun bukan demi keselamatan melainkan demi kebinasaan).[18]

Pada pihak lain ia juga menolak bahwa Perjamuan Kudus hanya tindakan pengakuan jemaat yang memupuk semangat iman saja, seperi dikatakan Zwingli. Bagi Calvin, Perjamuan Kudus (dan Baptisan) adalah tanda yang diberikan Kristus untuk menunjuk pada penyelamatan manusia, yang memeteraikan keselamatan ini dalam diri orang percaya. Terlepas dari iman Perjamuan Kudus roti dan anggur melulu. Akan tetapi dalam iman keselamatan itu menjadi begitu nyata sehingga Calvin dapat mengatakan bahwa Kristus sungguh-sungguh hadir, bukan dengan tubuh-Nya (karena tubuh-Nya ada di surga) tetapi dalam Roh Kudus.

Kristologi dalam ajaran Calvin

Dalam pengakuan iman gereja Perancis (1559), bahwa Yesus Kristus, yang adalah hikmat Allah dan Anak-Nya yang kekal, telah mengenakan daging, untuk menjadi Allah dan manusia dalam satu Pribadi. Dia menjadi manusia yang serupa dengan kita, yang dapat menderita dalam tubuh dan jiwa. Hanya saja, Dia suci, tanpa noda apapun. Dan menurut kemanusiaan-Nya Dia benar-benar keturunan Abraham dan Daud, meskipun Dia dikandung oleh kekuatan tersembunyi Roh Kudus.

Kedua tabiat itu digabungkan dan disatukan benar-benar dan secara tak terpisahkan dalam satu Pribadi yang tunggal, yaitu Yesus Kristus. Namun, masing-masing tetap memiliki sifatnya sendiri dan tetap bersifat tak diciptakan, tidak terhingga, dan memenuhi segala sesuatu; begitu pula tabiat kemanusiaan tetap bersifat berhingga dan memiliki bentuk, ukuran, dan sifatnya sendiri. Dan kendati Yesus Kristus, ketika Dia bangkit, telah memberi tubuh-Nya ketidakfanaan, namun dia tidak meniadakan keaslian tabiat-Nya. Maka kita memandang Dia dalam keilahian-Nya dengan cara yang tidak menanggalkan kemanusiaan-Nya.

Hal ini berbeda dengan pandangan Lutheran mengenai Kristologi. Doktrin Luther akan kehadiran fisik Kristus dalam Perjamuan Kudus membawa pada pandangan Lutheran yang khas yaitu communication idiomatum, yang menyatakan bahwa “setiap nature Kristus mengalirkan nature yang lain ‘perichoresis,’ dan bahwa kemanusiaan-Nya mengambil bagian dalam atribut-atribut ilahi-Nya. Mereka berpegang bahwa sifat mahakuasa, mahatahu dan mahahadir diberikan pada nature manusia pada saat inkarnasi.[19]

No.

Positif

Negatif

1.

2.

3.

4.

· Bibliologi: Alkitab berasal dari Allah, memiliki otoritas dan adalah firman Allah.

· Soteriologi: Semua perbuatan manusia pada hakikatnya adalah dosa dan manusia hanya dibenarkan karena rahmat Allah saja.

· Predestinasi dan pemilihan merupakan konsep Alkitabiah.

· Eklesiologi: Pandangan mengenai Perjamuan (Kudus n Baptisan) Alkitabiah.

· Kristologi: Pandangan terhadap Kristologi Alkitabiah. Ia memahami bahwa Kristus adalah anak manusia dan ilahi.

vAlkitab dipahami sebagai petunjuk-petunjuk dalam hal etis, hanya sebatas patokan iman serta usaha untuk mengenal Allah. Bahayanya adalah usaha manusia dan rasionalisme manusia.

vSoteriologi: -

vEklesiologi: Keduanya (perjamuan kudus dan baptisan) tidak boleh dilayankan selain oleh seorang pelayan Firman yang diteguhkan dengan cara yang sah. Apakah ini Alkitabiah? Seandainya tidak ada bagaimana?

vKristologi: Mengenai Kristologi ia memandang adanya dua tabiat (manusia dan ilahi) yang melebur/bergabung menjadi satu dan tetap mempertahankan keasliannya. Bagaimana hal ini bisa terjadi dan bagaimana prosesnya?



[1]Paull Enns, The Moody Handbook of Theology, jil. 2, pen., Rahmiati Tanudjaja, peny., Sri Lestarini, Elisabeth Yuliasari (Malang: Literatur SAAT, 2004), 103.

[2]Ibid.,

[3]Ibid.,

[4]Ibid., 107.

[5]F.D. Wellem, “Calvinisme,” dalam Kamus Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia,

2004),52.

[6]Christian Sulistio, Kesaksian Internal Roh Kudus Menurut John Calvin dalam Veritas 3/2
(Oktober 2002):247-248.

[7]John Calvin, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme, peny., Th. Van den End (Jakarta:BPK Gunung Mulia,2001), 6.

[8]Anthony A. Hoekema, Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah, pen., Irwan Tjulianto, peny., Hendry Ongkowidjojo (Surabaya: Momentum, 2003), 243.

[9]Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, pen., Liem Sien Kie (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 146.

[10]Henry Efferin, Doktrin Pilihan dari Perspektif Reformed Kontemporer dalam Veritas 3/1 (April 2002): 17.

[11]Kalvin S. Budiman, Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi dalam Veritas 2/2 (Oktober 2001): 174.

[12]Ibid., 53.

[13]Christian de Jonge, Gereja Mencari Jawab: Kapita Selekta Sejarah Gereja (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1994), 30.

[14]Penjelasan lebih lanjut lihat dalam TH. Van Den End, Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986), 195.

[15]John Calvin, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme, 133.

[16]Penjelasan lebih lanjut lihat dalam John Calvin, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme.

[17]Ibid, 31.

[18]Penjelasan lebih lanjut lihat dalam H. Berkhof, Sejarah Gereja, peny., I.H. Enklaar (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 175.

[19]Louis Berkhof, Teologi Sistematika:Doktrin Kristus (Surabaya: Momentum, 2002), 15.